"Yang lain? Siapa?" sentak Afkar.
"Ya... yang lain Kar," gadis itu tetap santai. Matanya beredar memandang sekolahnya dari ketinggian. Bagus juga.
Atha tetap diam, mendengarkan dua insan yang sedang mempertahankan maunya masing-masing.
"Gini loh ya, Sheen... kamu udah mantep belum sama yang lain? Gak sama Afkar aja?" Atha sadar, kalau dirinya diam saja, hal ini akan lama selesainya.
"Ya udah fix lah Tha, gini loh... aku itu maunya kita sahabat. Udahlah, kita tetep sahabat aja. Skenario bakalan indah deh, soalnya kita sama-sama saling melengkapi. Gak ada hasutan buat saling memiliki satu sama lain. Daripada itu juga, kita kan gak ada yang sakit hati karena sebelumnya kita punya perasaan ke sahabat kita. Kalo udah bener-bener sahabat kan jadinya enak Tha. Iya gak Kar? Aku harap sih kalian ngerti apa yang aku mau." Gadis itu terdiam lagi. "Aku maunya kita gak ada rasa untuk memiliki sedikitpun. Aku pingin kita bener-bener saling melengkapi. Gak ada persaingan maupun perselisihan konyol gara-gara perasaan."
Atha mengangguk, dalam lubuk hatinya membenarkan yang diungkapkan Sheen. "Sheen bener, aku setuju. Kamu Af?"
Pemuda itu masih kesal, satu lawan dua jelas dirinya kalah telak! Sesaat dia mendengus, namun berusaha meredam emosinya sendiri. "Oke, apa boleh buat. Kalian udah setuju, mau gak mau aku juga harus mundur teratur. Kita sahabat kan?" ucapnya sambil tersenyum.
Kedua gadis itu saling pandang, ujung bibirnya saling terangkat membuat senyuman manis.
"Kita sahabat!" jawabnya serempak. Kemudian saling berpelukan. Atmosfer hangat menyelimuti.
Rasanya beban terangkat semua. Rasa hangat meyelimuti hati mereka. Benar-benar persahabatan yang indah. Mulai detik ini, Sheen yakin gak akan ada lagi perseteruan hati diantara mereka. Sangat-sangat yakin. Masalahnya kali ini clear.
Tet... Tet... Tet...
Bel masuk berbunyi.
"Yuk ke kelas, udah masuk nih." kata Afkar sembari melepaskan pelukan.
"Yuk,"jawab kedua gadis itu yang lagi-lagi serempak.
***
Sudah satu bulan jalinan persahabatan Afkar, Sheen, dan Atha berjalan mulus. Gak ada guncangan sama sekali. Indah bukan?
"Ma, pesenan kue lagi banyak gak? Sheen bantuin deh habis pulang sekolah," ujar gadis itu riang.
"Harus dong!" jawab wanita paruh baya itu sambil tertawa.
Anak gadisnya pamit berangkat ke sekolah. Di lubuk hatinya yang terdalam dia memanjatkan doa, agar anaknya diberi keselamatan dan segala kemudahan.
---
Pst... satu part lagi epilog loh. Yuhuuuu bakalan tamat juga wkwkwk.
Aku kasih bocoran buat Epilognya deh, di sana aku ceritain 10 tahun kemudian. Kira-kira gimana yak.... Hahaha
Yasudah, ini banyak cakap. Maafkan atas segala typo, aku gapake edit ulang soalnya. Enjoy!
Rabu, 4 November 2015 (21:31)
Khaf~
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendzone?
Fiksi RemajaTak pernah ku sadari jika akan seperti ini. Semuanya tak pernah kuduga. Semuanya menjadi makin kelam. Ini masalah hati, yang tak dapat 'tuk dipungkiri. Ini cinta yang bodoh. Semua menjadi rumit, namun apakah cintaku bertepuk sebelah tangan atau?
