Muak

811 13 0
                                        

Layar monitor menyala seperti mata raksasa yang tak pernah berkedip, memantulkan wajah Keenan yang pucat dan sembab di balik kacamata yang sedikit melorot. Pukul 19.03. Jas kerja polyester yang ia pakai sejak pagi terasa pengap dan sesak, terlebih setelah perutnya yang besar seakan ingin merobek kancingnya. Celana bahan ketatnya sudah lama tak nyaman, sekarang terasa seperti belenggu. Lalu, datanglah.

Dimulai dari punggung bawah. Sebuah ketegangan tumpul, seperti kabel baja yang perlahan dikencangkan dari dalam. Lalu, dalam sekejap, kabel baja itu berubah menjadi lingkaran besi panas yang melingkari perutnya, dari tulang panggul sampai tepat di bawah tulang rusuk. Mengepal, memutar, meremas. Bukan sakit biasa. Ini adalah tekanan yang bersifat geologis. Napas Keenan tercekat. Tangannya menekan kuat-kuat ke meja. *Tahan. Kerjakan. Selesai.* Ia mengetik dengan mata berkaca-kaca. Kerjakan. Selesai.

Pukul 20.15, 21.00, 21.45. Serangan itu datang semakin sering, semakin brutal. Rasanya rahimnya berubah menjadi gurita raksasa yang mengerutkan semua tentakelnya. Setiap puncak kontraksi membuat Keenan melihat bintang-bintang. Ia menahannya. Menahannya sambil berbisik pada bayi di dalamnya, "Tunggu." Ia adalah tawanan di mejanya sendiri.

Pukul 22.17. Ia menekan 'send'. Tubuhnya lemas. Tapi rahimnya tidak. Sebuah kontraksi yang tak terperi hebatnya menyergap. Kali ini diiringi sensasi tekanan dahsyat ke bawah, seperti kepala bowling besar ingin meluncur. Keenan terpekik pendek. Celana ketatnya basah—bukan hanya keringat. Air ketuban yang hangat mengalir deras, meresap ke bahan celana yang sudah sempit. Panik membanjiri otaknya. *Tidak. Tidak di sini.*

Perjalanan ke halte adalah siksaan. Setiap kontraksi memaksanya berhenti, meringkuk, menggenggam perutnya. Jasnya yang kusut semakin menyesakkan. Ia masuk ke bus malam yang hampir kosong. Hanya supir dan dua penumpang lain. Keenan nyaris terjatuh di bangku paling belakang, tepat di atas roda. Rasa tertekan di bawah semakin tak tertahankan.

Bus melaju. Kontraksi datang beruntun. Desakan di bawahnya memaksa. Otot-ototnya berkontraksi di luar kendali. Ia meremas besi pegangan. Desahan dan erangan pendek keluar dari mulutnya.

"Heh, jangan muntah di bus ya!" teriak supir.

Keenan tak peduli. Paniknya kini sempurna. Ia merasakan kepala bayinya sudah sangat rendah, menekan kuat, ingin keluar. Celana ketatnya menjadi penghalang yang menyiksa. Dengan gerakan panik dan canggung, ia membuka kancing jasnya. Lalu, dengan rasa malu dan keputusasaan, ia berusaha mendorong celana ketatnya ke bawah. Bahan yang basah dan lengket sulit diturunkan. Ia menariknya dengan kasar, hampir merobeknya, sambil menangis tersedu-sedu.

Akhirnya, celana itu turun sampai di atas lututnya. Saat itulah dorongan paling kuat menghantam. Tubuhnya mendorong dengan kekuatan liar. "AAAGHHH!" teriaknya. Ia merasakan sensasi membakar, lalu sensasi kepala yang hangat dan keras menyembul di antara pahanya.

*Keluar. Cepat keluar!* pikirnya dalam kepanikan. Tapi sesuatu yang mengerikan terjadi.

Dorongan berikutnya datang, tapi kepala itu tidak maju. Tidak bergerak. Bayinya macet. Hanya sedikit saja yang keluar. Rasa sakitnya menjadi ganda, tajam, dan menindas. Keenan mendorong lagi, mengerahkan setiap otot, berteriak dengan suara yang serak. Tapi bayi itu tetap terjebak, tersangkut. Kepanikannya meledak menjadi teror murni.

"Tidak... tidak bisa... kenapa?!" isaknya, tangannya meraba-raba bawah. Ia merasakan kepala bayi yang kecil dan basah, tetapi di belakangnya, terasa seperti ada semacam tekanan, sebuah simpul yang menahannya. *Tali pusar.* Pikiran itu menyerangnya seperti petir. *Tali pusar terlilit. Dia tersangkut. Dia tidak bisa bernapas.*

"Tolong!" raung Keenan, suaranya pecah. Penumpang lain kini sudah berkerumun, wajah mereka pucat ketakutan. "Dia... bayi nya... tersangkut!" teriak salah satu penumpang pada supir yang kini sudah berhenti dan berlari mendekat.

Tapi tidak ada waktu. Keenan bisa merasakan denyut kehidupan di antara pahanya melemah, sensasi kepala yang tadinya hangat mulai terasa... diam. Terlalu diam. Insting keibuan yang lebih dalam dari rasa malu, lebih kuat dari rasa sakit, menerjangnya.

"Harus... harus dilonggarkan!" Ia meraba di sekitar kepala bayi yang tersangkut, jari-jarinya yang basah dan gemetar merasakan sesuatu yang halus, seperti tali karet basah, melingkar erat di leher mungil yang bahkan belum sepenuhnya terlihat. Dengan kuku yang pendek, dalam posisi yang sangat tidak nyaman, ia mencoba. Ia memasukkan dua jari, rasanya seperti merobek dirinya sendiri dari dalam, berusaha melonggarkan lilitan itu. Ia menarik sedikit, memutar, sambil terus mendorong dengan lembut, berharap-berharap.

Kontraksi lain datang, menyiksa, memutar ototnya. Tapi kali ini, dengan lilitan yang sedikit lebih longgar berkat usahanya yang panik, dorongan itu membuahkan hasil. Dengan suara yang basah dan sensasi robekan yang membuatnya terisak, bahu pertama, lalu bahu kedua, dan akhirnya seluruh tubuh bayi yang kecil dan biru membiru meluncur ke dalam pelukan jasnya yang terhampar.

Bayi itu diam. Terlalu diam dan lemas.

"Tidak... tidak, sayang... jangan..." Keenan berbisik, paniknya mencapai puncak baru yang sunyi. Dengan tangan yang tak terkendali, ia membersihkan lendir dari mulut dan hidung kecil itu. Ia menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, lalu lebih keras. Tak ada tangisan.

Dengan sisa keberanian yang ia tidak tahu darimana datangnya, ia membungkukkan kepala, menempatkan mulutnya di atas mulut dan hidung bayi yang mungil, dan memberikan dua tiupan napas penyelamat pendek. Lalu ia menekan dada bayi itu dengan dua jari, lembut tapi pasti, meniru CPR yang pernah ia lihat di televisi.

Satu hitungan. Dua. Tiga.

Bayi itu tersentak. Lalu, sebuah batuk kecil, disusul dengan tangisan yang lemah, tersendat, dan akhirnya menjadi jeritan kemarahan yang hidup namun penuh kelegaan, menggema di dalam bus yang hening.

Keenan menjerit kecil, campuran antara tangis, tawa, dan kelegaan yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Ia menarik bayi itu ke dadanya, mendekapnya erat. Tali pusar yang masih terlilit longgar terlihat di leher merah mungil itu, sebelum akhirnya Keenan dengan hati-hati melepaskannya sepenuhnya.

Ia terduduk lemas, bersandar di bangku, dengan celana masih tersangkut di lutut, jasnya kotor dan basah, tubuhnya berdarah dan bergetar. Bayinya menangis dengan stabil di dadanya. Kepanikan perlahan surut, digantikan oleh kelelahan yang begitu dahsyat dan rasa hampa yang dalam. Ia melahirkan dengan susah payah, menyelamatkan nyawa anaknya dari lilitan tali pusar, di dalam bus, seorang diri, di hadapan mata orang asing. Keheningan yang kembali menyergap bus terasa lebih berat dari semua kontraksi tadi, dipenuhi bau darah, keringat, dan sesuatu yang baru saja bertarung dengan maut—dan menang.

mpreg tuiwTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang