-8-

85 9 0
                                        

Ali.

Hanya itu. 3 huruf yang selalu menghantui pikirianku.

Kalaupun aku ingat, aku pun tidak tahu apa yang akan aku lakukan.

Membencinya, atau tetap seperti dulu,

Yang selalu menyukai senyumannya.

-Adrienna, 16 September 2016


~°~


Rienna menghela napasnya, dia merasa lega karena semua yang memenuhi pikirannya sudah tercurahkan ke dalam buku diary kesayangannya. Dia berusaha melupakan kenangan itu, dan menguburnya dalam-dalam. Tapi kenyataannya, dia masih belum bisa melupakan sepenuhnya. Menurut Rienna, orang itu sudah menjadi bagian dari hidupnya untuk beberapa tahun dan itu sudah membuat Rienna nyaman dengan orang itu walaupun saat itu ia masih belum paham arti cinta.

Rienna menutup diarynya dan menaruhnya di bawah kasur agar tidak ada seorang pun yang bisa menemukan diarynya dan membaca isinya. Ia hanya tidak ingin ada yang tahu apa yang dia rasakan, cukup dirinya sendiri.

Rienna keluar kamar dan menaiki tangga yang mengarah ke rooftop, di mana dia menjadi sangat suka tempat itu sejak kehadiran orang itu. Cuaca saat ini sangat mendukung, membuat Rienna ingin berlama-lama berada di rooftop. Rienna duduk di ayunan beratap sambil memandang gumpalan awan yang sedang berjalan dengan tenangnya. Dia kembali teringat kenangan masa lalu dengan orang itu, saat mereka sedang berada di rooftop ini dan memandang awan. Keduanya sama-sama tersenyum, tenggelam pada pikirannya masing-masing.

"Bagus ya, Al?" Tanya cowok itu saat mereka masih memandang awan dan menikmati angin.

"Bagus banget, Li. Aku baru tau rasanya berdiri di sini. Enak banget!" Seru Rienna.

"Kamu sih, punya rooftop tapi gak pernah ke sini."

"Ya, aku kirain tempat ini bosenin banget karna gak ada apa-apa. Tapi, setelah kamu ajak aku ke sini aku jadi suka! Makasih, ya." Ucap Rienna lagi.

Anak cowok itu tidak menjawab, melainkan beralih menatap Rienna yang masih tersenyum. Merasa diperhatikan, Rienna menoleh dan mereka pun saling menatap. Keduanya kembali tersenyum, tidak ada yang mengeluarkan suara.

"Mau bikin janji gak?" Tanya cowok itu tiba-tiba.

Rienna mengernyit bingung. "Janji?"

"Iya, janji kamu sama aku yang selalu bersama selamanya." Jelas cowok itu.

"Aku tau kita masih SD, Al. Tapi aku mau kita selalu kayak gini terus, susah seneng bareng, Al. Janji ya?" Tambahnya sambil mengangkat jari kelingkingnya.

"Janji." Ucap Rienna dan menautkan jari kelingkingnya dengan cowok itu.

Sekarang, ke mana janji itu? Bullshit.
Nyatanya, dia pergi meninggalkan Rienna yang jelas-jelas sudah sangat nyaman dengan cowok itu, bahkan cowok itu pasti tidak tahu kalau Rienna sudah pindah dari rumahnya yang penuh dengan sejuta kenangan saat bersama cowok itu. Tapi tak bisa dipungkiri Rienna pun merindukan cowok itu. Cowok yang membuat hari-harinya berwarna, cowok yang selalu dipanggil dengan sebutan 'Li' oleh Rienna.

ADRIENNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang