KEYAKINAN

29 11 6
                                        

"Maafin saya yah sudah buat kamu kesal hari ini!" Ucap Yoongi lembut sambil menarik tubuh Yejin lalu mendekapnya erat, Yejin yang masih kesal entah kenapa mendengar ucapan Yoongi kini Yejin menangis

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maafin saya yah sudah buat kamu kesal hari ini!" Ucap Yoongi lembut sambil menarik tubuh Yejin lalu mendekapnya erat, Yejin yang masih kesal entah kenapa mendengar ucapan Yoongi kini Yejin menangis.

"Loh kok malah nangis, coba jelasin salah saya dimana biar saya bisa paham, dan gak akan mengulanginya lagi, biar kamu gak salah paham sama saya!"

"Masa hal kaya gini aja harus saya yang ngejelasin sih pak!" Ucap Yejin sambil menghentakan kedua kakinya karena kesal, saking kesalnya Yejin mendorong Yoongi agar menjauh darinya.

"Saya udah keburu badmood sama Bapak, saya mau pulang kalau begitu!"

"Memangnya ada saya ngizinin kamu buat pulang, duduk!" Ucap Yoongi tiba-tiba menjadi dingin membuat Yejin entah kenapa menjadi ciut nyalinya saat mendengarnya.

Yang awal berani karena kesal tapi seketika menghilang keberanian Yejin.

Dengan patuh Yejin menuruti perintah Yoongi tanpa berkata apapun.

"Good girl!" Ucap Yoongi lalu menghampiri Yejin yang duduk di sofa.

Yoongi pun duduk di samping Yejin dan berkata,

"Apapun yang ingin kamu katakan katakan saja jangan di pendam, biar saya tahu dan paham apa yang kamu inginkan, oke karena kamu sudah lebih tenang, biarkan saya menjelaskan dari versi saya agar masalah salah paham diantara kita cepat selesai, kamu mau dengerin!" Ucap Yoongi.

"Yaudah jelasin, kenapa tuh ulet keket datang keruangan Bapak, keliatan banget gatel dan capernya sama Bapak tau gak sih, tapi kayanya Bapaknya aja yang kesenengan di deketin ulet keket itu, buktinya tadi pas saya datang duduknya deketan!" Ucap Yejin.

"Astaga hahaha... tadi dia datang buat minta tolong sama saya buat ngasih pengarahan beberapa materi yang dia kurang paham, terlepas apa yang tadi kamu bilang, saya sama sekali gak merhatiin dia sama sekali, karena saya bukan tipe pria yang seperti itu, karena saya suka nya sama kamu!" Ucap Yoongi dengan mimik wajah yang datar tanpa ekspresi.

Mendengar ucapan Yoongi Yejin terdiam sejenak mencerna ucapan yang tiba-tiba di katakan Yoongi barusan, pasalnya baru kali ini Yejin mendengar langsung. Ada rasa tidak percaya jika itu keluar langsung dari mulut Dosen yang dingin tapi sayangnya Yejin cinta duluan pada Yoongi.

"Wah...wah...ternyata sekarang Bapak sudah pandai bicara seperti itu, belajar dari mana, apa jangan-jangan Bapak juga bicara kaya gitu ke Bu Luna juga!"

Tanpa menjawab ucapan Yejin, Yoongi malah duduk mendekat di samping Yejin
Menatap Yejin lama dan kini jarak keduanya sangat dekat.

Tanpa menjawab ucapan Yejin, Yoongi malah duduk mendekat di samping YejinMenatap Yejin lama dan kini jarak keduanya sangat dekat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Yejin mencium Yoongi sekilas lalu berkata,

"Bapak tuh punya saya!" Ucap Yejin setelah mencium Yoongi dan saat ingin duduk kini,

Mendorong Yejin hingga tersudut di ujung sofa lalu,

Mendorong Yejin hingga tersudut di ujung sofa lalu,

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yejin bisa merasakan napasnya menyatu dengan napas Yoongi, begitu dekat hingga jarak di antara mereka lenyap tanpa sisa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yejin bisa merasakan napasnya menyatu dengan napas Yoongi, begitu dekat hingga jarak di antara mereka lenyap tanpa sisa. Saat bibir mereka akhirnya bertemu, dunia luar menghilan tak ada suara, tak ada hiruk-pikuk, hanya kehangatan yang menjalari hati mereka.

Ciuman yang di berikan Yoongi di rasakan Yejin begitu lembut, namun penuh keyakinan. Bukan sekadar pertemuan dua bibir, melainkan ada bahasa jiwa yang tak membutuhkan kata. Ada getaran rasa sayang yang tumbuh perlahan semakin hari semakin dalam, dan ada janji diam-diam Yoongi buktikan pada Yejin jika dirinya berusaha sedang meyakinkan diri jika Yejin adalah tujuannya.

Detik itu, Yoongi menyadari bahwa yang ia genggam bukan sekadar rasa sesaat. Ciuman yang Yoongi lakukan sekarang pada Yejin adalah rumat tempat pulang yang selama ini ia cari dalam sunyi. Dan dalam dekapnya, Yoongi tahu… cinta tak lagi hanya sekadar mimpi asa semata.

Ruang kerja itu sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terdengar jelas. Lampu meja menerangi wajah pria itu seorang dosen yang biasanya tampak tegas dan berwibawa, kini justru terlihat rapuh. Bibirnya masih terasa hangat, bekas ciuman yang barusan terjadi dengan gadis yang duduk di hadapannya.

Ia menutup mata sejenak. Dalam keheningan itu, bayangan masa lalu datang menyerbu. Senyum seseorang yang pernah ia cintai, janji-janji yang tak pernah ditepati, dan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Apakah aku benar-benar pantas merasakan ini lagi? batinnya bergetar.

“pak…” suara lirih gadis itu memecah lamunannya. Wajahnya memerah, matanya menunduk, tapi ia tak beranjak. “Barusan itu… apa artinya untukmu?”

Yoongi menatapnya dalam-dalam. Ada gejolak yang sulit ia jelaskan. “Saya… sudah lama menahan perasaan ini. Tapi Saya juga takut.” Suaranya berat, hampir bergetar. “Takut mengulang luka yang sama. Takut membuatmu menunggu, seperti aku pernah ditinggalkan di masa lalu.”

Gadis itu terdiam, lalu perlahan menggenggam tangannya. Jemari halus itu terasa begitu hangat. “Saya bukan dia,” ucapnya mantap. “Saya bukan masa lalumu. Saya adalah seseorang yang ingin berjalan bersama anda ke depan. Jika anda terus menoleh ke belakang, anda tak akan pernah melihat saya yang ada di sini.”

Pria itu terdiam. Kata-kata gadis itu menembus lapisan hatinya yang paling dalam. Ia merasakan getaran halus yang sama sekali berbeda dari rasa sakit masa lalu ini adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang tulus.

Dengan suara pelan, ia akhirnya berkata, “Kamu benar… saya terlalu lama hidup dalam bayangan. Tapi sejak saya menatapmu, sejak saya mendengar tawamu, ada sesuatu dalam diri saya yang ingin hidup lagi.”

Air mata menitik di sudut mata gadis itu. “Kalau begitu… biarkan saya jadi rumah baru pak. Saya tak bisa menjanjikan semuanya sempurna, tapi saya bisa menjanjikan satu hal: saya tak akan meninggalkanmu.”

Dosen itu menarik napas panjang, lalu menariknya ke dalam pelukan. Hatinya bergetar hebat, tapi kali ini bukan karena luka melainkan keberanian untuk melepaskan masa lalu. “Mulai sekarang,” bisiknya, “kamu bukan hanya murid saya, bukan hanya perempuan yang kucium… tapi kamu adalah calon istriku. Dan saya akan belajar mencintaimu tanpa rasa takut lagi.”

Mereka kembali saling menatap, dan saat bibir mereka bersatu sekali lagi, ruang kerja itu tak lagi terasa berat oleh bayangan masa lalu. Sore itu, ruangan penuh kertas dan buku menjadi saksi lahirnya sebuah awal yang baru.

Ini adalah langkah berani yang Yoongi ambil semoga hatinya tidak goyah...

To be continued...

Ayo like komennya...😅💜💜💜

Future HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang