Bagian Tiga - Bos Ganteng

14.4K 1.6K 9
                                        

Langit kota masih diselimuti gelapnya malam. Ayam saja belum bangun untuk berkokok tapi pria lajang yang satu itu sudah terjaga, bahkan belum tidur sejak semalam karena harus mengurus anaknya yang tak berhenti menangis.

"Sayang ... tidur yaa," ucap Lelaki itu frustasi sambil mengendong dan sesekali mengayun pelan bayi dalam dekapannya.

Ini sudah kesekian kalinya putrinya itu menangis, sungguh Damar bingung. Dia beri susu tidak mau, dicek popoknya juga kering, tapi kenapa anaknya itu tidak mau tidur? Damar benar-benar tak tau lagi harus bagaimana, dengan helaan nafas frustasi tangannya mengambil ponsel miliknya.

Masa bodo kalau menganggu tidur wanita itu nantinya. Tangannya dengan cepat bergerak memencet nomor Kana. Sedikit hopeless akan diangkat, tapi laki-laki itu tetap mencoba.

"Halo Kana?" panggil Damar ragu saat saat sambungan teleponnya terangkat.

Suara deru napas teratur yang menyapanya membuat Damar bingung. Ini si Kana tidur, tapi bisa ngangkat telepon atau gimana sih?

"Kanaya??" panggilnya lagi.

Bep.

Teleponnya dimatikan sepihak membuat Damar mendecak dan berakhir dengan lelaki itu yang terus mencoba menelpon berulangkali ke nomor Kana. Mungkin belasan kali lelaki itu mencoba dan akhirnya teleponnya diangkat dengan disambut suara serak khas bangun yang dia tebak milik sekertarisnya.

"Ugh, Halo," sapa Kana dengan suara serak.

"Kana saya mau--"

Bep.

Lagi-lagi sekalinya diangkat malah langsung dimatiin. Damn, rutuk Damar. Dia tau ini jam tidur tapi dia sudah sangat lelah, kepalanya benar-benar pusing, dan besok dia harus kerja lagi karena ada meeting dengan investor asing. Bisa ngacir itu orang-orang penting kalau liat keadaan Damar yang seberantakkan ini. Dia benar-benat butuh bantuan orang yang mengerti tentang semua ini.

Lelaki itu mencoba lagi sambil menatap kasihan melihat ke arah putrinya yang terus menangis kencang.

"Halo ...," gumam Kana setengah sadar.

"Kanaya jangan dimatiin telepon saya!"

"Siapa sihh."

Damar memutar bola matanya, ini anak masih setengah sadar kayaknya. "Kana kamu masih setengah sadar ya? Saya Damar Bos kamu."

"Bos Ganteng?" Kana terkekeh sementara Damar menyerngit tak mengerti dengan apa yang wanita itu bicarakan.

"Kenapa kamu ketawa??"

"Gak di dunia nyata gak di mimpi masih aja bos ganteng suka gangguin saya. Udah kali bos capeeeek banget ini udah ya-- "

"Eh tunggu!! Anak saya gak berhenti nangis Kana saya bingung mau digimanain lagi ini!"

"....."

"Kana?"

"...."

"Kanaya?!"

"Eum ... liat popoknya."

"Popoknya gak basah. Masih kering tapi dia juga gak mau minum susu! Saya bingung dari tadi nangisnya gak berenti."

"Hhemm coba dikelonin...."

"Sudah Kanaaa."

"Hhemm hhemm ... coba periksa mungkin dia kedinginan atau malah kepanasan. Udah ya Bos Ganteng ... saya capek."

"Kan--"

Bep.

Lagi-lagi dimatikan sepihak, resiko punya sekertaris yang begitu dan apa tadi sebutannya? Bos Ganteng? Damar menghela nafasnya, itu perempuan satu di kantor lebih banyak diem, nurut-nurut aja dikirain gak terpengaruh sama kegantengannya, tapi ternyata!

"Kana ... awas kamu ya."
Damar menggeleng pelan.

***

"Pagi Je," sapa Kana ke Jenar resepsionis kantornya.

"Eh ... pagi Mbak Kana! Tumben Mbak datang agak siang?"

Kana menyerngit, siang? Wanita itu melirik ke arah jam tangannya. Ini masih jam enam. Bahkan jauh dari kata siang karena jam masuk kantornya aja pukul tujuh. Ini masih masuk hitungan pagi, biasanya juga Kana datang jam segini.

"Ini baru jam enam, Je. Siang dari mananya?"

"Eh iya ya, Mbak?" Jenar melirik ke arahnya. "Eh iya bener waah
tumben-tumbenan berarti Bos besar datang pagi. Apa sidak ya Mbak?"

Kana menyerngit. "Bos besar?"

"Iya itu Mbak Pak Dam--" Mata Jenar membulat. "Mbak Pak Damar udah dateng! Buruan ke atas!"

"Demi apa, Je?!" tanya Kana gelagapan.

"Iya Mbak, cepetan!"

Dengan cepat Kana langsung berbalik arah menuju lift khusus untuk para atasan. Baru saja dia mau menekan tombolnya, lift itu terbuka perlahan membuat Kana bisa mencium aroma bvlgari yang sangat dia kenal.

"Kanaya ... akhirnya kamu datang juga."

Degh!

Bos Ganteng ....

Between UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang