Keheningan menyelimuti sekre komunitas mahasiswa Antropologi malam ini. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan bunyi jangkrik dari fakultas teknik ujung universitas sepertinya terdengar hingga fisip.
Arini duduk dengan menunduk, di sampingnya ada Brian yang juga memasang posisi yang sama. Di hadapan mereka, duduk para dewan adat, ketua himpunan, serta para alumni yang masih membawa pengaruh besar pada himpunan.
"Bangsat sih," gumam salah satu alumni.
Laut duduk tenang, tidak ada keresahan di hatinya. Ia seperti merasa akan bebas dari suatu yang besar.
Rehan selepas ibadah langsung kembali ke kampus begitu membaca chat Bang Yan di grub whatsapp yang mengatakan harus rapat darurat dan meminta semua pengurus organisasi wajib hadir.
"Ini mau di taro dimana muka himpunan? Taro dengkul? Nih taro dengkul Laut aja nih," sambar salah satu dewan adat, ia juga mengetuk-ngetuk lutut Laut. Ini sebenarnya sedikit menggelitik humor sih jujur saja.
Bang Yan angkat bicara. "Nggak bermoral, nggak beretika. Ini kalau prodi tau, himpunan kita bisa hancur karna kalian berdua. Mikir nggak sampe sana?"
Arini dan Brian tidak menjawab. Arini bahkan sudah menitihkan air mata.
"Terus gimana sekarang, Ut? Biar gimanapun, ini juga ada kaitannya sana lo. Apa yang bisa lo ambil? Gue nggak bisa jamin masalah ini nggak nembus ke luar," kata ketua dewan adat.
Dewan adat ini adalah otoritas di atas himpunan, tugasnya menasihati himpunan dan berpikir bersamaa menyelesaikan permasalahan yang ada.
"Sesuai hukum adat aja bang, kalau memang nanti kena imbas ke saya, saya siap di turunkan dari posisi ketua. Toh juga kalau mempertahankan saya, orang akan tetap menilai yang tidak-tidak," kata Laut panjang lebar.
Semuanya berbisik dan mempertanyakan maksud Laut. Memangnya ia tidak berniat membela diri walau disini yang paling di rugikan adalah Laut sendiri?
"Selamat yaa Arini, keren banget dateng-dateng bikin himpunan hancur. Elo juga Bri, keren banget akting lo, daftar indosiar aja. Cih, jijik banget kalau di liat-liat." Dewan adat perempuan itu senior mereka di angkatan 20, memang benci sekali dengan perselingkuhan.
Yang lain tidak berani menyahut, apalagi Mentari, Bentala ataupun Cakrawala dan Rehan. Ini benar-benar masalah serius.
Perbuatan asusila, tidak senonoh, dan melanggar normal kesopanan. Apalagi di sekretariat himpunan.
Tentu saja semua anggota himpunan, dewan adat bahkan alumni marah. Siapa sih yang mau himpunan mereka di cap sebagai himpunan yang menormalisasikan kegiatan di luar moral?
"Arini dan Brian, mulai hari ini dengan sangat tidak terhormat, kami mengeluarkan kalian dari himpunan mahasiswa antropologi. Kalian tidak berhak mencela, merasa tidak terima, ataupun tidak setuju pada keputusan ini," kata ketua dewan adat dengan nada tenang. Tapi tentu saja ia marah.
Arini dan Brian awalnya ingin protes, tapi kemudian menundukkan kepala mereka kembali karna semua orang menatap mereka.
"Ngomong, sampein permintaan maaf. Setelah ini terserah kalian mau ngapain, tapi jangan pernah bawa-bawa himpunan lagi, karna hak kekerabatan kalian kami cabut. " sambung anggota dewan adat yang perempuan dengan nada tajam dan marah.
Arini tidak berani mengangkat kepala, ia sudah sesegukkan. Abang-abangan Arini yang waktu itu sempat di singgung, agaknya merasa malu dan memilih keluar sekre saat itu juga.
Para dewan adat kembali menghela napas. Kemudian mereka meminta izin untuk berunding sebentar.
Hak kekerabatan Arini dan Brian sudah di cabut, tapi masalah tidak sampai disitu. Mereka harus menyelamatkan nama himpunan, mereka tidak bisa jika harus melihat himpunan mereka akan di cap buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lautan Raya
Fanfiction[NA JAEMIN, KIM MINJEONG STORY] Sebagai seseorang yang berada di dalam lingkup yang sama, tentu hal wajar jika terjadi yang namanya jatuh cinta. Kebiasaan selalu berada di sisi masing-masing sepanjang waktu menjadi pemicu rasa itu tumbuh, lalu merem...
