~24~

229 30 3
                                        

HAPPY READING
.
.
.
. .
.
. . . . .
.
. .
.
.
.
.


Pagi ini Risku mengawali harinya dengan cara yang berbeda. Setelah shalat subuh tadi, ia tidak kembali melanjutkan tidurnya seperti biasa. Risku justru memilih segera bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Sebuah kejadian yang bisa dibilang cukup langka bagi penghuni rumah besar itu.

Tubuhnya sudah terbalut rapi oleh seragam batik, dengan hoodie putih dan jaket denim yang menjadi pelengkap. Seperti biasa, ia mengenakan dua lapis jaket sekaligus. Risku memang tidak suka kedinginan. Juga tidak suka jika jantungnya akan rewel karena kedinginan

Risku memasukkan buku pelajaran beserta obat-obatannya ke dalam tas dengan cepat.

Ia harus bergegas, sebelum Sarel mencari keberadaanya seperti pagi-pagi sebelumnya.

Setelah semua barang pentingnya masuk tas, ia segera berjalan keluar kamar.

Risku menutup pintu kamarnya sepelan mungkin. Ia berjalan mengendap-endap mendekati kamar kakaknya, lalu menempelkan telinganya ke pintu yang masih tertutup rapat itu.

Begitu mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, Risku langsung membuang napas lega.

Aman, dia masih memiliki waktu untuk kabur.

Tanpa membuang kesempatan, Risku segera berbalik dan mulai menuruni tangga dengan langkah cepat namun tetap hati-hati.

Risku belum siap untuk bertemu banyak orang pagi ini. Termasuk Sarel.

Bukan, bukan marah.

Ia hanya butuh sedikit waktu untuk membereskan isi kepalanya sendiri.

Risku tetaplah manusia biasa, ada kalanya ia juga merasa bingung harus bersikap seperti apa pada orang lain.

🖇🖇🖇🖇

Risku melangkah cepat ke arah dapur yang memang terhubung langsung dengan garasi. Ia sengaja tidak melewati pintu utama.

Rumah masih terlihat lengang. Jam baru menunjukkan pukul enam lewat lima menit, para pekerja pun belum banyak yang datang.

Ia mengembuskan napas pelan sambil membetulkan tali tas di pundaknya.

Namun langkah yang semula tergesa itu perlahan melambat begitu kakinya melewati ruang makan.

Alis Risku langsung bertaut.

Sepagi ini?

Netranya menangkap sosok Mama dan Papanya yang sudah duduk berhadapan di meja makan.

Mama sedang memegang cangkir teh hangat di kedua tangannya, sementara Papa tampak membaca sesuatu dari tablet yang diletakkan di samping piring.

Untuk beberapa saat, Risku hanya berdiri mematung.

Pemandangan itu terasa begitu asing.

Sudah terlalu lama ia tidak melihat keduanya duduk bersama dalam satu meja seperti ini.

Dadanya sempat menghangat, sebelum perlahan digantikan oleh perasaan yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa.

Awalnya Risku ingin abai. Ia berniat berbalik badan dan melewati pintu lain menuju garasi untuk mengabil motornya.

Namun niat itu langsung buyar saat tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan mata Mamanya.

Risku berdehem sebelum akhirnya melangkah mendekat.

"Pagi, Ma. Pagi, Pa."

Papa mengangkat kepala. Senyum kecil langsung tersungging di wajahnya. "Pagi. Tumben bangun sepagi ini."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 30 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

my freaky brotherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang