"Fallen," panggil Fred ketika aku sedang berjalan di lorong setelah jam pelajaran selesai. Aku menoleh ke belakang dan melihatnya berlari menghampiriku. "Ada apa Fred?" tanyaku.
"Apa murid baru itu masuk di kelasmu?"
"Ya. kenapa?"
"Entahlah, kupikir dia akan masuk di kelasku. Beberapa guru juga sempat bingung dengan keanehan ini. Mereka menyangka dia akan masuk di kelas hitam. Bagaimana dia bisa masuk di kelasmu?"
"Dia punya sihir es sama sepertiku Fred," kataku.
"Sihir es?" tanya Fred seolah tak percaya. "d-dia tak pernah punya kemampuan itu sebelumnya," tambahnya.
Oke, ini mulai aneh. Tapi semalam Sam bilang kalau Liam punya sihir es sama sepertiku. Pasti Sam sudah tau sebelumnya, lagipula mereka kerabat dekat. Aku penasaran apa yang ingin dilakukan Liam sampai dia ikut menempati Sleavton. Kuharap dia takkan membunuh Sam karena kebenciannya padanya. Oh Tuhan, semoga itu tak pernah terjadi.
"Mungkin dia menyembunyikannya," ujarku.
"Lalu kenapa dia baru menunjukkannya sekarang Fallen, bukankah ini aneh?"
Aku menggigit bibir. Fred benar. Ini aneh. Sepertinya dia sudah merencanakan semua ini sebelumnya. Tapi untuk apa?
"Dimana Sam?" tanyaku.
"Saat aku akan keluar dia masih berada di kelas," jawab Fred. Akhirnya aku pergi meninggalkan Fred untuk menemui Sam. Demi Tuhan sekolah ini memiliki tujuh kelas hingga aku harus berjalan satu persatu melewati kelas-kelas itu karena memang tak ada jalan lain. Kelas hitam berada paling ujung. Aku salut dengan Sam dan Fred yang sering menemuiku di lorong dekat kelasku. Padahal jarak kelas kami lumayan jauh. Dan luas kelas disini yah... hampir seluas ruang sidang kurasa. Setelah aku melewati tiga kelas, aku melihat belokan dan diatas sana tertulis area kelas hitam. Aku menelan ludah. Aku belum pernah masuk ke kelas hitam sebelumnya jadi aku sedikit gugup. Di lorong itu ada beberapa murid kelas hitam sedang berdiri dan berbincang. Ada juga yang sedang duduk di bangku panjang. Beberapa dari mereka memperhatikanku. Aku tak mempedulikannya dan terus berjalan menuju pintu besar di depanku yang sudah terbuka lebar. Perlahan aku melongok untuk melihat di dalam kelas itu. Semuanya sama seperti kelas yang lain. Mataku melihat sekeliling untuk mencari satu sosok itu.
"Mencari siapa nona?" tanya seorang lelaki berambut hitam yang akan keluar kelas.
"Apa Sam Arthur ada disini?"
"Ya. Dia disana," katanya dan menunjuk ke bangku kedua paling ujung, tepat di samping jendela-jendela besar itu. Aku menoleh dan melihat Sam disana dengan kepala di meja dan lengan yang terlipat. "Terima kasih," ucapku padanya dan masuk ke kelas itu untuk menghampirinya. Saat aku masih berada di tangga-tangga yang menurun itu aku berhenti dan melihat Sam. Apa dia tidur ya? Kalau memang begitu sebaiknya aku menemuinya nanti saja setelah dia bangun. Saat aku akan berbalik kulihat Sam mengangkat kepalanya dan lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menghela napas. Dia menatap ke depan sejenak sebelum dia menatap ke luar jendela di sampingnya.
Dia... memikirkan sesuatu. Dan sepertinya itu membuatnya tak tenang.
Aku melanjutkan menuruni tangga hingga sampai di dasar. Kemudian berjalan ke arahnya dan kembali menaiki beberapa tangga. Aku berhenti dan berdiri di tangga kedua untuk menatapnya yang sedang frustasi.
"Sam," panggilku. Dia menoleh dan terkejut melihatku. "Fallen? Sedang apa kau disini?" tanyanya. Aku tersenyum dan kembali menaiki tangga hingga aku berdiri di sampingnya. "Aku ingin berbicara denganmu karena itu aku kemari," kataku.
"Soal apa?"
"Fred tadi menemuiku dan mengatakan soal Liam. Dia bilang seharusnya Liam berada di kelas kalian," ungkapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
FALLEN (the Fiery Passion)#3
FantasíaMurid baru akan datang... Dia adalah kerabat dekat Sam dan berada di kelas yang sama dengan Fallen. Sam tau bahwa kerabatnya itu selalu mencoba untuk mendekati Fallen, kekasihnya. Tapi ia tak pernah tau apa tujuan sebenarnya. Di sisi lain ayah Sam...
