"Sekian rapat hari ini, lebih dan kurangnya saya mohon maaf, saya akhiri dengan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam Kerabat!"
"Salam!"
Laut tersenyum kecil saat Rehan menepuk pundaknya untuk pamit duluan, dia ada ibadah Purnama malam ini, jaga-jaga nanti Laut mencari dia kemana sampai tidak bisa di hubungi.
Karna jujur saja, sekarang hanya Rehan dan Cakrawala yang menemani Laut. Itupun tidak selalu, sebab mereka punya waktu sendiri juga. Kadang Rehan ibadah, atau berpacaran bersama Mentari, begitupun Cakrawala. Kalau sudah seperti itu, maka Laut akan terjebak bersama Arini dan tidak memiliki alasan lagi untuk kabur.
Jika kalian bertanya bagaimana perasaan Laut menjawab menjadi Ketua Umum seperti cita-citanya itu, jawabannya adalah biasa saja. Seperti tidak ada hal istimewa yang bisa di banggakan.
Harusnya ia senang, kan? Tapi ada beberapa hal yang membuatnya tidak bisa merasakan rasa senang itu. Rasa bersalah mengorbankan hubungannya dengan Raya adalah alasannya.
"Uttttt... temenin kesini yuk," ajak Arini sembari menunjukkan suatu tempat kepada Laut lewat ponselnya.
Laut melihat dengan reaksi tidak minat. "Iyaa nanti yaa. Banyak yang harus di siapin nih."
"Ckck.. nanti mulu! Kamu kalau ada waktu luang aja pasti ke kosan Rehan. Giliran sama aku alasannya sibuk!" Arini mengomel dengan kesal. Hari memang sudah semakin sore, tapi masih ada beberapa senior dan himpunan lain di pelataran depan sekre.
Tidak ingin membuat mereka menjadi pusat perhatian, Laut menepuk pelan puncuk kepala Arini. "Iyaa, maaf yaa sayang. Kita kesana besok yaa."
Arini tersenyum salting, lalu menyenderkan seluruh badannya ke badan Laut sembari tangannya bermain ponsel lagi. Kadang-kadang ia berganti posisi menjadi memeluk Laut, atau kadang tidur di paha Laut.
Laut tidak terlalu memperdulikan itu, ia menyibukkan diri dengan melihat persiapan acara himpunan yang memang beberapa minggu lagi akan dilaksanakan.
Entah karna hari sudah hampir malam dan beberapa lampu taman, lampu koridor, ataupun lampu jalanan kampus yang masih terlihat dari sini mulai menyala, Arini mulai merasa bosan.
"Utt, bosen!" katanya.
Laut menoleh, "Mau pulang sekarang?"
"Enggakkk... males pulang. Aku nginep di kosanmu, boleh yaa?"
Laut cepat-cepat menggeleng mendengar kata-kata Arini. Ia merasa risih jika terus bersama Arini, apalagi sampai harus tidur? Tidakk!
"Eeumm... ada kakak sepupu gue yang cowo di kosan, dia dari kampung mau cari kerja disini jadi nginep dulu," kata laut beralasan.
Arini memandang curiga, "Beneran?"
"Beneran kok!"
"Yaudah deh aku percaya," kata Arini.
Arini memandangi Laut lagi, "Kalau gitu... "
".. kita ke wc sebentar yuk," bisiknya di akhir kalimat. Memastikan beberapa sisa mahasiswa di sekitar mereka tidak mendengar.
Laut membuatkan matanya, "Enggak deh Ni, maaf yaaa. Aku lagi pusing banget nih."
Arini berdecak lagi, ia terlihat sangat kesal hingga berdiri dan meninggalkan Laut. Perempuan berambut pendek itu berjalan ke dalam sekre himpunan mereka yang cahaya dalam ruangannya terlihat remang, balonnya mati, Cakrawala dan Bentala sedang pergi membeli yang baru.
Laut memandangi Arini yang sudah masuk ke dalam sekre itu, entah siapa saja yang ada di dalam sekre, Laut tidak tahu lagi, tidak perduli juga.
Karna yang ia perdulikan hanyalah bagaimana caranya ia bisa bersama dengan Raya lagi, tapi tetap menjabat sebagai ketua himpunan tanpa menyakiti Arini atau bahkan bermusuhan dengan perempuan itu.
Tapi semakin dipikirkan, rasanya semakin tidak mustahil bersama Raya lagi. Mungkin dia harus belajar menerima Arini kembali, mengasihi Arini agar ia tidak terus memikirkan Raya, agar kehidupan sebagai ketua himpunan menjadi mudah.
"Ajak dia ke tempat tadi deh sekarang, mumpung nggak ngapa-ngapain," monolog Laut. Ia membereskan barang, serta barang Arini. Ia ingin menghampiri Airin di dalam sekre dan mengajaknya jalan-jalan malam.
"Udah mau pulang, Ut?" tanya salah satu senior, namanya Bang Yan, lumayan di hormati dan salah satu abang-abangannya Arini.
Laut mengangguk menanggapi, "Iya bang, mau ajak Arini jalan-jalan. Abang belum mau balik?"
"Duluan aja Ut, gue sekalian nunggu Cakrawala sama Bentala dateng, mau pasang balon lampu tuh. Katanya mereka udah di depan kampus," katanya panjang lebar.
"Okedeh kalo gitu Bang, gue mau ngamperin Arini dulu, semoga anaknya nggak ketiduran."
Sekre yang tadinya remang-remang karna cahaya senter dari ponsel, menjadi gelap gulita. Laut tidak mendengar suara siapa-siapa di dalam sini, seperti tidak ada orang.
Tapi entah kenapa, Laut memilih diam. Berjalan pelan tanpa menimbulkan suara, memasuki sekre itu dengan langkah yang nyaris senyap.
"Eeunghhh.. Brii... "
Laut menaikkan alisnya, itu suara Arini?
"Sstt.. nanti pacar lo denger."
"Tapi jangan di buat tanda, anjirr.. ungghhh"
Hah? Apa maksudnya?
Laut tidak bisa menahan diri lagi, ia mengambil ponselnya dan menyalakan flash kamera, menyinari seisi sekre. Laut menangkap Arini dengan kemeja yang kancing atasnya sudah terbuka, menampilkan sebagian besar bagian dadanya, hampir keluar sepertinya. Di sebelah Arini, ada Brian. Seangkatan mereka dan juga bersama Arini bertanding ke Jawa.
"U–ut.. i–ini.." Arini berdiri dan berusaha menjangkau Laut.
Laut mundur satu langkah. "Rapihin diri lo, Bang Yan sama yang lain bentar lagi kesini."
Arini mulai meringis kecil. Mungkin dia malu karna ketahuan? Mungkin dia takut karna ketahuan? Mungkin dia.. kesal karna ketahuan?
"Laut.. ini nggak kayak yang lo bayangkan," kata Brian.
"M–maaf Ut.. ak—" Ucapan Arini terhenti mendengar perkataan Laut.
"Udah, gue nggak butuh penjelasan kalian. Gue tunggu di depan!"
Setelahnya Laut berbalik, ingin menunggu Arini di depan pintu saja. Tapi yang jadi kejutan lain adalah kehadiran Bang Yan, Cakrawala dan Bentala di belakang Laut.
Sama kagetnya dengan wajah syok.
"Wah.. keren yaa kalian berdua."
Kalau Bubuy bilang dia bakal Update besok.. jangan percayaaaa!
KAMU SEDANG MEMBACA
Lautan Raya
Fanfic[NA JAEMIN, KIM MINJEONG STORY] Sebagai seseorang yang berada di dalam lingkup yang sama, tentu hal wajar jika terjadi yang namanya jatuh cinta. Kebiasaan selalu berada di sisi masing-masing sepanjang waktu menjadi pemicu rasa itu tumbuh, lalu merem...
