UNDANGAN TAK TERDUGA

35 11 33
                                        

Keesokan harinya, Yejin kembali hadir di kelas. Wajahnya sudah jauh lebih segar, meski masih tampak sedikit pucat. Yoongi, dari meja depan, berusaha menahan senyum yang nyaris muncul setiap kali matanya bertemu dengan Yejin.

Setelah kelas berakhir, Yejin menghampirinya dengan langkah ragu. “Pak… apakah ada waktu sebentar?”

Yoongi menoleh, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. “Tentu. Ada apa?”

Yejin menggenggam tasnya erat, lalu menunduk sebentar sebelum akhirnya bicara.
“Saya… ingin menyampaikan sesuatu. Kakak saya… dia ingin bertemu dengan Anda.”

Yoongi terdiam. Kata-kata itu jatuh begitu saja, namun terasa berat.

“Kakakmu?” ulangnya, mencoba memastikan.

“Ya,” jawab gadis itu, suaranya pelan. “Dia tahu… tentang kita. Mungkin tidak semuanya, tapi cukup untuk membuatnya ingin bicara langsung dengan Anda. Katanya, kalau memang saya akan… melangkah sejauh ini, dia ingin mengenal Anda lebih dulu.”

Sejenak, dunia seolah berhenti. Yoongi merasakan gelombang perasaan yang bercampur: gugup, cemas, sekaligus hangat. Pertemuan dengan keluarga adalah sesuatu yang nyata sebuah tanda bahwa hubungan mereka tidak lagi sekadar bayangan atau perasaan yang mereka sembunyikan di balik dinding ruang kerja. Bukankah ini yang Yoongi mau bertemu dengan keluarga Yejin

Monolog batinnya bergemuruh:
"Ini… lebih cepat dari yang kubayangkan. Aku bahkan belum berani jujur sepenuhnya padanya, tapi keluarganya sudah mengetahuinya. Apa aku siap? Apa aku bisa berdiri di hadapan mereka dengan semua masa laluku yang belum tuntas?"

Namun ketika menatap wajah Yejin—tatapan polos penuh keyakinan—Yoongi tahu jawabannya.

Dengan suara dalam yang Yoongi usahakan tetap tenang, Yoongi berkata, “Baik. Katakan pada kakakmu, saya akan menemuinya. Bersama dengan keluarga saya kapan pun ia mau.”

Yejin tampak lega, bibirnya membentuk senyum kecil. “Terima kasih, Pak. Saya tahu ini tidak mudah… tapi bagi saya, ini penting.”

Yoongi mengangguk, meski di dalam dadanya badai terus berkecamuk. Saat Yejin itu melangkah pergi, Yoongi berdiri terpaku, menatap punggungnya yang menjauh.

"Jadi inilah saatnya. Tidak ada lagi alasan, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Jika aku ingin masa depan dengannya… aku harus berani berdiri di hadapan keluarganya, sekuat apa pun ketakutan yang menghantui."

*MALAM HARI*

Yoongi memenuhi undangan untuk menemui kakaknya Yejin sendirian

"Tenang Ini hanya pertemuan biasa. Kakaknya ingin memastikan niatmu baik. Kau hanya perlu menjelaskan dengan jujur." Ucap Yoongi menyakinkan diri.

Namun ketika pintu rumah itu terbuka, seluruh keyakinannya runtuh seketika.

Di hadapannya berdiri seorang pria wajah yang dulu begitu akrab, kini kembali hadir seperti hantaman masa lalu. Mata itu, senyum itu, bahkan sikap tenangnya… semua masih sama.

Jantung Yoongi nyaris berhenti. Bibirnya kelu, hanya mampu berbisik lirih:
“…Kau?”

Sementara pria itu menatapnya dengan sorot yang sulit dibaca—antara terkejut, marah, dan getir.

Yejin muncul dari balik pintu, ceria menyambut, “Pak, ini kakak saya!”

Ia hanya mampu menatap tak percaya.
Kakak dari gadis yang kini Yoongi sedang perlahan mencintainya… ternyata adalah orang yang dulu pernah mengisi hidupnya, lalu menghilang tanpa jejak. Orang yang meninggalkan luka paling dalam, tapi juga rindu yang tak pernah padam.

Future HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang