Liana POV
Aku berjalan masuk ke gedung tempat bimbelku setelah mengucapkan terima kasih pada Alwan. Aku mengencangkan ikatan pada rambutku dan melangkah lebih cepat lagi. Ketika aku sampai tepat di depan pintu, aku menghentikan langkah. Pertama, karena aku akan membuka pintu, dan kedua, ada seseorang memanggil namaku.
"Liana!"
Aku menoleh dan mendapati seseorang yang tak asing lagi bagiku. Rio!
Aku melempar senyum manis dan ia juga ikut tersenyum.
"Lo bimbel disini, ya? Wah, masuk deh, yuk!" Tanya sekaligus ajaknya dan berjalan ke sebelahku lalu membuka pintu dan masuk.
Aku mengingat sesuatu. Dengan cepat aku menoleh ke arah mobil Alwan dan beruntung, Alwan tidak sedang melihat. Kepalanya tertunduk. Mungkin sedang mencari sesuatu yang jatuh?
Di dalam, aku duduk di kursi yang disediakan bersama Rio dan berbincang-bincang.
"Lo kenapa nggak bilang-bilang les disini juga?" Tanyanya memulai percakapan.
"Eum.." aku harus jawab apa, ya? Kalau aku jawab 'Udah lama, kok', pasti dia akan nanya kenapa aku nggak bilang saat dia menjawab pertanyaanku soal dimana dia bimbel. Ingat kan? Waktu di bis sekolah itu? Dan kalau aku jawab 'Iya, baru daftar', nanti dia berfikir kalau aku daftar disini karena ada dia. Aduh, serba salaaah!
"Li?" Rio menggerakkan tangannya di depan wajahku.
Aku terkesiap dan membuyarkan lamunanku. "Eh? I-iya, didaftarin mama sama papa disini," jawabku dan tersenyum di penghujung kalimat. Yap kurasa ini jawaban yang cocok.
Ia menganggukan kepalanya mengerti. "Kelas apa?"
"Hmm, apa ya? Kok gue nggak dikasih tau waktu itu?"
Aku ingat saat pertama aku daftar, Mbak administrasi hanya memberitahu jadwal harinya saja.
"Oh gitu? Biar gue tanyain deh. Lo tunggu ya," Rio beranjak lalu berjalan menuju meja administrasi, lalu menemui seorang wanita yang waktu itu mendaftarkanku. Rio terdengar menyebutkan namaku dan menunjuk ke arah tempat aku duduk. Si wanita tadi menoleh ke arahku lalu mengeluarkan sebuah buku. Ia membacanya dengan cermat lalu memberitahukan sesuatu pada Rio. Kemudian setelah berterimakasih, Rio kembali dan duduk di sebelahku.
"Lo sekelas sama gue, di kelas A." Ucapnya. Mataku membulat sempurna.
"Serius?" Tanyaku memastikan.
"Iya,"
Aku mencoba tersenyum. Ia masih menatapku dengan satu alis dinaikkan. "Kenapa, Li?"
"Nggak apa-apa,"
Rio mengangguk. "Ke kelas yuk?"
Aku tersenyum dan mengangguk setuju. "Yuk."
Aku dan Rio beranjak dari kursi dan aku mengekori Rio berjalan menuju kelas. Kami menaiki tangga, mungkin kelasnya ada di lantai atas. Benar saja, tepat di samping tangga Rio masuk ke dalam sebuah ruangan dan aku juga ikut masuk.
Di dalam ruang kelas ini, sudah terdapat tiga orang yang belum ku kenal. Berbeda dengan Rio yang langsung menyapa ketiganya saat masuk ke dalam kelas.
Rio duduk di barisan kedua dari depan, sedangkan aku masih berdiri. Mencari tempat duduk.
"Li, lo duduk di samping gue aja," ucap Rio sambil menjuk sebuah kursi kosong di sebelahnya.
Aku tersenyum dan melangkah ke kursi yang ditunjuknya, tepat di samping kirinya. Rio berada di dekat dinding.
"Baru, ya?" Aku menoleh ke sumber suara yang ternyata berasal dari ketiga teman Rio yang tadi. Ada seorang gadis diantara ketiganya, yang juga barusan bertanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable
Teen FictionCerita klasik. Seseorang menyukai sahabatnya sendiri saat sahabatnya itu menyukai orang lain yang tak sengaja ia jumpai. Tapi bisakah kisah Liana, Alwan, dan Rio, berakhir saat semuanya dalam posisi yang menguntungkan?