Kim Pov
Arrrrgggggg!!! Tita sungguh membuatku marah, kenapa tidak? Dia berani-beraninya memaki Dewi dengan kata-kata yang tidak pantas hanya karna masalah sepele. Emosiku benar-benar memuncak, apa kata Dewi nanti?. Aku harus menemui Dewi dan meminta maaf padanya.
Cepat-cepat ku raih jaket dan kunci mobilku tanpa menghiraukan Tita yang sedang menangis karna ku marahi tadi.
"Kau mau kemana?"
"Kim!"
"Kim!"
Aku tak meresponnya. Aku hanya fokus mengambil jaketku dan berlalu.
Aku menembus keramaian kota dengan gelisah, entah ada pawai apa yang menyebabkan jalan sedikit macet. Aku memutuskan untuk melewati jalan kecil yang dapat membebaskanku dari kemacetan. Sesekali kulihat arlojiku lalu balik fokus ke jalan.
Bagaimana jika Dewi marah dan nggak mau maafin aku? Atau jangan-jangan dia nggak mau kenal aku lagi? Yang lebih parahnya kalau Adel pun marah bagaimana? Arrrggghh!!! Tita, kau sungguh membuatku frustasi. Beberapa pertanyaan mengganggu pikiranku, semoga saja apa yang aku takutkan tak akan terjadi.
Setelah beberapa menit lamanya menembus jalan kota, akhirnya tempat tujuan sudah terlihat di depan mata. Universitas megah dengan berbagai penghargaan, merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Aku masuk dan mencari lokasi yang pas untuk memarkir mobil.
Aku berlari mencari keberadaan Dewi dan Adel. Dengan nafas terengah-engah aku menghentikan langkahku saat samar-samar melihat sosok gadis yang aku maksudkan tadi, ku sipitkan mata mencoba memastikan apa itu Dewi atau bukan? Ternyata itu benar Dewi, but wait! Dimana Adel? Ah sudahlah nanti langsung tanyakan saja.
"Dewi!!!!" Teriakku sambil berlari mendekatinya. Langkahnya terhenti, Dewi membalikkan badan dan cukup kaget melihatku.
"Dewi" Ucapku sambil mengatur nafas. Berlarian seperti ini membuatku berkeringat, untung saja aku tak ada riwayat bau badan. Jika ada, aku pastikan tak akan ada satu wanita pun yang mau denganku.
"Atur dulu nafasnya baru ngomong" ucap Dewi
Aku mengatur nafas dan menyeka keringat yang sudah sedikit membasahi badanku.
"Adel mana?"
"Lagi rapat! Oh ya, ngapain kamu kesini?"
"Aku cuma mau minta maaf soal Tita tadi, aku sama sekali nggak tau dia memakimu seperti itu"
"Oh, it's okay! Aku nggak apa-apa koq"
"Tetep ajah aku merasa bersalah Wi" ucapku tulus. Aku sudah tak tau harus bilang apa lagi untuk meredamkan rasa bersalahku.
"Santai ajah kali! Bisa tidak ngobrolnya sambil makan? Aku lapar" ucap Dewi sambil memegang perutanya
"Oh ya maaf-maaf! Yuk"
Aku dan Dewi berjalan beriringan menuju kantin, beberapa gadis centil melihatku kagum sambil menunjukkan kecentilannya yang jujur saja membuatku ilfeel.
Sampai di kantin Dewi langsung memesan beberapa menu makanan dan memilih tempat yang cocok untuk mengobrol. Ternyata kantin sudah terlihat ramai, beberapa orang yang aku kenal menyapaku dan akupun membalas sapaan mereka dengan sopan.
"Jadi kamu dateng kesini cuma mau minta maaf?" tanya Dewi, aku yang sedang memperhatikan keadaan kantin pun berbalik melihatnya.
"Aku merasa bersalah banget Wi! Sumpah" ucapku setelah menarik nafas pasrah.
"Nggak apa-apa kali. Aku ngerti koq perasaan Tita! Namanya juga cinta"
"Aku sebenarnya bingung pas dia minta balikan, jujur emang aku masih sayang sama Tita tapi,,,,," aku menggantungkan kalimat ku, karna jujur saja aku memiliki perasaan lebih terhadap Adel dan berharap bisa memilikinya. Dewi tersenyum simpul seolah mendengar dan tau isi hatiku.
