Bagian Satu

745 144 89
                                    

Hallo! sebelumnya cerita ini saya unpublished soalnya ada yang perlu saya ganti. Yaitu ... nama pemeran utama laki-laki. Yap, betul! Si Nathan. Berhubung nama Nathan di wattpad ini sudah buanyaaakk jadi saya ganti. Habis waktu itu nama yang terlintas ya Nathan. Dan saya baru tau ternyata udah bejibun. Yowes, lah. Terus nama Kinanti juga saya ganti. Terus ada beberapa tambahan di beberapa part. Nggak banyak, sih, hehe.

Oke, nggak butuh banyak cuap-cuap lagi. Silahkan dibaca versi barunya yaaa. Enjoy!

****

Ardo

Futsal sudah menjadi bagian dari hidup gue dan gue nggak akan pernah meninggalkan satu pertandingan pun dan nggak peduli siapa lawan dari tim futsal gue. Seperti pertandingan hari ini, sekolah gue melawan sekolah sebelah yang kata orang-orang, pemainnya kasar. Dan benar saja, sekarang gue mengerang kesakitan saat kaki gue diselengkat oleh salah satu lawan main gue.

"Kasar, emang!"

"Ternyata kata orang-orang bener, ya. Huh, gimana, sih?"

"Nggak bisa sportif!"

Kira-kira seperti itulah kalimat yang terlontar dari beberapa orang yang mengerumuni gue sekarang. Ya, gue akan memasuki sebuah ruangan yang sesungguhnya sangat tidak gue sukai. UKS. Alasan satu, kasurnya nggak empuk. Simple as that.

Dan di sinilah gue sekarang. Di dalam salah satu ruangan dengan dinding berwarna putih. Terdapat sebuah meja yang dikenal dengan meja dokter, dan beberapa tempat tidur-khas UKS-yang sebelah kanan dan kirinya terdapat tirai berwarna putih.

Gue mendengar suara seorang cewek yang meminta izin kepada dr. Tasya-dokter yang bekerja disini-untuk menjenguk temannya. Dia sendirian sambil membawa buku sosiologi dan memegang segelas teh hangat. Dan sekarang dia celangak-celinguk. Gue yakin, dia sedang mencari seseorang. Tapi, yang dia lihat sepertinya bukan yang dia cari. Dia melihat gue dengan tatapan yang buat gue sedikit takut.

"Kenapa lo? Kok ngeliat gue aneh gitu?" tanya gue penasaran.

"Nggak apa-apa. Gue kaya pernah lihat lo. Lo yang tadi digendong sama temen-temen lo itu, ya? Kaki lo kenapa?" tanyanya dengan sedikit memeringkan kepalanya.

"Menurut lo kenapa?"

"Kayanya gue udah ngerusak mood cowok populer di sekolah ini, ya. Ya udah gue duluan, teh manis hangatnya gue taruh sini ya. Bye," jawabnya dengan nada yang terdengar seperti menyindir lalu dia pergi meninggalkan ruangan ini dengan langkah santai.

"Hm."

****

Hari ini, gue berangkat sekolah lebih pagi. Gue sendiri pun nggak tahu kenapa tiba-tiba gue datang lebih pagi dari biasanya. Gue memanfaatkan waktu gue buat membaca buku biologi karena hari ini kelas gue ada jadwal ulangan biologi. Dan, gue pun nggak tahu kenapa gue tiba-tiba serajin ini? Lo, tahu? Gue adalah salah seorang yang cuek dengan ulangan. Baik itu yang udah direncanakan maupun tidak. Namun hari ini, entah setan apa yang memasuki tubuh gue ini.

Dan nggak lama kemudian, Kevin dan Vico datang ke kelas gue.

"Tumben lo berdua datang jam segini."

"Adanya juga kita berdua yang nanya kaya gitu, Do."

Pandangan Vico beralih pada sebuah buku yang gue pegang, "Ulangan Biologi, lo? Gampang, merem juga selesai lo mah!"

"Diem, lo. Jangan bikin kaki gue nafsu buat nendang lo berdua, nih." gue melirik dan sedikit menggerakkan kaki gue pada mereka.

"Eh iya, Icha apa kabar, Vic? Muka lo suntuk amat," balas gue mengalihkan pembicaraan seakan-akan tau alasan utama yang membuat muka Vico menjadi suntuk.

Back to YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang