"Ah, ayo dong, bisnya lewat! Gue mau sekolaah, duhh!" Rienna menggerutu kesal karna bus yang dia tunggu tak kunjung datang.
Rienna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sambil menengok kanan kiri berharap akan datang bus yang ingin ditumpanginya. Tapi tinggal beberapa menit lagi gerbang sekolah akan ditutup oleh pak Tomo, dan bus tidak juga datang. Hari ini Rienna tidak diantar bang Adrian karena bang Adrian harus segera menyelesaikan tugasnya yang akan dikumpulkan ke dosen, dan sopir pribadinya sedang pulang kampung. Akhirnya dengan berat hati Rienna mengangguk pasrah saat bundanya menyuruh naik bus. Dan di sinilah Rienna, di halte dekat rumah. Menunggu bus yang entah kapan datangnya.
"Sialan, 20 menit lagi!" Rienna terlonjak kaget saat melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Rienna membuang napasnya pelan, ia menatap kosong ke arah jalanan yang sepi. Sama sekali tidak ada yang berlalu lalang di sana, hanya suara angin yang didengarkannya. Anginnya lumayan kencang, mungkin sebentar lagi akan hujan. Rienna tidak tahu harus bagaimana sekarang, pikirannya sudah ke mana-mana. Dia bisa saja pulang ke rumah, apalagi jaraknya yang sangat dekat. Tapi itu tidak mungkin, dia ingat satu hal, kalau hari ini ia akan ulangan matematika.
Drrtt! Drrt!
Ponsel Rienna bergetar, ia segera mengambilnya dari saku seragam. Lalu melihat siapa yang menelponnya sekarang.
Kaylove❤
Ah, Kayra. Dia sendiri yang memberi nama itu di ponsel Rienna.
Rienna pun menjawabnya.
"Haloo?! Rien? Lo di mana? Lo gak masuk? Lo inget gak 'sih hari ini kan ulangan matek, lo gak takut dimarahin bu Eli?! Sumpah ya lo tuh-"
"Kayra, plis lo cerewet banget." Potong Rienna saat Kayra mencerocos tidak jelas hingga Rienna sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Hahaha! Kan gue emang kayak gini. Eh iya, lo kenapa gak masuk?"
"Gue bukan gak masuk, Kay. Ini dari tadi gak ada bis yang lewat."
"Hah? Bis? Emang bang Adrian ke mana?"
"Dia ada tugas."
"Terus kenapa lo gak naik taksi atau ojek, Rien?"
"Jalanan sepi, gue gak tau kenapa bisa kayak gitu. Taksi, ojek, gak ada yang lewat. Gue harus gimana, nih!"
"Ntar dulu, gue lagi cari solusinya."
"Ah, gaya lu."
Tidak ada jawaban lagi dari Kayra. Tapi, Rienna masih bisa dengar jelas kalau Kayra sedang bertanya pada teman-temannya untuk menjemput Rienna. Rienna hanya terkekeh kecil dan berniat untuk tidak memutus sambungannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara motor dari kejauhan. Awalnya Rienna mengacuhkannya, ia berpikir pasti bukan tukang ojek karena ia yakin itu suara motor sport. Tetapi ia pun mendongakkan kepalanya karena motor tadi berhenti di depan halte, tepat di depan Rienna.
Ponsel yang masih menempel di telinga Rienna tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Halo, Rien? Itu si Deo mau jem-"
"Nanti gue telpon lagi." Rienna langsung mematikan sambungan telponnya dengan Kayra, dan kembali menatap wajah laki-laki di balik helm itu.
Rienna berusaha mengenalinya, tapi tetap saja dia tidak tahu siapa laki-laki itu. Karena laki-laki itu juga tidak berbicara apa-apa.
Rienna mengernyitkan dahinya.
'Duh, jangan-jangan dia mau nyulik gue?' Batinnya dalam hati.Rienna pun bangkit dari tempat duduknya dan berniat ingin pergi menjauhi laki-laki itu sebelum laki-laki itu berbuat sesuatu pada Rienna.

KAMU SEDANG MEMBACA
ADRIENNA
Teen FictionDia kembali. Entah membawa hal baik atau buruk, lagi. [SLOW UPDATE]