-1-

198 13 4
                                    

Ketika kepercayaan dibalas dengan kebohongan, tidak ada yang namanya kesempatan kedua. -Adrienna.

#

Hari ini adalah hari pertama Adrienna memakai putih abu-abu. Hari di mana mos diadakan dari SMA Global Venus. Enam belas ikat rambut yang sesuai dengan tanggal lahirnya, telah terikat rapih di rambut Adrienna. Dia pun juga di dandan sedemikian rupa oleh bundanya. Awalnya Rienna sangat menolak saat ingin di rias, tetapi mengingat semua itu peraturan mos, mau tak mau ia menurutinya.

Sekolah mulai ramai, lapangan pun sudah dipenuhi kursi yang telah diduduki para siswa baru. Rienna pun mencari-cari kursi yang kosong, dan mendapati di bagian tengah. Tidak ada yang ia kenal di sini, walaupun ada beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan yang sulit ditebak.

'Muka gue cemong ya? Bodo amat deh.' Pikirnya.

Rienna tak menghiraukannya. Rienna lebih memilih memainkan ponselnya, mencoba menyibukkan diri daripada melamun tidak jelas dan menghiraukan tatapan itu.

Saat sedang asyik bermain ponselnya, tiba-tiba seseorang duduk di samping Rienna. Rienna sadar, namun tak menghiraukannya lagi. Hingga terdengar suara yang sukses membuat Rienna menoleh.

"Hey!"

Dia memanggil Reinna, "H-hei." Keduanya bersalaman dan saling tersenyum.

"Gue Kayra. Lo?"

"Adrienna. Panggil aja Rienna." Lagi-lagi Rienna tersenyum -walau terlihat maksa-.

"Okey, Rienna. Seneng bisa kenalan sama lo." Ucap Kayra yang dibalas dengan anggukan kepala Reinna.

Keduanya diam, Rienna kembali memainkan ponselnya. Sama halnya dengan Kayra. Tapi beberapa menit kemudian, lagi-lagi ada suara yang sukses membuat semua orang menoleh ke asal suara itu, termasuk Kayra. Kecuali, Rienna.

"Tes! satu, dua, tiga." Entah siapa namanya sedang mengecek mic di mimbar. Lalu, dia kembali berkumpul pada teman-temannya.

Bersamaan dengan hal itu, suara siswa di lapangan pun berteriak histeris. Walau terdengar berbisik-bisik, namun tetap saja akan terdengar oleh siapapun. Termasuk Rienna. Namun, Rienna tetap saja tidak menghiraukan suara-suara itu. Rasa penasarannya hanya untuk bermain puzzle di ponselnya.

"Ampun deh, ganteng banget."

Rienna mengenyeritkan dahinya, suara Kayra sangat membuat Rienna kepo. Siapa yang ganteng?

"Kenapa, Kay?" Rienna bertanya, dan seketika Kayra menoleh dengan wajah sumringah.

"Duh, Rien. Itulοh yang ngecek mic tadi, GANTENG. PAKE. BANGET!!!!" Suara Kayra meledak begitu saja, teriakkannya membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Rienna menutup telinganya dengan cepat, takut-takut telinganya tuli karna Kayra.

Rienna menatap tajam Kayra. "Gak pake teriak juga, Kayyy."

Kayra pun hanya bisa memamerkan rentetan giginya, memasang puppy eyes dan meminta maaf pada Rienna.

"Sorry, Rien. Gue kelepasan, hehe. Abisnya dia ganteng banget, sih." Lagi-lagi dia membicarakan si ganteng itu.

"Emang siapa, sih?"

"Dia anggota OSIS kayanya. Entar dulu deh, gue cari. Mana yaa-" Kayra mencoba mencari-cari cowok yang dia maksud, Rienna terus melihat gerak-gerik Kayra hingga ia melihat Kayra melotot dan menganga yang cepat-cepat ditutup oleh tangannya sendiri.

"ITUU!!!" Sambil menunjuk ke arah ruang osis.

Rienna pun mencoba melihat tunjukan dari Kayra, melihat segerombolan anak osis yang sedang membicarakan sesuatu. Namun, matanya tertuju pada cowok itu.

ADRIENNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang