Human Are Weak by queenrexx

379 21 0
                                        

Human - Christina Perri
* * *

Aires menarik napas dalam sebelum menyiapkan tinjunya untuk melakukan satu serangan terakhir. Peluh bersimbah di sekujur tubuhnya, deru napasnya memburu, energinya dikuras habis dalam pertandingan itu.

"Untuk Ayah." Ia bergumam sendiri, memantapkan hatinya.

Dan akhirnya satu tinjuan keras itu berhasil dilancarkannya. Kepalan kuat tangan Aires yang dibalut handwrap sukses menghajar rahang lawan.

"Dan Stark melakukan hook kiri yang menjadi pukulan K.O.! Gremony terjatuh dan Stark dinyatakan menjadi pemenang pertandingan kali ini!" Sang komentator berseru menggebu-gebu di meja siarnya. "Aku tidak percaya, John! Aires Stark baru saja mematahkan rekor Evelyn Gremony sebagai pemegang sabuk MMA Woman Championship terlama dan mencatatkan namanya sebagai pemenang termuda dalam sejarah!"

Aires memaksakan dirinya tersenyum walau tersengal-sengal. Lawannya jatuh tersungkur tak sadarkan diri di hadapannya.

"Aires! Kau menang! Kau menang!" Stephen Jovelle, mentornya, berlari masuk ke dalam arena kemudian memeluknya erat. "Demi Tuhan, Aires! Kau menang!"

Gadis muda bersurai cokelat tua itu terlalu letih untuk menjawab. Ia bersandar di bahu mentor yang sudah dianggap sebagai ayah keduanya. "Ya, Steph, aku menang," lirihnya.

"Oh, tidak, jangan sekarang, Aires." Wajah Stephen langsung muram. "Medis! Kami butuh bantuan di sini!"

Stephen meletakkan tubuh Aires secara hati-hati di lantai matras arena. "Aires? Kita akan segera ke rumah sakit, oke? Bertahanlah."

Ketika paramedis menyiapkan tandu untuknya, seorang wasit menyerahkan sebuah sabuk kemenangan pada Stephen. "Selamat, Aires," kata wasitnya sambil mengangguk pada Aires.

"Terima kasih." Aires berhasil mengukir senyum kecil. Tapi itu tak berlangsung lama karena kepalanya menjadi pening luar biasa. Rasa sakitnya menjalar dari kepala ke seluruh badan.

Hal terakhir yang Aires sadari bahwa ia melihat gurat kecemasan besar di wajah Stephen, namun seisi penonton dalam arena bersorak memujanya.

***

Aires baru terbangun saat jam telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia tertidur semalaman di ranjang rumah sakit, bahkan dengam pakaian yang belum sempat diganti; boxer dan crop top khas pemain MMA alias Mix Martial Arts, tempatnya bekerja sebagai pegulat profesional.

Di kamar rumah sakitnya, Aires mengedarkan pandangan, mencari-cari benda familiar yang tidak lain adalah tasnya. Ketika ia menemukan benda itu teronggok di ujung ranjang, ia langsung mengobok isinya, mencari pakaian yang bisa ia kenakan.

Aires mengernyit jijik mengingat dirinya tidak mandi, tapi itu tidak masalah.

Ketika sedang mencari pakaian yang pas, jemarinya menyentuh sesuatu yang terasa seperti logam yang diukir. Aires tersenyum menyadari sabuk kemenangannya telah sengaja diletakkan Stephen di dalam tasnya.

Usai berganti pakaian, Aires keluar dari kamar rawatnya sambil menenteng sabuk juaranya. Tidak mengherankan bagi dokter atau perawat di rumah sakit tersebut, karena Aires memang menjadi pasien rawat inap mereka.

Langkah Aires menuntunnya menuju sebuah ruangan. Genggaman tangan Aires menguat di sekitar sabuknya yang tidak ia sematkan di pinggang itu. "Hai, Ayah," sapa Aires sembari melangkah masuk ke dalam ruangan.

Lalu seketika Aires membeku. Orang-orang berkerumun di ranjang tempat ayahnya terbaring sakit. Stephen bahkan ada di sana, berikut dengan paman dan bibinya. Aneh, semua orang menangis dan tersedu.

Aires mengerti apa yang terjadi. Ia berjalan mendekat ke arah sang ayah, ia letakkan sabuk kebanggaannya itu di atas perut ayahnya. "Ayah, apakah kau menonton pertandinganku semalam?" Aires berkata lirih di telinga pria paling disayanginya itu.

Eager Stark tidak bergerak. Alat-alat pembantu pernapasan yang sering dilihat Aires berada di hidung dan mulutnya menghilang, semakin memperlihatkan jelas wajah pucatnya.

"Aku ... aku gadis ayah yang kuat." Bibir Aires gemetar ketika mengatakan hal itu. "Aku sudah menjadi manusia yang kuat. Bukankah begitu, Ayah?"

"Aires ..." Salah seorang bibi Aires menyentuh bahu Aires. "Aires, Sayang, maafkan aku."

Aires balik menatap bibinya sambil mengusahakan sebuah senyuman. "Aku memenangkan pertandingan semalam untuk ayah. Apakah aku sudah menjadi kuat, Bi?"

Tangis pecah di ruangan itu. Bibinya menarik Aires ke pelukannya, membiarkan gadis itu meluapkan seluruh emosinya yang bercampur aduk.

"Aku kuat." Aires menangis kencang di pakaian sang bibi. "Aku tidak lemah. Aku kuat! Aku lebih kuat dari yang kemarin! Aku ... kuat ..."

"Kau kuat, Aires," bisik bibinya lembut. "Ya, kau sangat kuat."

***

Gadis bernama Aires Stark tidaklah setangguh seperti yang mereka lihat di televisi pada saluran olahraga.

Memang, ialah Aires Stark. Pemain MMA yang menjadi master dalam bela diri kick boxing. Pemain wanita berusia tujuhbelas tahun yang berhasil merebut rekor pemegang sabuk juara wanita terlama dan menjadi juara termuda pada saat itu.

Tidak, fisik Aires memanglah kuat. Namun tidak dengan kondisi batinnya. Sejak kecil, ia belum pernah bertemu dengan ibunya karena ia pergi entah kemana, meninggalkan sang ayah mengasuh Aires sendirian.

Sang ayah selalu mengajarkan, bahwa gadis istimewa seperti Aires tidak boleh lemah di hadapan siapa pun. Aires mesti tangguh menghadapi segala yang ada di depannya; takdir, masa depan, bahkan kematian. Semuanya harus dilalui dengan mantap hati, tidak dengan isak tangis yang menohok.

"Aku ingin bermain gulat!" Aires mendesah mengingat saat-saat ia mengutarakan ketertarikannya dalam dunia Mix Martial Arts beberapa tahun lalu. "Itulah cara agar membuatku kuat. Iya, kan, Ayah?"

Sewaktu itu, ayah Aires tertawa. Aires takkan melupakan suara indah milik malaikat penjaganya itu. "Tidak begitu juga, Aires. Setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk menjadi kuat. Tetapi jika Aires memang tertarik untuk itu, Ayah mungkin bisa mengabulkannya."

Dari situ, dirinya berkecimpung di dunia perkelahian, legal tentunya. Di bawah pengawasan orang-orang yang sudah ahli, Aires berlatih selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya ia resmi menjadi pemain MMA dengan dimentori oleh Stephen Jovelle.

Ayah Aires mengutarakan betapa inginnya ia melihat Aires berjaya di dunianya itu, berdiri di tengah ring sambil mengangkat sabuk atas kemenangannya.

Namun itu hanya menjadi angan-angan belaka, faktanya ayah Aires mengalami kecelakaan persis ketika pertandingan pertama Aires di arena resmi berlangsung. Waktu itu ia kehilangan banyak darah, sehingga Aires harus mendonorkan darahnya jika ingin sang ayah tetap selamat.

Karena cukup banyak darah yang didonorkan, Aires jadi terserang anemia ringan. Ia diwajibkan selalu kontrol ke rumah sakit selama minimal seminggu sekali, dan tidak boleh berolahraga berat.

Tetapi bukan Aires namanya kalau ia tidak berani melanggar aturan, beberapa kali ia mengikuti pertandingan yang cukup menguras tenaganya ditemani Stephen. Tidak seperti mentor lain yang memberi semangat pada anak didiknya, Stephen malah selalu berseru agar Aires segera mengakhiri pertandingan sebelum kondisi fisiknya benar-benar memburuk.

Pada akhirnya, Aires mendapat apa yang ia mau. Ia berhasil memegang sabuk juara miliknya sendiri ... yang diperuntukkan untuk mendiang sang ayah.

Aires tersenyum miris di makam Eager Stark. Sebuket bunga anggrek telah ia letakkan di atas tanah kuburannya.

"Maafkan aku, Ayah." Air mata mengalir menuruni pipi Aires. "Aku membiarkanmu mati, aku tidak menjadi cukup kuat untukmu. Aku bahkan tidak membiarkanmu melihatku meraih kemenangan. Aku ... aku ... aku bukan anak gadis kuat ayah."

Aires terisak di makam tersebut, tungkainya yang telah lemas jatuh berlutut di samping makam. Di saat yang bersamaan, beban sekonyong-konyong datang dan menumpuk di bahu Aires, kekuatannya di fisik maupun batin tiba-tiba lenyap, menghilang bersama kepergian sumber kekuatan utama yang menopang kehidupannya.

* * *
TAMAT

Song Fiction : LonelyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang