API YANG DI SEMBUNYIKAN

62 12 34
                                        


Langkah Yoongi terdengar berat di koridor malam itu. Ia baru saja meninggalkan rumah Yejin. Namun yang menggema di kepalanya bukan senyum polos calon istrinya… melainkan tatapan penuh amarah dan rindu dari sang kakak mantannya.

Monolog batinnya:
"Aku gila… kenapa aku merasa begini? Seharusnya aku hanya fokus pada dia—adiknya. Tapi kenapa tatapan itu, tatapan kakaknya, masih menusukku? Kenapa aku ingin… keduanya? Bukankah itu berarti aku telah melangkah terlalu jauh?"

Di ruang tamu tadi, sebelum sang gadis kembali dengan kue, ada satu momen singkat. Tatapan mereka terkunci terlalu lama. Sang kakak tak menyingkirkan pandangannya, seolah menantang, seolah menguji: Apakah kau masih sama dengan dulu?

Dan dosen itu tahu jawabannya.
Ya. Ia masih sama. Ia masih menginginkannya.

---

Malam berikutnya
Pesan singkat masuk di ponselnya.
Bisa kita bicara? Tanpa adikku,

Hanya itu.
Sang dosen tahu siapa pengirimnya. Ia datang, dan di ruang sepi itu, hanya ada mereka berdua.

Yeri berdiri menunggu, tangannya menyilang di dada, matanya menyala. “Aku bodoh kalau mengizinkanmu dekat dengan adikku. Tapi aku lebih bodoh lagi… karena masih tidak bisa membencimu sepenuhnya.”

Yoongi menahan napas. Perlahan ia mendekat. “Jangan berkata begitu kalau kau tidak benar-benar siap menanggung akibatnya.”

“Akibat?” Yeri tersenyum getir. “Akibatnya sudah kurasakan sejak lama. Rindu yang tak pernah mati… luka yang tak pernah sembuh. Dan sekarang kau di sini, berdiri lagi di hadapanku”

Keheningan jatuh. Lalu satu langkah maju. Lalu satu lagi. Hingga jarak mereka terlalu dekat.

Yoongi berbisik, “Aku seharusnya memilih… tapi aku ingin kalian berdua.” seketika hatinya di butakan oleh keserakahan dan penasarannya.

Kata-kata itu gila. Terlarang. Tapi Yeri tidak mundur. Matanya bergetar, suaranya pecah. “Kalau begitu… jangan pernah biarkan dia tahu.”

Dan dalam detik berikutnya, api yang mereka sembunyikan bertahun-tahun kembali menyala—membakar diam-diam di balik bayang-bayang, sementara sang gadis tetap berjalan dalam cahaya, tak mengetahui apa pun.

Ruang itu senyap. Hanya bunyi jam dinding yang berdetak, seakan memperlambat waktu. Yeri berdiri di hadapan jendela, cahaya lampu jalan menyinari wajahnya yang tegang, matanya berkilau antara marah dan rindu.

Yoongi berdiri beberapa langkah di belakangnya, dadanya berdegup tak karuan.
"Aku seharusnya pergi. Aku seharusnya tidak ada di sini. Tapi kenapa langkahku justru membawaku semakin dekat padanya?"

“Aku benci ini,” suara Yeri pecah, lirih namun jelas. “Benci harus melihatmu di rumahku, di sisinya… seolah masa lalu kita tidak pernah ada. Seolah aku hanya bayangan yang bisa kau lupakan.”

Yoongi menutup mata sejenak, merasakan luka lama kembali berdarah. Lalu ia melangkah maju, suaranya berat.
“Jangan berpura-pura… kau tahu aku tidak pernah melupakanmu.”

Yeri menoleh, tatapannya bergetar. “Kalau begitu kenapa… kenapa dulu kau pergi? Kenapa kau biarkan aku menunggu tanpa jawaban?”

Ada jeda panjang. Napas mereka saling bertabrakan. Yoongi tiba-tiba mendekat, hingga hanya sejengkal memisahkan wajah mereka.
“Aku pengecut,” bisiknya. “Aku tidak melindungimu. Aku biarkan keadaan memisahkan kita. Dan itu… kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Air mata menggantung di sudut mata Yeri, tapi Yeri tersenyum getir. “Dan sekarang kau datang lagi… bukan untukku, tapi untuk adikku. Kau kejam.”

Yoongi mengulurkan tangan, gemetar, menyentuh lengannya. Sentuhan yang membuat tubuh mereka sama-sama bergetar.
“Aku kejam… karena aku masih menginginkanmu. Bahkan saat aku tahu ini salah. Bahkan saat aku tahu aku seharusnya memilih dia.”

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 29, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Future HusbandCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang