PERTEMUAN YANG CANGGUNG

29 11 4
                                        

*KEESOKAN HARI*

Hari itu ruang kerja dipenuhi aroma kopi segar. Yoongi sedang merapikan kertas ketika pintu diketuk pelan. Yoongi langsung tahu siapa yang datang, bahkan sebelum suara itu terdengar.

“pak, boleh saya masuk?”
Suaranya lembut, selalu membuat hatinya bergetar.

“Masuklah,” jawabnya, berusaha terdengar biasa.

Gadis itu masuk dengan senyum kecil, lalu meletakkan beberapa buku di atas meja. “Saya kembalikan referensi yang kemarin dipinjamkan.”

Yoongi menatapnya sejenak, lalu memperhatikan sesuatu. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada kantung tipis di bawah matanya.
“kamu tidak tidur semalam?” tanyanya tiba-tiba.

Yejin sedikit terkejut, lalu tersenyum kikuk. “Sedikit. Karena ada tugas yang harus diselesaikan.”

Yoongi menghela napas, lalu tanpa berkata apa-apa, berjalan ke rak samping. Tak lama, Yoongi kembali dengan sebuah termos kecil dan cangkir. Yoongi menuangkan teh hangat ke dalamnya, lalu meletakkannya di hadapan sang gadis.
“Minumlah. Teh chamomile, bisa sedikit menenangkan.”

Yejin lagi-lagi di buat terdiam akan tindakan yang di lakukan Yoongi barusan, Yejin menatap cangkir itu dengan mata melebar. “Pak… Anda ingat? Saya pernah bilang kalau chamomile selalu menolong saya tidur…”

Senyum samar muncul di bibirnya. “Tentu saja saya ingat. Kamu pikir saya tidak memperhatikanmu diam-diam?”

Pipi Yejin seketika merona, matanya berkilat haru. Yejin menggenggam cangkir itu erat, seakan bukan hanya meminum teh, tapi menerima sesuatu yang jauh lebih berharga.

Beberapa menit mereka bicara ringan. Sesekali Yoongi memperhatikan hal-hal kecil mengingat buku favorit Yejin, cara Yejin suka menulis catatan dengan tinta biru, bahkan kebiasaan Yejin menggigit bibir ketika gugup. Semua detail itu keluar dalam percakapan, membuat Yejin itu semakin menyadari: perasaannya benar-benar diperhatikan.

Namun, ada satu momen ketika keheningan jatuh.
Yoongi menatapnya lekat, lebih lama dari biasanya. Lalu, dengan suara rendah ia berkata,
“Saya pernah takut membuka hati saya lagi. Tapi kamu… entah bagaimana, selalu membuat saya merasa hidup. Kamu tahu? Saya bahkan mulai mengingat detail-detail kecil tentang kamu lebih dari yang seharusnya dan itu di luar kebiasaan saya.”

Yejin membeku, jantungnya berdetak kencang.
“Pak…” bisiknya, nyaris tak terdengar.

Ia menunduk sejenak, lalu menarik napas dalam. “Belum saatnya aku mengatakannya dengan lantang. Tapi ketahuilah… aku sedang belajar mencintaimu. Dengan caraku sendiri, perlahan.”

Keheningan menyelimuti ruang kerja itu, tapi bukan keheningan yang asing. Justru sebaliknya keheningan yang hangat, seolah dunia memberi mereka ruang untuk bernapas bersama.

Di luar, matahari mulai condong ke barat, menebarkan cahaya emas ke dalam ruangan. Dan di antara cahaya itu, dua hati yang masih canggung perlahan mulai mendekat, bukan dengan kata-kata besar, tapi dengan perhatian kecil yang lebih jujur dari segalanya.

*PAGI BERIKUTNYA*

Hari itu ruang kuliah terasa berbeda. Kursi di barisan tengah kosong kursi yang biasanya ditempati gadis itu.
Hanya terlihat teman sebangku yang biasa Yejin duduk bersamanya, sementara Soobin laki-laki yang sudah di tandai oleh Yoongi pun tidak masuk hari ini membuat Yoongi berfikir negatif. Tapi Yoongi mencoba mengajar seperti biasa. Slide presentasi berjalan, suara penjelasannya terdengar stabil, tapi matanya sesekali melirik ke arah bangku kosong itu.

"Dia tidak masuk?" pikirnya resah.

Mahasiswa lain sibuk mencatat, tidak menyadari bahwa pikiran dosen mereka melayang entah ke mana. Kalimat yang biasanya lancar kini beberapa kali terputus. Ia bahkan salah menuliskan satu rumus di papan, membuat mahasiswa saling berpandangan heran.

Future HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang