Sudah seminggu sejak perkenalanku dengan Eduardo bersaudara. Tapi tentu saja, aku belum bisa berbicara secara langsung pada Aron. Dan hari ini, Jay terlihat suram. Pasalnya, keenam saudaranya akan berangkat ke Jerman, dan dia harus tinggal di sini bersama Grandma-nya.
Bella menghampiri mejaku sambil mengutuk seseorang dalam bisikannya. Ia lalu duduk disampingku dan tanpa seijinku meminum jus mangga milikku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kau tahu anak bernama Sharon itu?! Kudengar ia mendekati Landon-ku!!" serunya.
Aku tersenyum kecil mendengarnya. Ada apa dengan gadis ini? Landon-ku? Haha, itu lucu, Bell...
Kami berbincang sepanjang hari itu. Dan Bella –seperti biasa, terus menempel padaku. Saat aku mengambil kelas sastra siang itu juga, ia masih saja duduk disampingku sambil menggerutu tentang betapa bodohnya diriku yang memilih pelajaran sastra di hari yang panas itu.
Aku berjalan bersama Jay saat pulang sekolah. Gadis-gadis memandangku dengan tatapan tak percaya. Kupikir juga sangat aneh berjalan dengan salah satu Eduardo bersaudara yang terkenal tampan itu. Tapi, why not?
"Keluarga kami akan mengadakan pesta ulang tahun Aron beberapa minggu lagi..." kata Jay. "Kupikir aku harus memberi tahu dirimu soal ini..."
Well, aku sudah banyak cerita kepada anak ini tentang perasaanku pada Aron. Rupanya, ia memakluminya karena ia tahu bahwa yang gadis-gadis inginkan selama ini hanyalah untuk eyes-contact dengan Aron –karena dia bukan tipe orang yang suka bicara.
"Benarkah? Aku harus datang kalau begitu!!" jeritku senang. Jay tersenyum mendengarnya. "Kau harus memberiku info tentang perkembangannya selama ini! Oke? Setuju?"
"Oh, yeah... Well, tentu."
Aku sempat melambai kecil padanya sebelum memasuki mobilku. Seperti biasa, aku menyetir dengan hati-hati. Aku tidak ingin mobil kesayanganku ini lecet. Kusempatkan untuk mampir ke supermarket dan membeli es krim kesukaanku.
Saat aku keluar dari mobil, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju kencang menyipratkan genangan lumpur tepat di tempatku berdiri.
"Maafkan saya..." kata sang pengemudi setelah turun dari mobilnya. "Saya tidak tahu ada lumpur disini. Dan saya harus segera mengantarkan tuan muda ke bandara untuk pergi ke luar negeri. Maafkan saya,"
"Ah, tidak apa-apa. Jika dicuci pasti akan bersih lagi. Lebih baik anda segera pergi ke bandara sekarang.." ucapku.
Ia mengangguk dan bergegas memasuki mobilnya. Banyak sekali yang kupikirkan hari ini. Sebaiknya aku segera istirahat dan melupakan semua yang terjadi tadi. Tiba-tiba, ponselku berdering.
-Hi, Steph...
Nomor siapa ini? Aku tidak pernah menyimpan nomor ini dalam ponselku. Ini jelas-jelas bukan nomor Jay. Ataupun Bella. Dan ini juga bukan nomor Clara. Lalu siapa?
-Kau tidak menjawab pesanku? Bisa-bisanya kau melakukan ini padaku...
Demi dewa laut Neptunus! Siapa nomor jahil ini?! Lebih baik kujawab sekarang!
Siapa?
Tidak lebih dari semenit, ponselku berdering untuk yang ketiga kalinya.
-Landon
What?! Landon Alexander Eduardo?!! It's not a dream, right? God! Impossible!
Kuputuskan untuk membalas pesan singkatnya. Yah, walaupun aku agak shock, dan semacam ada perasaan –yah, kau tahu, perasaan semacam itu. Dan aku akan lebih senang jika Aron yang menghubungiku.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCESS BUBBLEGUM
Romance"Kau akan menjadi bubblegum favoritku. Eh, ralat. Kau akan menjadi 'princess bubblegum' favoritku selamanya, bubby..." Bubblegum. Yah, permen karet. Semua berawal dari segelas minuman rasa permen karet. Dan dari situlah mereka memangilku dengan sebu...