Penerbangan ke Jakarta diwarnai dengan suasana yang canggung dan hening, untuk mengantisipasi, purser Dewi mengganti posisi kerja Vera menjadi cabin tiga untuk bekerja bersamanya di bussines class sedangkan, mbak cabin tiga menjadi Chief Galley. Semua bekerja sesuai prosedure. Mbak Gendis tidak banyak berbicara selama penerbangan, hanya saja matanya terlihat bengkak akibat menangis semalaman, terkadang Bagus iseng memberikan candaan-candaan untuk mencairkan suasana hati mbak Gendis dan upayanya itu sedikitnya berhasil membuat tertawa.
"Mbak makasih ya," ucap Thania pada Gendis setelah bus yang mereka tumpangi sampai di Crew Office,
"Makasih juga ya mbaa," balas Gendis, lalu dirinya menyalami satu-satu crew lainnya kecuali Vera, ia melewatkan perempuan itu.
Melihat kejadian itu Thania hanya meringis, sebegitu bencinya kah mereka berdua? Tapi sudahlah, kejadian itu sudah berlalu dan sekarang dirinya sudah sampai di Jakarta, sambil menunggu giliran jemputan Thania memutuskan untuk menunggu di cafetaria. Cafetaria tampak sepi, hanya terlihat beberapa crew yang sedang asik menyeruput kopi di bangku bar, tiba-tiba saja Thania juga memikirkan betapa enaknya bila ia bisa menyeruput ice caffe latte, akhirnya Thania memesan satu gelas campuran kopi dan susu tersebut.
"Nih mbak," seru seorang pelayan yang bekerja di cafetaria sambil menyodorkan segelas coffe latte pesanan Thania, ia mengambil pesanan ice caffenya. Sial, belum sempat Thania menghabiskan ice caffe lattenya, ia sudah dipanggil pulang karena tidak mau menunggu lama, Thania memutuskan untuk beranjak dari cafetaria meninggalkan segelas ice latte nya dan berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggunya di departure.
"Sini mbak saya bantu," tawar supir jemputan, Thania pun menyerahkan koper besarnya pada bapak supir,
"Makasih pak," setelah dirinya masuk ke dalam mobil, bapak supir itu bukannya segera menjalankan mobilnya tetapi malah diam di tempat dengan mesin mobil tidak kunjung nyala, "pak nungguin apa?" tanya Thania keheranan, udara panas sudah membuat tubuhnya sedikit mengeluarkan keringat,
"Ada barengannya mba," jawab bapak supir.
Oh pantesan ada barengannya. Thania akhirnya menyenderkan kembali kepalanya pada sandaran jok mobil, saking lelahnya ia perlahan memejamkan mata sebentar sambil menunggu crew yang bareng dengannya,
"Mbak bareng yaaa," suara itu membukakan mata Thania, "capek bu?," tanyanya lagi sambil tersenyum dengan lesung pipi yang tidak pernah gagal membuat si empunya terlihat menawan.
"Cape banget Mar," curhat Thania, untungnya setelah Marcel masuk ke dalam mobil sang bapak supir langsung menyalakan mesin mobil dan menjalankannya,
"Terbang kemana tadi?"
"Medan, loe?"
"Tanjung karang 4 landing," jawabnya seraya merogoh tas kotak hitam lalu mengeluarkan sebungkus keripik ikan, "nih mau ga? Dari Tanjung Karang, enak loh," Marcel menyodorkan bungkusan keripik itu pada Thania, karena terlihat menggiurkan Thania mengambil beberapa lembar keripik dari bungkusan plastik bertuliskan 'keripik ikan' tersebut, dan memang benar rasanya enak dan gurih,
"Kalau mau lagi ambil aja ya," sahut Marcel sambil menaruh plastiknya di tengah-tengah penyangga jok, "bapak, mau ngga nih keripik?" Marcel menawarkan pada pak supir, tapi bapak supir itu malah menggeleng,
"Ngga mas, makasih saya lagi sakit tenggorokan," tolaknya.
Sehabis mendengar kalau bapak supir sedang tengah sakit tenggorokan Marcel teringat kalau penyakit itu memang lagi marak-maraknya saat ini, ia langsung mengingatkan Thania, "Biar ngga sakit, lo harus imbangin sama olahraga," ujarnya, "kerjaan kaya kita gini kalau ngga rajin olahraga sama minum vitamin bakalan gampang sakit," sambungnya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cabin Crew Love Story
RandomCerita tentang kisah cinta seorang pramugari bernama Thania. Andra Chandrawinata, laki-laki yang berasal dari luar lingkungan Thania, anak hukum, mempunyai masa lalu yang merubah pikirannya.. Dan Marcel Prasetya, co-pilot muda, crush at the first...
