"ayah! Dengerin aku dulu!"
"Mau denger apa lagi Zul! Semua udah ayah jelaskan bukan?!" Bentak ayah Jadid ke Zulkifli.
"Ayah...ku mohon maaf kan lah Baiti di masa lalu. Aku tau dia salah tapi gak gini juga caranya yah!" Bentak Zulkifli, ia menyugar rambut nya dengan kuat.
"Jangan membuat ayah marah padamu Zul! Sudah cukup adik mu saja yang seperti itu, jangan kamu!"
Tangan Zulkifli tergenggam erat. Ia sudah berbuat banyak hal, tapi hati ayah nya seperti batu. Keras, tidak mau mendengarkan.
"Yah... selama ini dia yang selalu membantu ayah menolong perusahaan. Tidak bisakah ayah sedikit saja peduli padanya?"
"Tidak, dan tidak akan pernah dia aku anggap anak"
Ayah Jadid menutup pintu ruang kerjanya dengan keras. Zulkifli kembali ke ruangan nya, ia mengacak-acak sofa di ruangan nya.
"Maaf kan abang dek... maafkan abang..."
Dia duduk di sofa dengan perasaan berkecamuk. Dia tidak bisa membantah ayah nya lagi.
•
•
Setelah selesai makan, Baiti meminum obat yang di bawa Alvarez semalam. Obat itu harus rutin di minum. Tidak boleh kelewatan.
Ia melihat pria yang duduk di sofa menunggu nya sambil memperhatikan nya.
"Lo gak ada kegiatan apa kek? Muak gue liat muka lo" ucap Baiti kesal
Gus Alvian menghela nafas kasar "udah aku bilang kan ke kamu, kalau aku ini suami kamu. Aku harus siap siaga mendampingi mu"
"Ck! Mana buktinya kalau lo suami gue?"
Gus Alvian berjalan mendekat ke ranjang. Dia menunjuk vidio ijab kabul mereka di masjid Al Aqsa saat dia menempuh studinya di sana.
"Wahai ananda Alvian Zaderta Biantara, saya nikahkan engkau dengan putri saya Baiti Jannati
Abimana binti Jadid Abimana dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas 50 gram dan uang tunai sebesar 20 juta rupiah di bayar tunai" dengan sekali tarikan nafas ayah Jadid mengucapkan ijab kabul
Gus Alvian mengambil nafas lalu menghembuskannya. "Saya terima nikah dan kawin nya Baiti Jannati Abimana binti Jadid Abimana dengan mas kawin yang telah di sebutkan di bayar tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah" orang-orang yang berada di situ menyaksikan langsung mengucapkan hamdalah.
Vidio itu selesai. Baiti hanya manggut-manggut saja.
"Kapan vidio ini di ambil?"
"Saat kamu lagi di luar kota, sepertinya umur kamu 23 tahun saat itu. Saya juga lagi ada di tugas di sana, karena ayah kamu juga ngebet banget pengen nikahin kita, ya...jadi nya dia datang ke tempat aku" jawab Gus Alvian
"23 tahun?"
"Iya. Sekarang kamu mengingat kalau diri kamu itu 18 tahun kan? Tapi sebenarnya sekarang kamu 25 tahun."
"Oh"
Gus Alvian tersenyum manis. Mungkin ia sekarang sedikit diterima oleh Baiti. Walaupun sedikit.
"Kapan gue boleh pulang?" Tanya Baiti antusias.
"Mungkin 1 atau 3 minggu lagi"
"Bisakah sekarang saja pulang nya?" Pinta Baiti ia sudah muak disini.
"Tidak bisa. Kita harus ikutin perkataan dokter"
Baiti berdecak sebal. Gus Alvian pamit untuk pergi ke masjid di dekat rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Al Dan Bai
Fiksi RemajaSeorang Gus yg dijodohkan dengan ketua geng motor. Tanpa Gus sadari bahwa geng motor itu bukanlah geng motor sembarangan. Seorang ketua geng motor yg duduk di bangku SMA hanya karena memiliki tugas dia dan sahabatnya harus kembali lagi duduk di ban...
