-01-

5.6K 208 30
                                        

Seseorang berusaha membangunkanku.

"Letha, waktunya bangun. Bersiaplah," katanya. Aku yakin itu ibuku.

"Jam berapa sekarang, Bu?" Aku tetap menutup mata.

"Coba saja kau lihat sendiri." Balas Ibu. Aku masih belum bergerak.

"Bersiaplah dengan cepat. Akmal sudah menunggumu dibawah," ucap ibuku dan saat itu juga terdengar langkahan kaki menjauhi kamarku. Mungkin ibu?

Kucoba untuk membuka mata dan kulihat jam yang berdetak didinding.

05.30? Tumben sekali dia datang pagi? Pikirku.

Perlahan aku berusaha bangkit dari kasurku. Tak rela rasanya bila kutinggal kasur empuk ini.
Aku sudah bangkit seperempat bagian. Belum sampai seluruhnya, sudah kuhempaskan lagi tubuhku kebawah.

"Letha, cepat sedikit! Nanti kau terlambat!" Seru ibuku dari bawah.

"Iya sebentar!" Balasku tak kalah keras.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kubasuh wajahku diwastafel dan tak lupa kugosok gigiku yang sudah tidak seputih susu ini. Aku tidak mencuci rambutku. Menurutku, mencuci rambut dipagi hari tidak baik.

Kutatap wajahku dicermin, lalu kuperhatikan gelagat tubuhku disana. Rambut hitam panjang yang bergelombang dengan pupil mata yang berwarna hitam pekat terpampang jelas disana.

Huft.

Aku berjalan dengan langkah kecil menuruni tangga. Biasanya jam segini Akmal belum datang.

Kulihat Ibuku sedang menyiapkan sarapan dimeja makan. "Hai, Bu!" Sapaku.

"Aletha? Sudah siap?" Tanya Ibuku ramah. Aku hanya tersenyum, lalu duduk didepannya.

"Akmal mana?" Tanyaku.

"Minum teh diruang tamu." Balas Ibu. Aku hanya menganggukan kepala.

"Ini sarapan untukmu. Jangan lupa kasih Akmal juga," perintah Ibuku setelah selesai dengan roti selai buatannya.

"Iya Bu. Aku berangkat dulu ya." pamitku lalu bangkit dari kursi.

Aku berjalan menuju ruang tamu dan kulihat Akmal disana.

"Lama banget, ngapain aja?" Gerutu Akmal lalu bangkit dari sofa. Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang lebar.

"Lagian tumben-tumbenan lo samper gue jam segini. Biasanya juga ngaret." Ucapku.

"Yeh, gue samper pagi salah, gue ngaret salah. Maunya apa?" Jawab Akmal.

"Gue mau roti. Omong-omong nih roti dari Ibu gue," ucapku lalu memberikannya roti selai tadi.

"Thanks. Yuk berangkat, ntar keburu telat." Ucap Akmal lalu melangkah duluan kearah pintu.

"Erry mana?" Tanyaku ditengah perjalanan.

"Jemput Shazia." Jawab Akmal singkat.

Akmal dan Erry selalu menjemputku. Mereka biasa naik sepeda dari rumah mereka kerumahku. Setelah menjemputku, sepeda mereka sering ditaruh disamping halamanku. Jadi, kami bertiga biasa berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Dan kebetulan rumahku dengan sekolah tidak terlalu jauh. Aku tidak tahu alasannya kenapa seperti itu, kalau aku jadi mereka lebih baik aku berangkat menggunakan sepeda. Tapi sewaktu hari Akmal pernah berkata, ia seperti ini karena ia ingin menjagaku. Menjaga gadis 17 tahun yang kena leukimia sepertiku.

Biar kujelaskan, aku mendapat penyakit ini saat umurku 12 tahun. Pagi itu, Ibuku panik karena aku belum terbangun dari tidurku dengan tangan yang dingin. Ibu membawaku kerumah sakit, dan dokter itu menjelaskan kalau aku terkena leukimia. Sekarang aku sudah duduk dibangku SMA, lebih tepatnya kelas XII, dan leukimiaku sudah menjadi akut.

Love In LeukimiaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang