ERSA
"Van, halo ...." Aku menggoyangkan tangan di depan wajah Ervan yang sejak tadi hanya terpaku menatapku.
Cukup lama sekali dia berada di posisi itu, akhirnya Ervan menghela napas dalam. Punggungnya dia sandarkan pada kepala kursi. Tangannya terlipat di depan dada. Ekspresi wajah yang tadinya tampak biasa saja dan terkesan senang dengan senyum samar yang tersungging di wajahnya seketika berubah menjadi kaku dan juga terlihat dingin, seperti saat dia tengah menghadapi situasi yang sulit baginya.
Tanpa sadar aku mendesah pelan. Bilang aku gila, tapi aku rasa ini memang jalan keluar dari masalah yang tengah kami hadapi.
Dengan sedikit bergetar, aku berusaha membuka proposal di tanganku dan menyodorkan kembali padanya.
"Kamu harus membaca proposal ini dari awal hingga akhir, Van." Jariku menunjuk pada halaman kedua. "Bagian ini berisikan latar belakang, tujuan, keuntungan dan juga kerugian. Semuanya sudah berada di dalam proposal ini."
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Sa."
Aku terus menyodorkan proposal itu dan berharap Ervan akan mengambilnya dan mulai membacanya. "Baca saja proposal ini sampai habis dan pertimbangkan baik-baik usulku. Anggap saja kita berdua tengah bertaruh sekarang akan nasib jodoh; kalau memang berjodoh, maka berakhir baik, dan apabila tidak ya berakhir buruk. Percaya saja semuanya baik karena, Van, everyone knows that we are the greatest team when we are together."
Ervan menghela napas berkali-kali dan sama sekali tidak menggubris proposal di meja. Sepertinya dia kesal dengan kelakuanku sekarang. "Kamu gila, ya, Sa?"
Rasanya aku ingin meneriakinya dan berkata aku memang sudah gila. Aku juga sudah lelah setengah mati dengan tingkah konyol kedua orang tuaku yang menyuruh-nyuruhku untuk menikah. Bukan hanya itu saja, tapi dibalik ini semua alasan yang paling utama adalah Ervan itu sendiri. Rahasia kecil yang aku simpan rapat-rapat dalam hatiku.
Seulas senyuman tipis akhirnya muncul di wajahku. Tanganku memasukan kembali proposal ke dalam map merah tadi, lalu menaruhnya di depan meja Ervan. Dia masih bersikeras untuk tidak menyentuh proposal itu. Wajahnya masih sama kakunya seperti tadi dan hal itu berefek dengan rasa kecewaku yang muncul begitu saja. Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, dia tidak menyukai ide-ide yang muncul dari kepalaku.
"Van, aku memintamu untuk memikirkannya saja. Mau kamu terima atau tidak itu hak kamu, tapi apa pun yang terjadi aku dan kamu adalah sahabat."
Lama setelahnya, Ervan pada akhirnya meraih proposal itu. Membuat seulas senyumku merekah kembali. Tanganku refleks meraih kedua pipinya dan menepuknya pelan. Kebiasaan yang selalu kulakukan ini berhasil membuatnya semakin bete saja. Dia benar-benar terlihat menggemaskan.
Tingkahku tiba-tiba saja berhenti saat merasakan ponsel bergetar. Buru-buru aku meraihnya dari atas meja. Ada pesan dari Mama yang menyuruhku pulang membuatku menggerutu. Astaga, sudah umur segini, tapi jam sembilan malam masih dianggap terlalu malam untukku berkeliaran di luar.
Segera setelah membalas singkat pesan Mama, aku kembali menatap Ervan yang masih termenung di kursinya. Aku menghela napas sekali lagi dan berusaha terlihat baik-baik saja.
"Aku tahu isi otakmu adalah 100% logika dan 0% perasaan. Jadi pikirkan semua ini dengan logika milikmu, Ervan. Apa pun keputusannya, aku menerimanya."
Aku memberinya sebuah wejangan sebelum aku beranjak. Tepat saat aku akan meninggalkan Ervan sendirian bersama pikirannya, aku berhenti sejenak di sampingnya.
"Oya, aku mau bilang sesuatu lagi."
Ervan mengakat kepalanya. "Apa?"
Aku menundukkan kepalaku dan berbisik lirih di depan telinganya, "Se ... su ... a ... tu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Proposal For Wedding
Chick-LitDidesak untuk segera menikah, Ersa mendapati jalan keluar dengan memberikan proposal pernikahan kepada sahabatnya Ervan. Ervan yang juga diminta untuk segera menikah karena menghambat adik laki-lakinya menuju ke pelaminan, akhirnya menyetujui propos...
Wattpad Original
Ada 3 bab gratis lagi
