HAPPY READING
.
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.
.
Pagi di kediaman keluarga Bima terasa damai seperti biasanya.
Jam di dinding lorong baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit saat suara sapu lidi yang bergesekan dengan batu taman mulai terdengar samar dari halaman bawah.
Para pekerja rumah memang selalu datang tepat waktu, lalu pulang sebelum sore menjelang.
Selain pak Anton yang rumahnya jauh di kampung, rumah ini memang tidak pernah membiarkan siapa pun untuk menetap, kecuali Juned kalau Sarel sedang tidak bisa pulang.
Dari balkon lantai dua, Sarel sempat melihat dua orang tukang kebun sedang menyapu daun-daun kering di jalur setapak samping rumah, sementara dua lainnya sibuk memangkas tanaman hias yang tumbuh terlalu rimbun di dekat pagar.
Di sudut halaman belakang, satu orang terlihat sedang menggulung selang air, sementara yang lain menyiram deretan pot bunga yang berjajar rapi di sepanjang dinding.
"Pagi, Mas Sarel," sapa salah satu dari mereka begitu menyadari keberadaan Sarel di atas.
Sarel mengangguk kecil. "Pagi."
Tak jauh dari sana, di pos depan dekat gerbang utama, Tomi yang hari ini shift pagi baru saja datang menggantikan pak Anton yang berjaga semalaman.
Pergantian itu selalu terjadi di jam yang sama. Pagi dan malam. Delapan ke delapan. Begitu seterusnya, tanpa pernah berubah.
Sarel sempat melirik sekilas ke arah pos sebelum akhirnya berjalan menyusuri lorong lantai dua.
Di bawah, samar-samar terdengar suara vacuum cleaner dari salah satu ruangan, disusul bunyi kaca jendela yang sedang dibersihkan.
Salah satu ART tampak sedang membawa keranjang berisi handuk dan sprei kotor ke arah ruang laundry, sementara satu lainnya mondar-mandir dengan lap dan ember kecil, membersihkan meja-meja kaca di ruang keluarga.
Dari arah dapur, aroma bawang tumis mulai tercium samar.
Suara panci yang beradu pelan dengan kompor bercampur dengan suara Mbak Indah yang sepertinya sedang mengomel karena ada yang salah menaruh bahan makanan lagi.
"Ya ampun, Mbak... itu wortelnya jangan ditaruh situ, nanti layu!" suara Mbak Indah terdengar cukup jelas sampai ke lorong.
Semuanya terasa normal.
Terlalu normal, bahkan.
Langkah Sarel akhirnya berhenti di depan kamar Risku.
Tangannya terulur ke gagang pintu, lalu membukanya pelan tanpa suara.
Kamar itu masih gelap. Lampu tidur di sudut ruangan telah meredup secara otomatis, sementara gorden yang menutupi jendela besar hanya terbuka sedikit, membiarkan seberkas cahaya pagi menyelinap masuk.
Sarel melangkah mendekati ranjang.
Di sana, Risku masih tertidur dengan tenang. Wajahnya terlihat damai, sama sekali tak terusik oleh kehadiran kakaknya.
Sarel menoel hidung adiknya pelan. "Tumben anteng," ucapnya lirih.
Biasanya, Risku akan tertidur di tempat-tempat yang menurutnya lebih menenangkan daripada kamarnya sendiri. Kadang di sofa ruang tengah, kadang di ruang TV.
Kebiasaan itu selalu berhasil membuat Sarel lelah setiap pagi karena harus mencari keberadaan adiknya ke seluruh penjuru rumah.
Tapi pagi ini, Risku tidur di kamarnya sendiri. Mungkin tubuhnya memang masih terlalu lelah untuk berpindah ke mana-mana.
Sarel menarik selimut Risku sedikit lebih tinggi sampai dada, lalu menatap wajah adiknya sebentar.
Kalau lagi tidur begini, sifat menyebalkan adiknya sedikit tertutupi.
KAMU SEDANG MEMBACA
my freaky brother
Mystery / Thriller"Kenapa ngerokok? katanya sakit."-Dinda "Biar cepet mati."-Risku Risku Aditya Bima, lelaki tampan dengan segala luka, kesedihan dan keabsurdannya. Tak ada yang paham isi otaknya, tak ada yang mengerti dengan isi hatinya, kecuali dia yang mengutarak...
