Baiti melihat kebelakang ada sebuah cahaya yang menyilaukan dengan cepat ke arah nya. Cahaya itu semakin dekat dan terang.
Sebuah truk yang melaju cepat ke arah nya dan......
BRAK
BRUK
KLANG
TCCIIIIIITTT
Baiti berguling-guling di aspal dan terlempar jauh dari motornya. Helm yang di kepalanya terlepas akibat benturan tersebut. Banyak darah yang mengalir di kepalanya, banyaknya luka luka di tubuhnya sehingga tidak memungkinkannya untuk berdiri.
Pandangan nya mulai kabur, dia melihat seseorang keluar dari truk tersebut, dengan wajah yang seram.
"Hahaha hai" sapa nya dengan senyuman.
"L-lo badut itu kan?" Tanya Baiti gagap karena udara di sekitar terasa menipis.
"Ya itu gue!"
"Sebenarnya gue kasian liat lo begini, tapi siapa suruh lo cari tau gue ya...jadinya begini deh lo. Tanpa lo berurusan dengan gue lo juga akan mati hahaha " tawanya yang menyeramkan membuat Baiti sedikit takut, dirinya yang sudah tidak berdaya bagaimana mungkin dia bisa melawan badut itu jika dia berbuat sesuatu terhadap nya.
"Hujan makin deres aja, gue pergi dulu. Bye bich!" Ucapnya lalu pergi.
Baiti menatap langit inikah akhirnya?
"
Perang telah usai, aku bisa pulang. Setelah belasan tahun aku hidup dengan beban yang menghimpit hidup ku kini aku bisa lebih tenang tanpa beban. Selamat jalan semua nya, lupakan lah aku berbahagia lah kalian tanpa ku. Hahaha sekarang sepertinya aku pulang seperti yang aku minta dulu"
Perlahan-lahan matanya mulai terpejam.
"Ada dimana ruangan pasien yang bernama Baiti Jannati Abimana?" Tanya Gus Alvian di meja resepsionis dengan wajah khawatir nya.
"Pasien ada di lantai dua sedang menjalani operasi" ucap sang resepsionis.
Gus Alvian dan keluarga nya serta keluarga Baiti menuju ruang UGD di lantai dua. Dengan tergesa Sega mereka sampai dan bertanya ke seorang pemuda yang ada di bangku depan ruangan UGD
"Dek, kamu yang tadi nelpon saya?" Tanya Gus Alvian ke pemuda tersebut yang tidak asing baginya.
"Gus Alvian! Baiti lagi operasi" ucapnya.
"Udah lama?"
"Udah 1 jam lebih sedikit Gus" ujar pemuda itu sambil melihat jam tangan nya.
"Terimakasih telah menyelamatkan istri saya, kalau tidak ada kamu pasti dia sudah tidak ada" mata Gus Alvian berkaca kaca.
"Sama sama Gus, lagian tadi juga saya mau kerumah sakit ini untuk menjenguk teman saya yang lagi operasi habis kecelakaan" air mata pemuda itu luruh yang sudah di tahan nya dari tadi.
"Nduk kamu yang sabar ya" ucap Kyai Yusuf sambil memegang bahunya.
Kini kedua keluarga itu larut dalam kesedihan.
Gus Alvian teringat dengan sebuah pesan tempo lalu saat ban mobilnya pecah. Jika diingat lagi dia terlalu bodoh bahwa pesan itu hanya tipuan belaka, kini malah jadi Boomerang baginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Al Dan Bai
Genç KurguSeorang Gus yg dijodohkan dengan ketua geng motor. Tanpa Gus sadari bahwa geng motor itu bukanlah geng motor sembarangan. Seorang ketua geng motor yg duduk di bangku SMA hanya karena memiliki tugas dia dan sahabatnya harus kembali lagi duduk di ban...
