~23~

251 32 2
                                        

HAPPY READING
.
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.
.

"Gue mandi dulu."

Risku berjalan menjauh dari ruang keluarga tanpa menunggu jawaban dari siapa pun.

Juned yang sejak awal berdiri tegak di dekat tangga segera menyusul langkah tuan mudanya.

Risku melangkah tegas meskipun kakinya sedikit gemetar. Wajah santainya telah luruh sepenuhnya, tergantikan oleh tatapan datar seorang anak yang terlalu lama menelan kebohongan.

Sekarang Risku paham.

Mereka akan terus membohonginya karena menganggapnya lemah. Menganggapnya harus dilindungi. Menganggap dirinya tidak akan sanggup menerima kenyataan.

Maka mulai hari ini, Risku tidak akan memberi mereka alasan untuk melakukan itu lagi.

Risku tidak akan menunjukkan sakitnya lagi secara terang-terangan. Akan ia tahan semua, semampu yang ia bisa.

Saat sampai di lantai dua, langkah Risku mulai melambat.

Tubuhnya yang sejak tadi dipaksa berdiri tegak akhirnya mulai menyerah. Adrenalin yang menahannya sejak berada di ruang keluarga perlahan menghilang, meninggalkan gemetar yang menjalar sampai ke ujung jarinya.

Begitu masuk ke kamar, ia langsung menutup pintu.

Dalam keadaan kalut, ia bahkan tidak sadar tangannya otomatis memutar kunci.

Klik.

Pintu terkunci.

Dan saat itulah semuanya runtuh.

Risku meluruh, memeluk lututnya erat dan menundukkan kepala di antara kedua lengannya. Untuk pertama kalinya sejak turun ke ruang keluarga tadi, tidak ada lagi yang perlu ia sembunyikan.

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu.

Tanpa suara.

Tanpa isak.

Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

Di luar kamar, Juned yang semula hendak kembali duduk langsung menghentikan langkahnya.

Keningnya berkerut saat mendengar bunyi kunci diputar dari dalam.

Pria itu segera berbalik dan berjalan mendekati pintu.

"Mas?" panggilnya pelan sambil mengetuk.

Tidak ada jawaban.

"Mas Risku?" Kali ini nadanya terdengar lebih khawatir.

"Mas tahu kan, pintu kamar tidak boleh dikunci."

Beberapa detik berlalu, Risku mengusap wajahnya cepat-cepat sebelum menjawab. "Maaf Om... Risku lupa."

Suara itu serak.

Terlalu serak untuk seseorang yang tadi terlihat baik-baik saja.

Namun Juned memilih tidak menyinggungnya. Ia memejamkan mata sejenak.

"Kalau begitu dibuka lagi ya, Mas. Saya tidak akan masuk."

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi kunci diputar kembali.

Barulah Juned mengembuskan napas lega.

Sementara itu, di balik pintu yang masih tertutup, Risku kembali menundukkan kepalanya.

Air matanya jatuh semakin deras.

Sikap Mama tadi seperti menjawab semua keraguan yang selama ini berusaha ia bantah sendiri.

my freaky brotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang