Hampir semua murid terlihat berkumpul di lorong-lorong yang ada di dekat taman dalam Sleavton. Aku penasaran dan segera mendekati kerumunan itu, menerobos dan melihat apa yang membuat mereka berkumpul. Mataku terbelalak dan aku tercekat. Itu Raja Moris dan Sam yang sedang berbincang.
"A-ada apa dengan mereka?" tanyaku pada salah satu murid perempuan dari kelas api.
"Ternyata selama ini Sam Arthur, murid dari kelas hitam itu adalah pangeran iblis," katanya.
"A-apa?" tanyaku terkejut. Jadi mereka sudah tau kalau Sam itu pangeran? Lalu apa yang dilakukan Raja Moris kemari? Apa dia akan membawa Sam pulang?
Sebenarnya mereka hanya melakukan percakapan biasa, bahkan tak bisa di dengar oleh hampir seluruh murid yang melihat mereka. Namun kedatangan sang Raja dan sedang mengobrol dengan salah satu murid yang menarik perhatian mereka. Lalu kulihat Sam melihat sekeliling. Mungkin dia risih dengan tatapan semua murid yang melihatnya. Kemudian mata biru itu menemukanku dan menatapku. Selama beberapa saat kami saling bertatapan. Aku tau mata itu mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tak tau apa.
Tak lama suara bel tanda kelas akan dimulai berbunyi. Seluruh murid mulai berhamburan dan berlari ke kelasnya masing-masing. Aku diam sejenak untuk menatap mereka berdua. Detik kemudian Sam pamit dan beranjak pergi menuju kelasnya. Namun aku masih tetap diam disana sampai mata Raja Moris melihatku, dan akhirnya aku ikut pergi menuju kelasku.
***
Aku hampir saja terjatuh karena licinnya jalan akibat salju, kalau saja tak ada seseorang yang menolongku. Dia menahan lenganku ketika aku hampir terpeleset setelah menuruni anak tangga. Aku menoleh ke belakang dan aku tercekat. Raja Moris. Dia tersenyum padaku.
"Jalannya masih bersalju. Sebaiknya kau lebih berhati-hati, nona," katanya dan membungkuk untuk mengambil bukuku yang terjatuh, lalu memberikannya padaku. "wajahmu tak asing, kalau boleh kutau siapa namamu?" tanyanya.
"F-Fallen. Fallen Gladwin, Yang Mulia," jawabku.
"Ah," katanya dan tertawa. "kau putrinya Simon rupanya. Sungguh mengejutkan. Aku sangat ingin mengobrol denganmu, bolehkah?"
"T-tentu," kataku dan kami berjalan menuju kursi taman yang ada di dekat sana, dan mulai mengobrol.
"Bagaimana Sam itu?" tanyanya sambil duduk di sampingku.
"Maaf?"
"Ouw... aku tau kau sangat dekat dengannya, sayang."
"Apa Sam mengatakannya pada anda?"
"Ehm... kurasa tidak. Sam itu sedikit tertutup padaku, jadi dia jarang sekali membicarakan kehidupan pribadinya padaku. Semenjak dia pulang ke rumah untuk pertama kalinya karena menghilang selama beberapa tahun, aku melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan matanya. Cinta."
"Cinta?" tanyaku.
"Ya. Dia jatuh cinta. Pada seseorang. Namun aku tak tau siapa. Lalu tadi aku sempat melihatmu. Caramu memandang Sam berbeda. Dan aku tau, ada cinta disana," katanya dan tersenyum.
"Well, aku memang mencintainya," kataku jujur dan tersenyum malu.
"Katakan, seperti apa Sam itu?"
Aku menghela napas. "Dia... baik. Sangat pantas menjadi calon Raja," kataku dan tertawa singkat. "tapi ada saat dimana dia begitu... khawatir. Sedikit tertekan dengan apa yang sedang di hadapinya. Tapi aku bersyukur karena dia bisa mengatasi kekhawatirannya itu dengan baik, dan aku sedikit memberi masukan agar dia tak terlalu tertekan. Seperti yang dikatakan temanku, Fred, dia tak pandai berbohong, tapi dia selalu mengamati setiap orang secara seksama agar dia tau mana pembohong yang sebenarnya. Sam juga... punya rasa keingintahuan yang tinggi, meskipun ia mencoba menyembunyikannya namun tak pernah berhasil padaku. Dan aku... tak punya alasan apapun kenapa aku begitu mencintainya," jelasku panjang lebar dan tersenyum pada Raja Moris.
Raja Moris balas tersenyum padaku. "Mungkin kau orang kedua yang tau tentang Sam setelah ibunya," katanya.
"Seperti...apa ayahku itu?"
"Dia sangat baik. Banyak orang yang menyukainya, tapi kurasa tidak dengan David. Padahal dulu mereka begitu akrab, dan bagi ayahmu David adalah sahabat terbaiknya. Mungkin karena suatu hal, mereka jadi seperti itu. Dulu, David sempat menentang ayahmu yang akan menikahi seorang penyihir, ibumu. Tapi ayahmu tak mendengarkannya. Kurasa setelah itu, mereka saling menjauh. Terkadang karena cinta, seseorang harus mengorbankan segalanya," ungkapnya.
Ya, tentu saja.
Kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya.
Raja Moris menghela napas dan bangkit berdiri. "Aku harus segera menjemput Sam. Dia butuh banyak pembelajaran mulai saat ini," katanya menatapku.
Rasanya aku tak rela jika Raja Moris menjemput Sam secepat ini. Namun kenyataannya aku tak bisa berbuat apapun. Ini memang takdir Sam. Sebagai kekasihnya seharusnya aku mendukungnya, kan? Aku disini masih harus belajar banyak hal. Aku akan lulus dari sini dan menjadi penyihir es yang hebat.
Setelah Raja Moris pamit padaku untuk pergi, aku segera masuk ke dalam gedung Sleavton. Saat aku akan berbelok ke lorong yang menuju ke asrama perempuan, seseorang menarik tanganku. Itu Sam. Dia mengajakku berjalan ke suatu tempat, menaiki tangga spiral untuk menuju ke atas, tepatnya ke menara jam.
"Aku tak menyangka aku akan pergi secepat ini," kata Sam. Dia menangkup wajahku dan menatap kedua mataku. "sejujurnya ini cukup berat tapi... aku akan merindukanmu," katanya tersenyum dan kemudian dia menciumku. Kami berciuman cukup lama. Mungkin karena kami sama-sama tau bahwa ini adalah saat-saat terakhir kami melakukan hal semacam ini. Setelah kami berciuman dia menempelkan dahinya pada dahiku, kemudian memelukku erat.
Aku membalas pelukannya, dan menangis dengan keras.
"Aku akan selalu merindukanmu," kataku ditengah isak tangisku. "dan berjanjilah kau akan datang menemuiku kembali."
Dia hanya diam. Dan disaat itu hanya suara tangisanku yang terdengar.
"Aku berjanji," katanya kemudian.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALLEN (the Fiery Passion)#3
FantasyMurid baru akan datang... Dia adalah kerabat dekat Sam dan berada di kelas yang sama dengan Fallen. Sam tau bahwa kerabatnya itu selalu mencoba untuk mendekati Fallen, kekasihnya. Tapi ia tak pernah tau apa tujuan sebenarnya. Di sisi lain ayah Sam...
