Kau ingat, saat aku bingung dan merasa tidak nyaman berada di ruang lingkup kampus?
Kau memanggilku.
Kau memanggilku dengan alasan kau ingin mengajakku ngobrol.
Di saat kita telah berdua, kau mulai buka suara, kau menanyakan soal permasalahan diriku yang sedang gusar.
Saat itu, aku sama sekali tak ingin bercerita sampai kau terus membujukku dan akhirnya tangisku pecah.
Kau ingat?
Kau tidak menghentikanku menangis, yang kau lakukan hanya mendengarkanku bercerita.
Matamu tak hentinya menatapku.
Tapi mataku hanya fokus ke arah lain sambil mengusap air mataku.
Diakhir ceritaku, kau membujukku untuk tidak menghiraukan siapa pun itu.
Kau menyuruhku mengikuti proses yang ada.
Kau berusaha membuatku tenang.
Dan apa yang aku lakukan?
Aku hanya menunduk mendengarkanmu dan sesekali menolak argumenmu.
Tapi kau dengan kukuh, membuatku tenang dan seolah-olah kau menjamin segalanya tentangku.
Sampai diakhir pembicaraan kita, kau tetap membujukku dan menyuruhku pulang dengan hati-hati.
Dan kau yang menyelesaikan semua permasalahanku.
Sampai saat ini, kejadian itu tidak akan kulupakan.
Tidak kulupakan.
Tapi mungkin kau sudah melupakannya.
Terima Kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia dan Aku
ChickLitDia pria yang baik. Sosok yang sedikit bicara dan aku yang begitu cuek. Rasa pedulinya terhadap banyak wanita tapi tidak pada sembarang orang. Sosok yang membuatku tenang bersamanya saat tangisku pecah. Seorang pria yang selalu menanyakan kabarku me...
