Wattpad Original
Ada 2 bab gratis lagi

BAB 3 : The Answer

58.8K 4K 170
                                        

ERSA

Aku mendesah dalam seraya memasuki lift. Sepertinya, bekerja dari pukul 9 pagi hingga 5 sore bukanlah hal yang menyenangkan bagiku. Apalagi jika hari pertama bekerja, semua seolah terasa panjang, ribut dan juga melelahkan dengan harus pulang lebih lama lagi untuk mempelajari sistem kantor.

Sejujurnya aku tidak pernah menyukai ide bekerja di kantor seperti ini, tapi mengingat kedua orang tuaku yang hobi sekali menyuruhku bekerja dan juga menikah, membuatku pada akhirnya menyerah juga dan memilih bekerja agar berhenti mendengarkan semua keluhan dan permintaan mereka.

"Sepertinya hari yang berat."

Sebuah suara berhasil mengalihkan perhatianku. Ketika menemukan Ervan lah pelakunya, seketika aku mendengkus kesal. Sahabatku itu berdiri tepat di sudut lift, pakaiannya masih sangat rapi, walaupun wajahnya terlihat lelah. Tidak ada ekspresi dingin seperti yang dia tunjukan pada semua orang di sini.

"Aku rasa harimu jauh lebih berat, Pak. Tuh tampang jelek banget," ejekku.

Ervan berdecak pelan. Meski begitu, ada senyum samar di wajahnya. "Sepertinya begitu."

Bunyi dentingan lift menghentikan obrolan singkat kami. Aku menoleh seiring dengan pintu lift yang terbuka. Seorang gadis dengan seragam SMA-nya berdiri di depan kami. Wajahnya tampak kusut dan juga kesal, ditambah kedua tangannya yang terlipat di depan dada semakin memamerkan suasana hatinya yang buruk.

"Elsa," panggilku lemah dan langsung merangkulnya.

"Elsa?"

Ervan yang di belakang kami ikut bersuara. Sontak kami berdua menoleh. Dengan segera Elsa melepaskan rangkulanku, lalu berjalan mendahului kami. Aku bisa menemukan ekspresi kebingungan Ervan saat melihat sang adik bersikap menjaga jarak.

"Elsa nggak boleh gitu, dong." Aku menggeleng. "Bapak ini bosnya Kakak."

Elsa menghela napas pelan dan sekali lagi menoleh seraya mengangguk singkat. "Maaf, ya, Pak."

Lalu segera berlalu begitu saja menuju parkiran. Bergegas aku menyusul Elsa, meninggalkan Ervan yang mematung sambil terus memasang ekspresi kebingungan yang tak kunjung hilang sejak tadi.

"Dia terlihat buruk," desah Elsa begitu melihatku mendekatinya di depan mobilku.

Refleks, aku merangkul Elsa sambil menepuk punggungnya pelan. Pagi ini, aku mengatakan pada Elsa bahwa aku diterima bekerja di Rey-Tech. Dengan sangat bersemangat Elsa ingin datang mengunjungiku dan mencuri kesempatan untuk bertemu dengan Ervan, kakaknya. Sayangnya ujian sekolah membuatnya sibuk dan baru bisa datang pukul enam malam.

Dulu, saat Ervan tidak sesibuk sekarang, mereka berdua sangatlah dekat. Sayangnya, pria itu semakin sibuk dan akan selalu sibuk. Walaupun ada Ergi, Elsa lebih memilih mencari pengganti kakaknya. Kemudian, Elsa bertemu denganku dan begitulah akhirnya aku dekat dengannya. Ervan tidak mengetahui kedekatan kami, mengingat mengurus diri sendiri saja dia tidak bisa, apalagi mengurusi hidup orang lain.

"Kamu kangen sama dia, tapi malah bersikap sok jual mahal. Jahat banget, sih?" ejekku.

Elsa tertawa pelan. "Kak Ervan yang jahat duluan, jadi tidak salah, dong, kalau Elsa ikut jahat. Setidaknya aku tahu dia masih hidup dan bernapas."

Giliranku yang tertawa mendengar penjelasan Elsa. Segera aku melepaskan pelukanku, lalu menggiringnya memasuki mobil.

"Aku heran kenapa ada orang seperti kak Ervan, sih? Komputer mulu kerjaannya, pantes aja jomblo! Serius, deh, Kak, aku bakal kasian banget kalau dia punya pasangan kelak. Tapi, salah ceweknya sendiri, kok, mau sama cowok macam kak Ervan. Bego banget."

Proposal For WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang