-4-

79 9 0
                                    

-Marco. R-

Marco bersandar pada bangku taman belakang sekolahnya, sambil memutar balikkan ponselnya. Melamun, dan melamun. Siswa berlalu-lalang di depannya, bahkan sampai ada yang sengaja mondar-mandir hanya untuk melihat ketampanan Marco. Tetapi Marco tetap saja tidak menggubrisnya, bahkan tidak sadar sama sekali. Tubuhnya ada di taman itu, namun pikirannya ke mana-mana. Memikirkan tentang kejadian-kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, yang membuat dirinya tidak tahu harus melakukan apa. Ingin bicara pada Leo, tetapi dia merasa belum waktunya.

Adrienna.

Nama itu terlintas di pikirannya, namun segera ia tepis pikiran itu. Ia menggeleng pelan dan menggumam.

Gak, cuma kebetulan sama, Co.

"Marco!" Seseorang menepuk bahu Marco dan duduk di sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Leo?

"Hm." Entah mengapa Marco sedang malas bicara pada siapapun, moodnya sedang tidak bagus hari ini.

"Gue cariin lo kemana-mana, taunya di sini. Lagi galau ya? Soalnya kan lo ke sini kalo lagi badmood doang." Cerocos Leo, Marco pun hanya mengedikkan bahunya acuh tanpa menoleh ke Leo sedikitpun. Pandangannya hanya lurus ke depan, dan kosong.

"Co, ceritalah sama gue. Kan gue sahabat lo dari kecil. Gue tau lo lagi kenapa-kenapa." Ucap Leo lagi.

Lagi-lagi Marco membuang napasnya pelan. "Adrienna, Le."

Seketika mata Leo membelalak lebar. "LO UDAH KETEMU SAMA ADRIENNA?!!?!"

Leo berteriak tanpa sadar hingga beberapa orang melihatnya dengan tatapan heran.

Marco menoyor kepala Leo. "Gak usah teriak, bodoh!"

Leo meringis kesakitan. "Gua kaget, Co. Sorry sorry."

"Oke, jadi ada apa dengan Adrienna?" Leo bertanya lagi, dan kali ini terlihat serius.

Marco mengangkat sebelah alisnya, menatap heran Leo. Lalu, kembali datar. "Bukan dia. Tapi, Adrienna anak baru yang kemaren gua ceritain."

"Ooohh, yang kata lu kasih pita ke dia itu ya? Namanya Adrienna? Bisa sama ya." Leo berbisik sambil seolah-olah sedang berpikir.

"Cuma kebetulan paling. Tapi lo tau gak? Dia tinggal satu komplek sama gue, Le! Rumah bokap-nyokap yang baru gue tempatin."

"Serius? Hm, kayaknya lo harus cari tahu tentang dia deh, Co."

"Buat apa?" Tanya Marco masih tak mengerti.

"Lo oon apa bolot sih? Lama-lama gua cuci dah tuh otak." Ledek Leo sambil menunjuk kepala Marco.

Marco langsung menatap tajam Leo. "Sembarangan Lo!"

"Sorry, bro. Jadi gini, mending lo cari tau tentang dia. Kali aja dia itu sosok yang lo cari selama ini, Co."

Marco sempat berpikir, menimbang-nimbang saran Leo. Apakah Marco harus mengikuti sarannya atau tidak.

"Seharusnya dia inget gua, Le. Kita pernah ketemu di taman komplek, dia tahu nama gua. Tapi, kenapa dia masih bersikap biasa aja? Udah jelas kan kalo bukan dia orangnya?"

"Gak ada salahnya mencoba." Ucap Leo sambil menepuk bahu Marco, lalu pergi dari taman itu.

Leo membuat Marco harus berpikir dua kali. Mungkin benar kata Leo, gak ada salahnya coba buat cari tahu tentang anak baru itu. Toh juga memang tujuan Marco ke Indonesia untuk mencari penghuni hatinya.
Ya, gue harus coba.

Tapi, gimana caranya?

»«

"Rienna!"

ADRIENNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang