04

3.1K 344 1
                                        

Sam datang sesaat setelah lelaki yang mengaku bernama Liam itu pergi. Dia membawakan dua gelas minuman dengan cairan berwarna biru terang di dalamnya. Seperti warna langit di musim panas. Aku hampir tak bisa berkata apapun ketika Sam datang. Aku menerima minuman itu ketika dia memberikannya dan aku bersandar di tiang penyangga di belakangku.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya yang hampir membuatku terperanjat. Dia menatapku dengan raut khawatir.

"Y-yeah. Aku baik-baik saja," dustaku. Apa Sam tau kalau kerabatnya sudah tiba? Kalau dia tau kerabatnya sudah bertemu denganku tadi apa yang akan dikatakannya?

"Fallen," panggilnya yang langsung menyadarkanku dari lamunanku. "Y-ya?" jawabku. Dia masih menatapku dengan ekspresi khawatir. Kurasa dia sadar kalau sikapku sedikit berbeda. "Kau mengkhawatirkan sesuatu?" tanyanya akhirnya.

"T-tidak Sam. Aku hanya... sedikit tegang setelah kita berdansa tadi. Kau tau kan aku tak pandai berdansa dan takut menginjak kakimu," dustaku lagi.

"Tapi kau berdansa dengan baik tadi," balasnya. Aku menelan ludah. Oke Fallen kau harus tenang. Apa yang kau khawatirkan Fallen kerabatnya hanya bertemu dan berkenalan denganmu itu saja, batinku.

"Sam," panggilku. Dia menoleh. "ayo kita kembali ke asrama."

Selama perjalanan kembali ke asrama kami hanya diam. Sebenarnya perjalanan ke asrama tidaklah jauh. Kami hanya perlu melewati lorong lalu kemudian menuruni tangga untuk menuju aula utama yang ada di bawah. Setelah itu kami melewati lorong yang berbeda untuk menuju asrama masing-masing. Namun Sam mengantarku sampai ke lorong yang menghubungkan asrama perempuan. Dan kami berhenti disana. Di dekat taman dalam yang tak seberapa luas.

"Kalau kau mengkhawatirkan sesuatu katakan padaku Fallen," katanya akhirnya. Aku diam selama beberapa saat untuk menatapnya. Kemudian berpaling dan menatap taman yang ada di depan kami dan menghela napas

"Sebelum aku mengatakannya aku ingin bertanya sesuatu. Apa yang kau khawatirkan dari kerabatmu Sam? Sejak kau mengatakannya kalau dia akan datang kemari kau selalu terlihat khawatir. Kau memang tak menunjukkannya secara langsung tapi aku bisa melihatnya dari matamu," jelasku. Kemudian aku menoleh padanya yang sedang menatap taman di depan. "apa kau punya dendam padanya?"

"Aku tak pernah punya dendam padanya Fal," ujarnya.

"Lalu?"

Dia memejamkan mata dan menghela napas. Kemudian membuka matanya kembali dan menatapku. "Dia... tak suka denganku. Dia selalu ingin berada di posisiku. Apalagi Lucy, adiknya telah mati karena kita."

"S-Sam, yang membunuh Lucy itu aku ketika di ujian waktu itu," akuku.

"Aku tau Fallen."

"Sungguh, aku tak bermaksud ingin membunuhnya waktu itu. Bahkan aku tak ingin melawannya."

"Itu ujian Fal. Dia bersedia menerima ujian itu. Jika waktu itu kau gagal, Lucy yang akan menerima buku mantra itu sebagai penggantimu," jelasnya. Seolah Sam membaca pikiranku, dia berkata, "aku tau semua itu dari kepala sekolah."

Lucy adalah adik Liam. Di ujian waktu itu aku melihat masa lalu keluargaku dimana ayahku dibunuh oleh pria iblis bernama David. Dia adalah ayah Lucy dan Liam. Oh, demi Tuhan...

Melihat ekspresiku yang tiba-tiba terkejut karena sesuatu Sam bertanya, "Fallen kau kenapa?"

Aku menoleh dan menatap mata Sam. Mulutku terbuka namun aku tak bisa mengatakan apapun padanya. Sam mengguncang tubuhku. "Fallen katakan ada apa denganmu?" tanyanya sekali lagi.

"S-Sam kumohon, dengarkan aku sebelum kau mengatakan sesuatu."

"Ada apa Fal?"

"Saat kau mengambil minuman tadi seseorang menghampiriku dan mengajakku berdansa sejenak. Kupikir itu kau tapi saat aku melihat wajahnya dia bukan kau. Dia memperkenalkan diri dan menyebutkan namanya padaku. Liam Nesshood. David adalah ayah Liam dan Lucy dan David... yang telah membunuh ayahku," jelasku padanya. Sam tak mengatakan apapun. Dia diam layaknya patung. Perlahan dia membelalakkan mata. Lalu tiba-tiba dia menyambar tanganku dan berjalan menyeretku menuju asrama perempuan.

"S-Sam!" panggilku yang tak dihiraukannya. Setelah kami sampai di depan asrama dia masuk dan masih tetap menyeretku. Dia sama sekali tak khawatir jika ada salah satu guru yang memergokinya masuk ke asrama perempuan. Meskipun aku tau semua guru mengikuti pesta dansa saat ini. Dia tetap menyeretku hingga sampai di depan pintu kamar asramaku. "Apa yang kau lakukan Sam?" tanyaku seraya melepaskan cengkeraman tangannya dengan paksa. Dia hanya diam lalu membuka pintu kamarku. Dia kembali mencengkeram tanganku dan memaksaku masuk ke dalam kamarku. Dia ikut masuk dan menutup pintu dengan keras.

Sepertinya aku telah membuatnya marah.

"Apa saja yang dikatakannya padamu?" tanyanya seolah dia sedang menginterogasi penjahat.

"Aku sudah mengatakan semuanya padamu tadi Sam," kataku.

"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"

"Tidak."

"Dimana dia sekarang?"

"Demi Tuhan aku tak tau Sam. Dia menghilang begitu saja saat kau datang." Sam menatapku selama beberapa saat, seolah dia sedang menyelidikku lewat mataku. Dia mendesis kesal dan kudengar dia mengumpat pelan. Aku berjalan mendekatinya. "Dia tak melakukan apapun padaku Sam," kataku meyakinkannya.

"Ini bukan apa yang tak dilakukannya padamu sekarang Fallen. Dia bisa saja melakukan sesuatu padamu suatu hari nanti. Apalagi kita berada di tempat yang sama," katanya dengan penekanan. Lalu dia berbalik dan membuka pintu. Sebelum dia keluar dia menoleh padaku. "Jangan terlalu dekat dengan Liam jika tak ingin sesuatu terjadi padamu atau aku. Aku akan bicara lagi denganmu besok." Dan dia keluar dan menutup pintunya.

Aku menggeram dan berjalan kesana kemari dengan penuh kebingungan. Akhirnya aku membuka pintu itu lalu mengejar Sam yang sudah sampai di tangga. Aku menghentikannya dan segera menghampirinya.

"Apa yang akan kau lakukan padanya Sam?" tanyaku cepat.

"Aku takkan melakukan apapun sampai dia bertemu dengamu," jawabnya.

"Kita merahasiakan hubungan kita Sam dia tak mungkin tau."

"Dia tau segalanya Fal, dia selalu mencari tau tentangku. Dia akan mengincarmu karena kau adalah kelemahanku. Akan lebih sulit lagi bagiku mengingat dia memiliki kemampuan es sama seperti Lucy. Aku tak bisa berbuat apa-apa jika dia berada di kelas yang sama denganmu Fallen," ungkapnya menatap kedua mataku sejenak, lalu berlalu pergi meninggalkanku sendirian disana.

Aku ingin mengejarnya. Ingin sekali memeluknya dari belakang dan meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Membisikkannya kata-kata ajaib yang bisa membuatnya lebih tenang. Mataku mulai mengabur, sadar bahwa aku mulai menangis. Aku berdiri dengan kedua lututku dan menangis dalam diam disana, seraya merasakan dinginnya es yang memenuhi seluruh tembok ruangan ini karena kekuatanku

***

Apa yang tak diinginkannya terjadi. Liam masuk di kelas air dan berada sekelas denganku. Sialnya lagi dia mendapatkan bangku tepat di sampingku. Bukannya aku membenci Liam, aku hanya tak ingin Sam semakin khawatir padaku. Karena aku tau, semakin dia khawatir dia bisa melakukan sesuatu yang tak pernah aku ataupun mungkin dia inginkan.

"Fallen Gladwin," panggilnya pelan. Aku menoleh padanya. Dia tersenyum. "kekasih pertama Sam Arthur. Sepertinya pertemuan kita semalam membuatnya marah."

"Kau... jangan pernah macam-macam denganku," kataku dingin.

"Sebagai sosok gadis yang punya wajah cantik sikapmu terlalu dingin Fal. Aku tak pernah macam-macam dengan siapapun apalagi dengan seorang wanita. Aku hanya ingin melakukan apa yang membuatku senang."

"Jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku dan Sam. Kau tau dia tak pernah ingin bermusuhan denganmu."

"Aku tau itu Fallen. Tapi dia telah mendapatkan apa yang selalu kuinginkan selama ini."

Aku menatap matanya sesaat."Apa yang sudah kau rencanakan Liam?"

Dia berpaling dan menyandarkan punggungnya seraya menghela napas. Lalu dia kembali menatapku dengan senyuman miring. "Kau akan melihatnya nanti."

FALLEN (the Fiery Passion)#3Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang