Perihal melupakan

104 11 4
                                        


Kehidupan terus berjalan dengan semestinya. Raya tidak lagi bersedih, ada Hugo yang kini terus bersamanya saat di kampus.

Sejak hari pertamanya tampil dengan penampilan berbeda, sebetulnya saat itu ia sangat tidak percaya diri, ia hanya berpura-pura kuat. Apalagi saat orang-orang disekitar koridor perpustakaan membicarakannya dengan sembunyi-sembunyi, Raya semakin merasa kecil.

Tapi Hugo datang, membuatnya merasa ia tidak sendirian. Hugo benar-benar menyelamatkan Raya dari segala situasi, saat Raya benar-benar membutuhkan seseorang disisinya. Takdir baik yang selalu mengelilingi Raya.

"Gue denger Kak Laut semalam yang kepilih jadi ketua umum baru yaa..." kata Hugo sambil menyesap pelan kopinya. "Lo udah denger?"

Raya mengangguk. "Udah, kebetulan semalam gue scroll IG, udah ada ucapannya tuh. Bagus deh kalo dia udah jadi ketua umum, dia udah dapet apa yang dia pengen."

"Tapi menurut lo berapa lama dia puas sama apa yang dia nanti-nantikan itu?"

Pertanyaan Hugo membuat Raya terdiam, ia terpikir sejenak. "Maksud lo?"

"Maksud gue, gue yakin dia bakalan segera dapet karma." Hugo tertawa samar, kemudian berdiri dari duduknya. "Yuk, gue anter lo ke toko buku."

Raya ikut berdiri lalu tersenyum riang. "Lo bayarin setengahnya kan?" Tidak sungkan gadis itu menarik tangan Hugo untuk digenggamnya.

"Apa-apaan anjir, perjanjiannya semalem gue nganter doang. Kok jadi bayarin setengah?" Hugo tidak terima, Raya hanya tertawa saja.

Keduanya berjalan meninggalkan area kampus, berjalan menuju parkiran dengan Raya yang terus mengenggam tangan Hugo.

Hingga semakin lama semakin mencuat gosip tentang Raya dan Hugo, tapi mereka tidak pernah memperjelas apakah mereka berpacaran atau tidak.

"Mau mampir dulu? Atau langsung ke Gramedia?"

"Langsung ajaaa!!"

***

"BWAHAHAHAHAH!"

Tawa menggelegar memenuhi parkiran Gramedia kota Palu sore ini. Tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa motor saja dengan mas-mas tukang parkir yang senantiasa menunggu uang parkir di serahkan padanya ketika orang ingin pulang segera.

Entah memang Laut sedang menjalani karma atau bagaimana, yang pasti ia sangat sial karna terus bertemu Raya yang cantik di tempat-tempat yang berbeda, dan bersama orang yang lumayan Laut tidak suka akhir-akhir ini.

"Kata gue sih mampus, ya, Ut!" Cakrawala tidak berhenti tertawa. Ia, suara pacar Bentala ini yang sangat menggelegar tadi. Entah terbuat dari apa pita suaranya, sangat besar.

Rehan menggeleng kasihan. "Udah, jalanin aja. Nanti juga elo terbiasa kok. Itu kan yang lo minta?"

"Eh gue nggak pernah yaa minta Raya jalan sama Hugo ke Gramedia dan gue di parkiran Gramedianya nyaksiin!" sanggah Laut tidak terima.

Mana pernah Laut mendoakan kebahagiaan Raya bersama laki-laki lain. Yang ada malah Laut terus berdoa kepada Tuhannya agar Raya kembali ke sisinya saat ia sudah tidak perlu jabatan ketua umum itu lagi.

Sebesar apa pahalamu, Ut, sampai bisa nyogok Tuhan?

Dengan ogah-ogahan Laut berjalan masuk ke dalam toko buku nomor satu di Indonesia itu, di ikuti Cakrawala dan Rehan.

"Yakin nggak mau pindah ke Ramedia aja, Ut? Jual juga kok mereka bahan-bahan yang kita cari," goda Cakrawala sambil terkikik.

Rehan ikut tertawa, "Atau mau di MR. DIY aja, banyak juga kok nggak cuma di Gramedia ini."

Laut tidak memusingkan godaan teman-temannya, ia bergegas menjadi bahan-bahan tugas yang mereka perlukan. Sesekali Laut melihat kiri dan kanan, mencari sosok Raya bersama laki-laki yang mungkin saat ini dan seterusnya akan enggan Laut sebut namanya.

"Mereka di lantai atas, Ut. Novel ada di lantai atas," kata Rehan.

Laut berdecak kesal, "Ah, Bacot! Ayo ke Ramedia aja!"

***

Mata Raya berselancar bebas ke arah rak-rak berisi beragam novel, sesekali gadis itu menoleh kearah Hugo yang ada di belakangnya dan tersenyum kegirangan. Hugo juga memandang Raya dengan senyum manis.

Laki-laki itu bahkan mengambil ponsel dari sakunya, dan memotret Raya yang ada di hadapannya, juga menyuruh gadis itu untuk sesekali berpose ataupun tersenyum.

Euforia bahagia sekali Gramedia Palu lantai dua sore ini.

"Omaygat Go! Mau ini, mau itu, mau sana, mau semua!" Raya menahan pekikannya, jika ini di luar ruangan mungkin Raya sudah berteriak.

Hugo tertawa pelan, "Buruan pilih aja, malah mau roll depan roll belakang lo!"

"Ckck, Go! Lo harus paham kalau masuk toko buku itu butuh banyak pertimbangan. Elo mana paham rasanya mau sepuluh tapi yang bisa di beli cuma satu!" kata Raya sambil memandang sedih deretan novel romansa favoritnya yang belum pernah ia baca.

Hugo melihat ekspresi Raya, "Yaudah, pilih 2 deh. Satunya gue bayarin buat lo."

Raya menoleh dengan semangat. "Beneran?!"

"Hhmm, bener."

Mungkin memang saat ini Raya sedang menjalani balasan dari kesedihan-kesedihannya sebelumnya, Tuhan balas dengan mengirimkan Hugo dan traktiran novel.

"Ayo, Go, ke kasir. Takut mau yang lain lagi," ringis Raya. Hugo mengikuti dari belakang Raya menuruni anak tangga.

Untuk sekarang, mungkin saat bersama Hugo, Raya bisa melupakan sejenak laki-laki bernama Lautan Bumantara itu. Dia pasti sedang berbahagia dengan hal yang sudah lama ia ingin capai, syukurlah pikir Raya.

Walau saat malam, Raya harus menerima kenyataan bahwa ia telah ditinggalkan. Bahwa seluruh ruang kosnya, tidak bisa dipungkiri pernah ada Laut yang singgah, bahwa aroma parfum yang ia kenakan adalah aromanya saat bersama Laut.

Bahwa perihal melupakan memang bukan perkara mudah.



















Haloo, hehehe maaf yaa baru update:")
Masih adakah yang nyimpen cerita ini di perpustakaannya??

Lautan RayaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang