Di perjalanan pulang, Asa malah sibuk bercerita tentang pantai yang ingin ia datangi nanti. Tentang pasir putih, ombak kecil, dan keinginannya membuat istana pasir besar. Jo mendengarkan sambil sesekali menimpali, merasa lega karena tangis anaknya sudah benar-benar reda.
Dalam hati, Jo berjanji mulai sekarang ia akan lebih hati-hati tentang hal-hal yang disukai dan ditakuti Asa. Baginya, menjaga Asa tetap nyaman jauh lebih penting daripada sekadar mengajak pergi ke tempat baru.
Mobil mereka berhenti di sebuah minimarket kecil dekat lampu merah. Jo turun sebentar membeli es krim favorit Asa, sementara Asa menunggu di dalam mobil sambil memeluk tas kecilnya. Saat Jo kembali, ia menyerahkan satu cup es krim coklat dengan topping warna-warni di atasnya.
"Nih buat anak papa yang tadi sedih banget."
Asa menerimanya pelan lalu tersenyum malu.
"Asa ga marah kok sama Papa." Ucapan sederhana itu justru bikin Jo makin merasa bersalah. Ia menghela napas kecil sebelum menatap anaknya lagi.
"Papa cuma takut Asa jadi ga percaya lagi kalau pergi sama Papa."
Asa langsung menggeleng cepat.
"Percaya kok. Soalnya Papa selalu nemenin Asa pas takut."
Kalimat itu membuat Jo terdiam beberapa detik. Hatinya terasa hangat sekaligus sesak. Selama ini ia sering merasa gagal menjadi sosok ayah yang baik setelah semua hal yang mereka lewati, tapi bagi Asa, keberadaannya saja ternyata sudah cukup menenangkan.
Hujan rintik mulai turun membasahi kaca mobil. Asa sibuk memakan es krimnya sambil melihat titik-titik air di jendela. Jo kemudian menyalakan lagu pelan agar suasana terasa lebih nyaman.
"Pa."
"Hm?"
"Nanti kalau ke pantai... jangan ngajak hewan-hewan lagi ya."
Jo tertawa kecil sampai bahunya ikut bergerak.
"Iya, janji. Cuma ada pantai, es kelapa, sama Asa."
"Asa sama Papa."
CUTTTTTTT!!!!!!!
HALO ADA YANG KANGEN CERITA INI GAAA??????
I'M BACKK
KAMU SEDANG MEMBACA
Harsa Sandyakala
RomanceIni hanya cerita keseharian tentang anak tunggal papa Jo dan Mama Zika.
