4. First...

129 27 5
                                    

*******

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*******

Setiap sore, Daniel jogging di sekitar taman perumahannya.

"Adik gua segala ga bisa ikut jogging, tumben banget, biasanya bisa" Daniel ngomong sendiri. Lah, itukan Vina. Ngapain dia ya sendirian di taman.

Daniel menghampiri Vina.
"Vin, lu kenapa?" Daniel menepuk pelan pundak Vina, melihat Vina sedang menangis,

"Ga kenapa-napa kak" Vina mengusap air matanya,

"Jujur, udah ketauan nangis gitu, malah bilang ga kenapa-napa. Ada masalah apa? Cerita aja sama gua, siapa tau gua bisa bantu" Daniel duduk disamping Vina sambil memegang pundak Vina,

"I'm okay kak" Vina langsung menangis,

Daniel memegang lembut pipi Vina sambil tersenyum. Bukan maksud Daniel untuk bikin Vina baper, tapi ia hanya ingin menenangkan Vina. Karena Daniel tau, kalau seseorang sedang ada masalah, lalu diperlakukan dengan lembut, orang itu akan merasa lebih baik.

Pada saat itu di taman udara sangat dingin, cuaca mendung pula.

"You're not okay Vina, cerita sama gua, ada problem apa?"

Vina tidak menjawab pertanyaan Daniel, dia hanya menangis.

"Oke, kalau lu belum bisa cerita, ga apa-apa, dan gua mungkin ga perlu tau tentang ini ya? don't cry Vina, apa harus gua nyanyiin lagu Cherrybelle, don't cry, don' be sad, supaya lu ga nangis?" Gua berusaha menghibur Vina,

"Gue lebih suka lu nyanyi lagu favorit lu kak, Ignorance, hehe. Ga usah deh kak, nanti disini jadi pusat perhatian orang lagi" Vina tersenyum

"Nahh gitu dong, kan cantik kalau senyum. Kalau nangis udah kayak boneka chucky" Daniel mencubit pipi Vina,

"Yaampun kak, sebegitunya kah kalau gue nangis?" Vina mencubit tangan gue,

"Aduh sakit Vin" Daniel mengusap-usap tangannya sendiri. Pedes rasanya tangan gue brohh.

Dan seketika Vina terdiam. Suasana di taman itu terasa sunyi.

"Gue baru aja putus kak" akhirnya Vina cerita,

"Kenapa bisa putus?"

"Gua baru tau kalau selama satu tahun ini, dia punya pacar lagi selain gua, kak" seketika Vina kembali meneteskan air matanya

"Lu tau dari mana, jangan negative thinking dulu Vin"

"Gue tau sendiri kak, gue juga baru tau tadi.. Dan gue langsung mutusin dia, gue juga baru tau kalau.."

Huaaaa.. Vina menangis dengan suara yang cukup keras, Daniel mengusap air mata Vina.

"Dan gue baru tau kalau dia pacaran sama gue itu supaya nanti kalau dia kerja di perusahaan papa gue, dia bisa dapat jabatan tinggi. Soalnya papa gue udah percaya banget sama dia, kalau dia nantinya akan jadi calon gue" lanjutnya.

"Yaampun Vin yang sabar ya, lu beruntung. Tuhan sayang sama lu, buktinya sekarang lu sudah dipisahkan terlebih dahulu sebelum semuanya terjadi"

"Tapi sakit kak, sakit banget rasanya selama satu tahun ini dia cuma manfaatin gue, dia ga bener-bener sayang sama gue"

"Papa lo udah tau tentang hal ini?"

"Belum.."

"Vin, secepatnya papa lo itu harus tau tentang ini, lo harus jelasin semuanya"

Wajahnya sudah sembab, Vina masih menangis tersedu-sedu.

"Vin, roda kehidupan itu selalu berputar. Ada, nanti pada saatnya mantan lu itu akan ngerasain berada diposisi lu sekarang ini. Karma itu berlaku, semua ada balasannya, jadi serahkan saja semua pada Tuhan"

Vina menatap Daniel, tatapan penuh arti. Vina benar-benar sangat mengidolakan Daniel.

Seketika suasana taman kembali sunyi, hanya terdengar suara isakkan tangis Vina. Daniel juga terdiam, dia tidak berani nanya-nanya lagi. Daniel tau kalau Vina sedang butuh waktu untuk menenangkan dirinya.

Tetesan air hujan mulai turun.
Sebenarnya Daniel sudah ingin pulang, tapi tangannya digenggam terus sama Vina, dia jadi ga tega.

Daniel memeluk erat Vina, mencoba menenangkannya. Sebenarnya Daniel canggung memeluk Vina, karena dia ga pernah meluk orang lain, selain orang tua dan adiknya.

OMG badan gue dapat pelukan hangat dari orang yang gua suka. Hiks. Vina senang bukan main, dia merasa sangat nyaman berada di dekat Daniel.

 Vina senang bukan main, dia merasa sangat nyaman berada di dekat Daniel

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Vina menatap Daniel.
Rindu rasanya dapat pelukan seperti ini...
Rindu rasanya dipedulikan oleh orang terdekat...
Senang rasanya, gue dapat perhatian dari lu, kak...
Gue sayang sama lu kak...
Gue harap, lu ga ninggalin gue seperti orang-orang yang dulu gue sayangi.

"Udah jangan nangis, pulang aja ya, gua antar lu pulang, hujannya akan deras nih nanti lu kehujanan sakit lagi" Vina mengangguk, Daniel memegang tangan Vina, Vina diam seribu bahasa, dia hanya tersenyum.

Tanpa disadari oleh Daniel dan Vina. Sebenarnya ada orang yang memperhatikan mereka dari jauh.

Gue harus sabar, gue yang seharusnya ada disamping Vina, tapi kenapa malah Daniel yang ada disampingnya. Dan seharusnya gue yang meluk Vina, tapi kenapa malah Daniel?

*Siapa ya orangnya?...hmm.*

***
Mereka jalan berdua menuju rumah Vina, jaraknya tak jauh dari rumah Daniel.

"Nah sudah sampai, cuci muka terus tenangin diri lo ya jangan nangis lagi, Oke" Daniel menyemangati Vina,

"Iya kak, makasih"

"Yaudah kalau gitu, gua mau langsung balik ke rumah ya. Bye"

Di perjalanan menuju rumahnya, terngiang dipikiran Daniel.

Pertama kali meluk cewek, selain mama, dan adik gue. Nanti apa kata kak Kia? Pasti dia nanya-nanya. Ah, emang si tante-tante rempong satu itu selalu tau. Kalau kak Kia bilang ke mama gimana ya? Kalau tadi di taman ada yang liat gue gimana ya? Nanti dikira gua yang bikin nangis anak orang, Ah bodo amat sih ya, yang penting niat gue baik. Orang baik disayang Tuhan.

"Duh, berfikir keras membuat perut terasa keroncongan, laper banget adohhh."

Black And WhiteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang