Hari demi hari berganti, bulan demi bulan terlewati, nggak terasa sudah dua tahun berlalu sejak hari kepindahan gue ke Sukoharjo. Dalam rentang waktu itu gue juga tidak pernah kembali ke Jakarta meski hanya untuk sekedar mampir atau singgah sebentar. Dua kali puasa dua kali lebaran nggak pulang-pulang, gue jadi mirip bang Toyib.
Sekarang gue sudah cukup fasih berbicara dalam Bahasa Jawa meski bukan dalam grammar yang baik dan benar (gue bisa Bahasa Jawa yang kasar, ngoko, bukan yang halus, krama inggil), tapi cukuplah untuk berkomunikasi sehari-hari dengan teman-teman. Walaupun dalam prakteknya gue tetap lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia ketimbang Bahasa Jawa. Takut salah ucap. Terakhir gue diketawain gara-gara salah mengucapkan wedhi (takut) dengan wedi (pasir), meski artinya berbeda jauh, lafal pengucapannya susah dibedain. Lidah gue kegigit waktu belajar pengucapan yang benar. Sariawan dua hari.
Sekarang gue sudah kelas tiga. Ini adalah tahun terakhir gue mengenakan seragam putih-biru, dengan catatan kalau gue lulus tentunya. Harusnya ini menjadi masa-masa gue untuk serius belajar, supaya bisa dapat nilai NEM bagus dan memungkinkan gue untuk masuk ke SMU favorit. Tapi justru perjalanan cinta pertama gue baru akan dimulai di tahun ini.
***
"KEJAAARR!"
"TEMBAAAAAKK!"
Bukan. Teriakan diatas bukan berarti gue lagi nguber maling bareng densus 88. Gue dan para penganut kepercayaan keringat-itu-keren (baca: cowok-cowok) teman sekelas lagi bermain bola di lapangan sekolah. Nggak jelas suara-suara riuh bak kucing di musim kawin itu keluar dari mulut siapa aja, yang pasti gue ikut bertanggung jawab dalam menambah polusi suara itu. Meski nggak ada satupun diantara kami yang jago bermain bola, yang penting selama permainan berlangsung kami bisa teriak-teriak sesuka hati demi melepas penat akibat pelajaran yang makin lama makin susah dipahami.
"Woii...oper!"
"Back ora usah maju-maju!"
"Woii cah...opeerr!"
"Sayap buka!"
"Jogo siji-siji!"
"Woii cah, woooiii, asem iki...OPEER!"
Lagi seru-serunya teriak, eh main bola, tiba-tiba 'detektor cewek cakep' gue berbunyi, 'Bos, ada cewek cantik bos. Serius. Cantik. Itu, di situ.' begitulah kira-kira sinyal yang gue terima. Mata gue langsung tertuju pada sesosok gadis yang berjalan melewati koridor di samping lapangan sekolah, tempat gue bermain bola. Meski detektor gue ini sering salah mendeteksi antara cewek cantik dan cewek antik, tapi kali ini detektor gue bekerja dengan sangat baik. Gadis itu cantiknya kebangetan.
Rambutnya tergerai hitam berkilauan, kulitnya seputih susu, senyumnya semanis lollypop, dan binar matanya seteduh embun pagi. Iya, gue emang lagi lebay. Intinya gadis itu betul-betul tipe gue banget. Saat gue sedang memperhatikannya dengan mulut menganga, tiba-tiba dia juga mengalihkan pandangannya ke arah gue. Mungkin dia sadar sedang diperhatikan oleh seseorang, atau mungkin juga 'detektor cowok cakep' miliknya juga bereaksi. Kasihan, pasti detektornya lagi rusak.
Hanya dalam beberapa detik gue bertatap mata dengannya, itupun dari jarak yang lumayan jauh, tapi sudah cukup untuk memberikan efek pada diri gue. Keringat gue bercucuran, tenggorokan gue kering, kaki gue mulai gemeteran, inikah rasanya jatuh cinta? oh, bukan, belakangan gue tahu ini lantaran gue kecapekan maen bola aja. Tapi jujur, mata gue tidak bisa lepas untuk terus melihat ke arahnya. Jantung gue pun berdegup jauh lebih cepat dari biasanya. Gue baru tersadar saat sosoknya hilang terhalang tembok kantor guru.
KAMU SEDANG MEMBACA
NomadeN
HumorSebuah kisah tentang manis, pahit, lucu, dan lugu nya cinta pertama... (Based on true story) ^^
