7

45 11 1
                                    

Author's POV

Liana merebahkan tubuh ke kasur. Menggerakkan tangannya untuk dapat meraih ponsel yang ia jatuhkan ke kasur pula. Seperti biasa, ia sendirian di rumah. Baru tiga jam lagi Mamanya pulang.

Liana memeriksa LINE nya, dan mulai chat dengan Marsya. Jawaban yang lama dari Marsya membuatnya mulai bosan dan bertekad untuk melihat postingan Alwan. Ia belum pernah melihat postingan itu dengan matanya sendiri, terkecuali postingan yang ketiga.

Ia kecewa. Ketiga postingannya telah dihapus oleh penulisnya. Kenapa sih Alwan? Batinnya.

Liana : Syaaa (13.10)

Liana : Sya postingannya Alwan udah dihapus (13.12)

Tidak lama, terdengar pesan masuk.

Alwan?

Alwan : halo liana

Liana : Hai, Alwan

Alwan : gue boleh ke rumah lo g?

Liana : Sini

Alwan : ok on my way

Read.

*

"Kenapa postingan lo di LINE dihapus?" tanya Liana memulai percakapan.

Alwan yang sedang memeriksa isi kulkas Liana pun menoleh seketika. "Mang napa?"

Liana memilin ujung rambutnya. "Gapapa."

Alwan mengeluarkan sebotol Fanta dan mengambil dua gelas. "Gue keluarin ya?"

"Hm, telat. Udah dikeluarin baru bilang. Yaudah sini, gue juga pengen." cibir Liana yang bangkit untuk membantu Alwan.

Mereka duduk di atas karpet biru ruang keluarga rumah Liana. Sambil sesekali meneguk minuman soda berwarna merah itu. Liana meraih remot teve di atas meja, membuatnya setengah berdiri. Ia menekan tombol On/Off lalu muncullah seorang penyiar berita yang sedang membacakan beritanya.

"Ganti Li, gue ga suka berita,"

Liana mengubah saluran tevenya, lalu muncul seekor macan yang ingin menerkam mangsanya. Liana sedikit terperanjat.

"Halah lebay lo," ucap Alwan diiringi kekehan Liana.

"Udah Li, ini aja." sambungnya saat Liana hendak mengganti salurannya.

Liana mengangguk dan meletakkan remot di sampingnya, dan iapun kembali meneguk Fanta yang tinggal setengah.

"Wes gila, liat noh Li zebranya ditolongin,"

Liana hanya mengangguk dan ikut menonton.

"Ntar kalau lo dijahatin orang, gue bakal nolongin lo juga, kayak zebra itu." ujar Alwan enteng.

"Halah,"

"Ngeremehin gue, lo. Awas aja kalau lo dijahatin orang, gue ga mau nolongin."

"Elah baper banget, Mas." Liana tertawa kecil.

Alwan tersenyum miring. Ia teringat akan sesuatu. Rio.

"Lo masih suka ketemu Rio?"

Liana menoleh cepat. "Hah?"

"Kurang jelas apa? Lo masih suka ketemu Rio?" ulang Alwan dengan nada yang lebih tinggi.

"Ng-ngga lah. Kan bimbelnya baru mulai besok."

UnpredictableTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang