part 28

3 1 0
                                        


Seminggu sudah berlalu tapi Baiti tak kunjung membuka matanya. Kini sahabat sahabatnya datang berkunjung setelah di beri tahu oleh Ning Razeina tadi pagi. Ning Razeina sengaja memberi tahu mereka setelah seminggu berlalu karena dokter menyarankan hal tersebut.

Sahabat Baiti duduk melingkari ranjang nya.

"Bai...jadi ini maksud  pesan kamu tempo lalu?" Tanya Kurnia.

"Padahal kami mau memberitahu kan kabar baik, eh yang ada kami dapat kabar buruk" raut wajah Rissa sedih dengan perihal ini.

"Kamu mau tidur sampai kapan? Jangan lama lama ya, nanti kamu gak bisa makan makanan gratis dong selama hampir seminggu" kekeh Tiara tapi raut wajah itu berubah menjadi sedih.

Sahabat laki-laki nya hanya duduk di sofa menatap sahabat kecilnya terbaring sakit dengan selang infus dan oksigen.

"Kamu tau Bai? Kami sebentar lagi mau nikah, dan anehnya beda jarak sehari. Aku yakin kamu pasti tau sama siapa kami akan menikah kan ?" Ucap Dara. 

"Kamu pasti datang kan? Kalau kamu gak datang kami kecewa loh, masa di nikahan Raisa aja kamu datang, di kami enggak" Inovi menghela nafas kasar, dia sedikit merindukan sahabatnya ini.

Mereka hanya melontarkan pertanyaan saja tanpa menerima jawaban dari sang empu. Setelah bercengkrama dengan Baiti mereka pamit pergi.

"Bai kami pergi dulu ya, nanti kami jenguk kamu lagi" pamit Raisa dan sahabatnya.

Tit  tiit tiiit tit

Tiiit tit tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit

Di layar monitor terpampang jelas garis lurus. Sahabat Baiti yang semula nya mau pamit pulang kini di buat khawatir sekaligus sedih. Dengan cepat Gus Alvian memencet tombol darurat.

Tak lama kemudian datanglah dokter Sinta dengan para suster.

"Untuk keluarga pasien mohon keluar sebentar" ujar dokter Sinta, mereka semua keluar dari ruangan.

Dengan cepat dokter Sinta memeriksa kondisi Baiti. Dengan cepat dokter Sinta mengambil tindakan darurat.

"Suster tolong defibrillator nya di hidupkan, buat dengan tekanan sedang" ucap dokter Sinta, suster tersebut langsung melakukan apa yang di suruh.

*Gak tau author nama alat yg untuk nyetrum itu 🗿

Dokter Sinta menggesekkan gesekkan benda tersebut lalu meletakkan ny di dada Baiti. Tubuh tersebut tersentak akibat aliran listrik dari kedua benda tersebut.

"Lagi! Kali ini dengan tekanan tahap akhir"

Dokter Sinta melakukan nya lagi dan lagi. Tapi hasilnya nihil, Baiti sudah tak terselamatkan lagi. Dokter Sinta dan para suster keluar dari ruangan itu.

"Dok gimana keadaan istri saya?" Tanya Gus Alvian dengan wajah khawatir.

"Hah...maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin, pasien tidak dapat terselamatkan" ujar dokter Sinta.

Gus Alvian jatuh terduduk di lantai, air matanya jatuh dengan deras. Suara isak tangis nya menggelegar di koridor bersama dengan tangisan sahabat Baiti. Keluarga Gus Alvian dan Baiti datang, dengan raut perasaan campur aduk.

"Nak, gimana kondisi Baiti?" Tanya bunda Aira ke Gus Alvian.

"Tante..." Ucap lirih Rissa, bunda Aira menatap para sahabat Baiti.

Wajah bunda Aira meminta penjelasan ke mereka. Rissa menggelengkan kepalanya, bunda Aira terduduk di lantai tidak menerima takdir ini. Anak nya sudah tiada. Annisa memeluk sang bunda, mereka menangis sejadi jadinya.

Al Dan Bai Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang