26

200 6 0
                                        

Setelah bermain seharian, semua orang kembali ke vila. Ade dan kawan-kawan langsung terkapar di ruang tengah, sedangkan Ano dan Karin masuk kamar mereka.

"Sayang... aku mandi dulu ya," ucap Ano sambil mengambil handuk.

"Terserah," gumam Karin masih kesel.

Ano berhenti.
Ditutupnya pintu kamar mandi pelan, lalu ia mendekati Karin.

"Ka... kamu masih marah?"

Karin menoleh, wajahnya datar tapi matanya berkaca-kaca.

"Aku bukan marah, Ano. Aku cuma... gak suka kamu disentuh cewe lain."

Ano duduk di sampingnya.
Perlahan ia menggenggam tangan Karin.

"Tapi kamu tau kan... yang aku pilih itu kamu."

Karin menggigit bibir bawah, mencoba menahan emosinya.
"Aku tau. Tapi dia tuh sengaja banget, No. Liat cara dia megang kamu... cara dia liat aku..."

"Aku gak peduli sama dia," lirih Ano.

Karin terdiam.
Hatinya mulai luluh.

"Aku cuma peduli kamu," lanjut Ano.

Karin menarik napas panjang.
"...Iya."

Ano tersenyum lega.
Tapi sebelum ia sempat berdiri..

TOK TOK TOK

Seseorang mengetuk pintu kamar.

Ano membuka.
Wajahnya mendadak kaget.

Salendrya Alexy berdiri di sana

Memakai dress pantai yang terlalu pendek, rambutnya terurai basah, dan wajahnya manis.

"Kita perlu ngomong, No."

Karin langsung berdiri dari kasur.

"Lo ngapain di sini??"

Alexy tersenyum miring.
"Tenang, Bu Guru. Gue cuma mau ngobrol sama temen lama."

Karena kesabaran Karin sudah habis, ia maju selangkah.

"Ano bukan temen lama lo. Dia pacar gue."

Alexy mendekat ke Karin, terlalu dekat.

"Pacar? ...atau numpang lewat aja?" bisiknya tajam.

Karin mengepalkan tangan.

"Alexy," Ano mencoba menengahi.

"Ano, tunggu." Karin mengangkat tangannya, menghentikan Ano yang ingin ikut bicara.

Lalu Karin menatap Alexy tajam.

"Lo bilang mau ngomong sama Ano? Ya udah, sini. ngomong sama gue, gue juga punya hak untuk tau. kamu jangan ikut." ucapnya pada Ano

"Tapi—"

"Biar aku yang urus."

Ano menelan ludah dan akhirnya mundur.

Dua perempuan itu saling menatap.

Atmosfer panas.

Alexy mendekat, suaranya lirih tapi menusuk.

"Lo tau gak? Ano dulu suka cerita tentang tipe cewe idamannya. Dan jelas-jelas... BUKAN lo."

Karin hanya tersenyum sinis.
"Emang iya? Nyatanya dia tidur sama gue tiap hari. Keknya selera dia berubah deh."

Alexy terdiam.

Karin melanjutkan, lebih maju selangkah.

"Lo mungkin tau Ano pas masih kecil. Tapi Ano yang sekarang? Itu gue yang tau luar dalam."

Alexy tersenyum sinis.
"Berani taruhan? Ano cuma kasihan sama lo."

Karin meraih kerah Alexy, membuat cewe itu kaget.

"Dia nggak kasihan. Dia sayang. Dan dia milik gue. Jadi jangan deket-deket lagi, ngerti?"

Alexy menepis tangan Karin.
"Kita lihat aja."

Setelah mengatakan itu, Alexy pergi dengan langkah cepat.

Karin berdiri di tempatnya, napasnya naik-turun karena emosi.

Ano mendekat pelan.
"Ka... kamu gapapa?"

Karin berbalik dengan mata merah tapi tatapan tegas.

"Aku gak mau dia deket kamu lagi."

Ano memegang pipi Karin.

"Ga akan."

Karin akhirnya memeluk Ano erat-erat

erat sekali seperti takut kehilangan.

"Aku sayang banget sama kamu, No..."

Ano membalas pelukannya.

"Aku juga sayang kamu... cuma kamu..."

Pelukan mereka semakin lama semakin dalam.
Karin menenggelamkan wajah di leher Ano, menghirup aromanya.

"Jangan kemana-mana lagi ya..."

"Aku di sini."

Si Pede [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang