#Agung POV
Aku pulang kerumah ayah, aku mulai mencari cari dimana ia berada. Ternyata ia sedang membaca koran paginya yang belum sempat ia baca. Sebenarnya aku tak ingin sama sekali menyapanya, kebetulan beberapa hari ini aku agak canggung terhadapnya. Ini karena aku sempat marah ketika waktu pagi itu.
Pagi itu,
Ia tiba-tiba mengemasi barangku dan menyuruhku segera bergegas mengikutinya. Lalu aku hanya diam mengikuti apa yang ia mau, aku tak bisa marah padanya meski ia sudah membuat aku dan Keyla berpisah.
Tidak.Kami belum berpisah.
Aku mencoba menghubungi Keyla waktu itu, namun tak ada jawaban apapun. Ayah menyita ponselku, sehingga setelahnya aku tidak bisa mengabarinya.
Ternyata ayah sudah jauh jauh hari merencanakan hari kepindahan keluarga kami ke Australia, jujur saja aku lebih menyukai lingkungan di Indonesia yang lebih bersahabat denganku.
“kau habis dari mana?” tanya Ayah tiba-tiba dan itu membuatku terkejut.
“cari udara segar,” jawabku dengan singkat.
“ohh, bagaimana?” tanyanya lagi.
“bagaimana apanya?”
“hubunganmu dengan Andien.” katanya.
Aku menyerit kebingungan, jika aku bilang tidak pasti Ayah akan marah dan ketakutan terburuk adalah ketika penyakit Jantungnya kambuh.
“ya baik baik saja,” jika saat ini dongeng pinnocchio bisa jadi kenyataan. Mungkin akulah Pinnocchio nya.
“bagus, lanjutkan” katanya sambil menyesap kopinya perlahan.
Aku sejujurnya membenci keadaan ini. Sangat membencinya.
Aku mengambil handukku dan bergegas mandi, bershower adalah hal terbaik untuk menghilangkan stress.
#Keyla POV
Sudah lewat lebih 1 bulan aku tidak menemui Agung. Aku bingung apakah aku harus membencinya atau tetap pada perasaan yang sama?
“na gabut, cabut yuk,” aku mengajak anna untuk segera pergi dari kampus.
“iye gaada kelas lagi gue, yuk”
Aku dan Anna memutuskan untuk pergi makan ke restaurant.
“weh mau kemana lo bedua?” tiba tiba Andy datang dari belakang, aku, Anna dan Andy memang berada pada satu Universitas. Tetapi beda fakultas.
“mau makan, laper gue....” kataku.
“bareng ama gue aja yuk,” kata Andy. Tunggu.
Sepertinya ada yang aneh, aku memperhatikan wajah Anna yang tiba tiba memerah ketika Andy mengajak kami berdua untuk segera menaiki mobil Jazz nya.“eh lu ngapa dah?” tanyaku sambil cekikikan.
“apaan sih lo,” anna menjawabnya ketus.
“muka lu kaya hordeng rumah gue noh, merah”
“ih diem kek lu,” anna merasa itu memang benar dan ia sesekali memeganggi pipinya.
“eh ayo...” Andy langsung mengajak kami berdua untuk segera masuk.
Di dalam mobil, aku duduk di samping Andy. Kenapa? Ya. Karena aku tahu kalau Anna yang duduk di samping Andy, mungkin wajahnya sudah akan memerah lagi.
“key, gimana si Agung? Udah ada kabar?” Andy menanyakan hal itu.
“lo gausah ngomongin dia bisa ga sih ndy,”
“loh kenapa key? Lo udah move on nih ceritanya?”
“gak gitu. Gue benci sama keadaan aja, kenapa harus kaya gini,” aku jadi terpikirkan Agung lagi dan lagi.
“Key, kalo lo masih sayang ya bertahan. Gue yakin kok Agung juga kaya gitu ke lo,” Andy menjelaskan dan mencoba membuatku berpikir untuk bertahan.
“ekheeeemmm.......” di sela perbincangan ku dengan Andy, tiba tiba Anna berdehem.
“eh Anna...” kataku sambil tersenyum melihat ke kursi belakang.
Andy seperti nya sudah memperhatikan Anna sedari tadi lewat kaca, tampak ada bau bau romansa dari mereka berdua.
Kami memasuki Restaurant bergaya eropa tersebut, bukan karena tempatnya bagus. Tapi ini adalah tempat favorite Agung, karena tempat ini selalu memutar lagu-lagu classic, dan itu adalah kesukaannya.
Lama sudah kami berada di restaurant itu sambil bernostalgia masa-masa ketika aku masih bersama Agung.
Ada kalanya kita harus menerima kenyataan bahwa keadaan tidak bisa berdusta.
Waktu tak bisa berandai kembali.
Dan,
Menunggu tidak selalu tak pasti.
Kita harus tahu bahwa selalu ada dua hal yang berdampingan di dunia ini yaitu,
Kebahagiaan dan kesedihan.—Unsaid
21 April 2016Aku sampai dirumah, aku tak ingin menjumpai kebosanan lagi. Maka aku memilih untuk memutar DVD player, dan menonton film Love, rosie.
Tiba-tiba terdengar notification dari LINE.
💬 Unknown : menjauhlah dari calon tunangan ku, jalang.
Aku kaget membaca pesan tersebut, lalu aku segera membalasnya.
💬 Keyla : kau siapa? Dan aku tak berniat untuk merebut calon tunangan mu. Satu lagi, aku bukan jalang.
💬 Unknown : aku adalah orang yang akan melihat mu menangis nanti.
💬 Keyla : aku tidak mengerti, berhenti lah bermain main!
💬 Unknown : sucks. Berhentilah untuk terus menghantui pikirannya.
💬 Keyla : Maksud mu???
Ini aneh dan siapa dia? Mengapa tiba-tiba ia mengirimi ku pesan seperti itu??
Aku menunggu balasan darinya, namun tak ada balasan.💬 Keyla : kalau memang ada masalah bicaralah langsung padaku.
💬Keyla : aku lupa, kita tidak punya masalah. Mengenalmu saja tidak.Aku mengirimi ia pesan yang menyiratkan arti bahwa aku memang tidak mengenalnya sama sekali.
Unknown? Siapa dia? Anyone knows?
Dont forget to vote and comment! :)

KAMU SEDANG MEMBACA
UNSAID
Teen FictionMenunggu adalah hal wajar ketika mencintai seseorang. Namun bagi Keyla yang terpenting adalah membuat orang yang ia cintai merasa dicintai. Membiarkannya mencintai apa yang ia cintai. Keyla tak pernah sedikitpun berniat memilikinya, tidak sama sekal...