ERVAN
"Aku menerima tawaranmu."
Ucapku sekali lagi karena tidak kunjung direspons. Aku terdiam sesaat karena mendadak sekitaranku terasa sunyi. Cukup lama menunggu, tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku diguncang kuat oleh seseorang. Dalam hati, aku misuh-misuh karena perbuatan bar-barnya.
"ERVAN! KAMU KESURUPAN, YA?"
Sudah memperlakukanku semena-mena, sekarang dia juga meneriakiku tepat di telingaku. Astaga, bisa-bisa hidupku semakin absurd saja kalau nanti menikah dengan Ersa.
Mau tak mau, aku membuka mata, kemudian memelototi manusia tidak tahu sopan santun yang tengah berlutut di samping sofaku. Sorot ngeri terlihat jelas di mata Ersa. "Kamu beneran kesurupan, ya, Ervan?"
Tiba-tiba saja Ersa berteriak kencang. Tubuhnya bergerak menjauhiku sambil memasang tampang ketakutan. Buru-buru aku bangun dari tidurku, kemudian beranjak untuk mencekal tangannya yang siap menelepon siapa pun dengan ponselnya.
"Ngaco. Duduk!" Aku sedikit menaikan nada suaraku agar terlihat tegas. Berharap, Ersa akan menghentikan teriakannya dan juga tindakan konyol wanita itu.
Ersa menghela napas lega. Senyum lebarnya tercetak, seolah nada suara ataupun aura yang kubuat tidak membuatnya merasa takut, berbeda dengan kebanyakan orang yang aku kenal ataupun para bawahanku. Malah dengan santainya, Ersa berjalan menuju sofa yang sempat aku tiduri. Menduduki tempat itu selayaknya dia bos dalam ruangan ini; Kedua kakinya diselonjorkan dan badannya disandarkan di kepala sofa. Tanpa sadar aku menggerutui sifatnya yang tidak pernah takut denganku dan juga sifatnya yang gampang sekali berubah suasana hatinya.
"Sepertinya kamu memang tidak kesurupan," balasnya dengan nada santai.
Seketika aku berdecak kuat. Percuma saja aku membentak ataupun memarahinya dengan seluruh nada arogansi milikku karena seorang Ersa sudah kebal dengan itu semua.
Buru-buru aku berjalan menuju ke arahnya dan tanpa basa-basi menarik tangannya hingga dia berdiri dari duduknya. Kini giliran dia yang memelototiku karena aku baru saja membuatnya kesusahan mengikuti langkah panjangku dan gerutuan terus mengalir dari mulutnya.
"Ervan, Ih!" Ersa berteriak-teriak, tapi sama sekali tidak aku acuhkan. Untung saja kantor sudah kosong, kalau tidak aku mungkin saja nekat untuk menutup mulutnya dengan lakban.
"Ikut aku ke apartemen."
***
"Ervan sakit tahu! Dari tadi aku ditarik ke sana-kemari, kamu pikir aku sapi?" gerutu Ersa dari kami masih di ruanganku, di dalam mobil, dan terus berlanjut saat kami sudah berdiri di depan pintu apartemenku.
Masalahnya, ocehan Ersa tidak akan pernah berhenti kalau aku memilih diam seperti sekarang ini. Tapi, tidak masalah, aku selalu memiliki caraku untuk menangani sahabatku satu itu. Kalau aku ingin Ersa tutup mulut, maka aku akan membuat dia dan pada akhirnya diam adalah pilihan terbaik.
"Masuk!" perintahku seraya mendorong pelan Ersa memasuki apartemenku.
"Dih, Ervan! Jangan kasar-kasar dong. Aku ini perempuan, nggak boleh dikasarin!"
"Maaf," jawabku mencoba sebaik mungkin. Ada sedikit, sangat sedikit rasa bersalah dengan sikapku yang membuat Ersa beranggapan kasar. Jujur, aku tidak ingin melakukan hal itu. Aku terpaksa agar tidak ribut saja di luar.
Aku menghela napas lega saat akhirnya Ersa terlihat santai dalam ruang pelarianku; unit apartemen dengan dua kamar ini. Lengkap juga dengan ruang tamu dan kitchen set. Alas kakinya sudah dia lepas, lalu dijejalkan dalam atas rak sepatuku. Kemudian, dia berjalan menuju sofa bed. Mendudukinya sambil memegang remote kontrol televisi puluhan inchi di seberangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Proposal For Wedding
Chick-LitDidesak untuk segera menikah, Ersa mendapati jalan keluar dengan memberikan proposal pernikahan kepada sahabatnya Ervan. Ervan yang juga diminta untuk segera menikah karena menghambat adik laki-lakinya menuju ke pelaminan, akhirnya menyetujui propos...
Wattpad Original
Ada 1 bab gratis lagi
