"Weh, songong," celetuk gue saat Liana lewat dengan ngga nyapa gue.
Liana berbalik. "Lo aja gitu sama gue,"
Gue mengangkat sebelah alis. "Gitu gimana sih?"
"Ah, gak usah pura-pura engga tau! Jelas-jelas kemaren lo diemin gue, jutekin gue,"
Gue tertawa kecil melihat tingkahnya seperti itu. "Oh, iya. Yaudah, gue minta maaf ya, Liana,"
"Gue tau itu ngga tulus."
"Dih! Tulus kok, Li, tulus,"
"Beneran?"
Gue mengangguk. "Iya lah,"
Ia tersenyum lalu mendekat ke arahku. "Oke!"
"Woi, jangan pacaran woi!!"
Gue dan Liana menoleh bersamaan.
"Bukan kalian, kali! Hahaha!!"
Marsya sialan. Ngga liat apa di koridor yang berduaan gini cuma gue dan Liana?
"Berisik ih, Marsya!" Teriak Liana.
"Li, gue balik ke kelas dulu ya. Berisik tuh temen lo,"
"Iya, Wan. Eh tunggu deh,"
"Ya?" Gue menoleh lagi setelah beberapa langkah.
"Post-an LINE lo yang banyak itu buat siapa sih? Galau banget kayaknya,"
Mampus. Mau bilang apa gue.
"Ah.. ngga banyak kok. Cuma tiga,"
"Iya sih. Tapi buat siapa? Boleh kali cerita-cerita sama gue. Kali aja bisa gue bantuin buat deketin dia,"
Weh. Gimana mau cerita kalau orangnya itu lo.
"Haha, ngga kok,"
"Gue penasaran aja sih, Wan. Tapi kalo lo gamau ngasih tau juga ngga papa. Gue ke kelas ya!"
Liana berlari ke kelasnya sementara gue masih terpaku. Itu anak kenapa ngga peka-peka ya? Bingung gue.
Liana POV
"Marsyaaa! Lo apa banget sih tadi!" Teriakku saat sampai di kelas.
"Dih, orang gue bukan neriakin elu,"
"Halah, jangan boong,"
Akupun duduk di kursiku. "Sya,"
Marsya menoleh. "Pe?"
"Buset singkat amat yak,"
"Ada apa, Liana yang cantik?"
"Kira-kira post-an LINE nya Alwan buat siapa ya? Gue kasian aja gitu dia galau begitu,"
Marsya mengernyitkan dahinya. "Yang mane?"
"Yang ada tiga itu. Dari seminggu yang lalu tuh dia ngepost,"
Marsya membuka ponselnya lalu terlihat membaca sesuatu.
"Et dah, Liana," katanya setelah selesai membaca sesuatu itu.
"Baca apaan sih?"
"Post-an LINE nya Alwan lah. Ini mah buat lo, Li, buat lo! Lo jadi orang jangan polos-polos banget dong!"
Aku mengernyitkan dahi. "Maksudnya?"
"Nih ya. Lo pernah ngobrolin Mario Bross gak, sama Alwan?"
Aku mengingat-ingat sesuatu. "Ya, pernah. Duluuu banget. Kelas tiga atau empat SD,"
"Lo pernah minta dijajanin gak sama Alwan? Jajanin sosis bakar?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable
Teen FictionCerita klasik. Seseorang menyukai sahabatnya sendiri saat sahabatnya itu menyukai orang lain yang tak sengaja ia jumpai. Tapi bisakah kisah Liana, Alwan, dan Rio, berakhir saat semuanya dalam posisi yang menguntungkan?