Adel Pov
Hari ini seperti biasa, aku harus menjalani aktifitasku sebagai mahasiswi di salah satu universitas terkemuka di kota ini. Dewi tak ikut bersamaku dikarenakan arah rumahku dan apartemennya berlainan arah jadi setiap kali aku menawarkan diri untuk menjemputnya selalu ditolaknya.
Hari ini aku memutuskan untuk mengendarai upi, ya panggilan untuk motor baruku, kalian pasti bertanya dimana upo? Dia sudah rusak dan tak bisa diperbaiki lagi.
Kulirik jam yang mengantung indah di dinding kamarku "haaa astaga! Udah jam 8" sesegera mungkin ku masukan perlengkapan kedalam tas dan berlari ke arah dapur menemui mamah.
"Mah, Adel brangkat dulu ya" ucapku sebelum meneguk habis susu buatan mamah.
"Eee sarapan dulu"
"Aku udah telat mah, dosennya udah mau masuk! Ntar di kampus ajah"
"Ya udah hati-hati"
setelah mengucapkan itu aku segera berlari ke halaman rumah dan cepat-cepat menstarter upi, untung tadi upi sudah di panaskan terlebih dahulu. Sebenarnya aku tak akan terlambat jika saja aku tak melamun, huhhhh!
Selama perjalanan aku tak henti-hentinya melirik arlojiku, aku tak mau terlambat di pelajaran Ms.clarkson. Si dosen killer berkaca mata, bertubuh gembul dan satu lagi tak cantik.
"Hah! Astaga, lama skali lampu merah ini" umpatku dalam hati.
"Permisi bisa menepi sebentar?" ucap seseorang.
"Apa kau bercanda? Aku sudah ter,,, ter,,," Aku tak dapat melanjutkan perkataanku saat melihat makhluk di depanku ini. "Dia sangat cute"
"Saya harap anda menepi" ucapnya lembut namun dengan tatapan tajam. Mau tak mau, akupun mengikuti perkataan orang tersebut yang ternyata adalah seorang Polisi. But wait! Apa nggak salah polisi bernama Kimberly? Bukankah nama tersebut untuk wanita?
"Maaf Pak Kimberly! Saya sudah terlambat, bisakah anda menjelaskan tujuan anda menyuruh saya menepi sebab saya harus segera berangkat" Ucapku sesopan mungkin, tak lupa dengan senyum mautku.
"Maaf nona, bisakah saya melihat KTP dan surat-surat motor anda? Sebab aku lihat motor anda tak memenuhi aturan yang berlaku! Lihat saja anda tak menggunakan kaca spion dan nomor plat motor anda pun tak ada" Jelasnya panjang lebar.
Aku hanya tersenyum kikuk mendengar pentanyaannya, satu hal yang perlu kalian ketahui aku belum melengkapi surat-suratnya. Good aku ditilang oleh polisi cute yang menyebalkan! Oke Ms.clarkson hari ini aku tak masuk di jammu.
"Sekarang anda ikut saya ke pos penjagaan didepan" ucapnya sambil menunjuk ke arah pos penjagaan tak jauh dari lokasi tempatku ditilang. "Baiklah" aku menstarter motorku, Namun tiba-tiba "turun!" bentaknya.
"Hey apa-apaan ini?" tanyaku geram. Tanpa menghiraukanku dia merampas dan membawa motorku ke arah pos tanpa memboncengku. Alhasil aku harus berjalan kaki ke pos. "Good job polisi belagu! Kau membuatku malu"
Bosan rasanya mendengar ocehan tak bermutu dari mulutnya, kenapa bisa seorang polisi bisa secerewet dia? Aku muak mendengarnya. Ngoceh panjang lebar pun pasti UUD (Ujung-ujungnya duit). Tuh kan baru juga dibilang, uang lembaran seratus ribuh 3 lembarku pun melayang begitu saja masuk kedalam kantong polisi matre itu.
Setelah mengurus semua yang membutuhkan waktu berjam-jam, aku membuka smartpone-ku hendak menghubungi Dewi tapi nomornya tak aktif. Kulihat ada beberapa missed called dan sms dari Dewi.
"Baiklah Nona! Anda sudah bisa pergi"
Aku tak menjawabnya, dan segera menstarter motorku tapi sebelumnya aku melangkah mendekatinya sehingga wajah kami berdekatan.
"Untuk ukuran Pria anda sangat cerewet Pak! Dan itu membuatku muak! Anda cute tapi sayangnya MATRE" aku sengaja menekan kata di akhir kalimat sebab aku sudah sangat muak dengannya. Dia hanya diam dan memandangku tanpa ekspresi.
"Oh ya satu lagi! Terimah kasih sudah membuatku tak masuk di jam pertama" aku tersenyum licik ke arahnya, lagi-lagi dia hanya diam.
Kim Pov
Hari ini aku ditugaskan untuk memantau arus lalu lintas di sekitaran pos penjagaan lampu merah sekaligus menilang pengendara motor dan mobil yang tidak memenuhi aturan berlalu lintas. Saat sedang bertugas, mataku tertuju pada seorang gadis manis ber-rok hitam, ber-sepatu airmax, baju yang ia kenakan tak ketat namun cukup membuat tubuhnya yang ramping terlihat semakin sempurna. Kuperhatikan motornya, dia tidak menggunakan kaca spion dan nomor platnya pun tak ada, Aha! Alasan yang bagus untuk menilangnya.
"Permisi bisa menepi sebentar?" ucapku.
"Apa kau bercanda? Aku sudah ter,,, ter,,," Dia tak melanjutkan perkataannya dan hanya menatapku. Ya ya ya, kutau dia pasti mengatakan bahwa aku ini tampan.
"Saya harap anda menepi" ucapku lembut namun dengan tatapan yang kubuat tajam agar dia mau menuruti perkataanku, dia hanya diam dan melirik papan nama yang terpasang di seragam dinasku.
"Maaf Pak Kimberly! Saya sudah terlambat, bisakah anda menjelaskan tujuan anda menyuruh saya menepi sebab saya harus segera berangkat" Rasa-rasanya aku ingin tertawa mendengar perkataannya, bagaimana mungkin dia memanggilku Pak sedangkan aku seorang wanita? Tapi tak apalah, itu jauh lebih baik daripada dia memanggilku dengan sebutan horror "Bu".
"Maaf nona, bisakah saya melihat KTP dan surat-surat motor anda? Sebab aku lihat motor anda tak memenuhi aturan yang berlaku! Lihat saja anda tak menggunakan kaca spion dan nomor plat motor anda pun tak ada" Jelasku sambil tersenyum.
Dia tersenyum kikuk memperlihatkan gingsul dan lesung pipinya, aku sempat dibuat takjub akan keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini, tapi buru-buru ku palingkan wajahku ke tempat lain, agar tak semakin terbuai akan kecantikannya.
"Sekarang anda ikut saya ke pos penjagaan didepan" ucapku sambil menunjuk ke arah pos penjagaan tak jauh dari lokasi tempatnya ditilang.
"Baiklah" ucapnya sambil menstarter motor. "Aku tau, bagaimana kalau aku menjahilinya" gumamku dalam hati.
"Turun!" Tak tau kenapa maksudku ingin berbicara halus namun terdengar seperti bentakkan sehingga membuatnya sedikit terkejut.
"Hey apa-apaan ini?"
Karna sudah terlanjur membentaknya akupun merampas dan membawa motornya ke arah pos tanpa memboncengnya dan membiarkannya berjalan kaki. Dari arah pos aku bisa melihatnya berjalan, bak supermodel dunia dia melangkah dengan anggun bahkan sangat anggun.
Sebagai Polwan yang baik memang sudah sepantasnya aku memberi pengarahan kepada pengendara agar mematuhi aturan berlalu lintas, tapi sepertinya gadis ini merasa bosan. Tak butuh waktu lama untukku meminta uang denda, masyarakat beranggapan bahwa polisi itu mata duitan, menilang dan meminta uang seenaknya, tapi aku memintanya bukan untuk ku nikmati. Setiap uang yang aku dapatkan dari pengendara yang melanggar aturan, uangnya aku tabung dan akan aku sumbangkan ke Panti asuhan. Jadi menurutku sah-sah saja bukan jika aku melakukan itu, toh walaupun mereka beranggapan lain aku tak peduli.
"Baiklah Nona! Anda sudah bisa pergi" Ucapku setelah kurasa cukup untuk mengerjainya.
Dia tak menjawab, yang dilakukannya hanya menstarter motornya namun tiba-tiba dia melangkah mendekatiku sehingga jarak wajahku dan wajahnya berdekatan.
"Untuk ukuran Pria anda sangat cerewet Pak! Dan itu membuatku muak! Anda cute tapi sayangnya MATRE" ucapnya sambil tersenyum, namun kali ini bukan senyum manis, senyum meremehkan lebih tepatnya. Aku hanya diam dan memandangnya tanpa ekspresi. Aku suka tipe cewek seperti ini, dia pemberani.
"Oh ya satu lagi! Terimah kasih sudah membuatku tak masuk di jam pertama" lagi-lagi dia tersenyum licik ke arahku, aku hanya membalasnya lagi dengan tatapan tanpa ekspresi.
