Bagian Enam - Bos Ganteng Gila!

13K 1.6K 87
                                        

"Kamu kenapa gak angkat telepon saya tadi malem?" tanya Damar di sela-sela waktu makannya.

Ya pikir aja ndiri di pagi buta gitu manusia di dunia pada ngapain coba?

"Maaf Pak ponsel saya di luar kamar jadi enggak kedengeran."

"Lain kali bawa terus ponsel kamu, biar kalau saya ada perlu kamu bisa langsung dihubungi, mengerti?"

"Mengerti Pak," ucap Kana kesal.

Kalau bisa gadis itu memutar waktu, mungkin tadi pagi dia tidak akan buru-buru ke sini. Bos Gantengnya itu memang aneh, tukang suruh seenaknya. Kana sudah panik tadi, gadis itu kira ada kebutuhan mendesak yang benar-benar urgent hingga membuat nada Bosnya itu terdengar sangat lesu di teleponnya.

Gadis itu sudah panik sampai buru-buru datang ke rumah atasannya itu. Tapi ternyata lelaki itu benar-benar menyebalkan. Dia menelepon Kana sebanyak tadi di tengah malam, menganggu ketentraman kediamannya hanya untuk meminta Kana datang dan memasak nasi goreng.

Nasi goreng?!

Dasar Bos Ganteng gila!

Rasanya saat sampai di rumah atasannya tadi Kana ingin membungkus lelaki itu hingga jiwa menyebalkannya keluar. Terkadang Bos Gantengnya ini bisa sangat dewasa sekali sampai Kana merasa tidak heran Pak Harian Bagaskara --Ayahnya Pak Damar memilih dia di antara ke dua Kakaknya untuk memimpin perusahaan. Namun, tidak jarang Kana juga merasa Bosnya itu sangat kekanakan, tingkahnya seringkali memusingkan kepala.
Benar-benar membuat setiap hari untuk gadis itu bagai membuka kotak penuh rahasia, tidak tertebak akan bagaimana nantinya. Misalnya seperti hari ini, dia menelpon hingga membuat jantung Kana berdegub cepat karena cemas dan ternyata hanya karena urusan perutnya. Sialan, dan saat ditanya bosnya hanya bilang dia tiba-tiba mengidam masakan Kana. Dasar orang ganteng aneh! Anaknya berojol udah lama masa ngidamnya baru sekarang? Gila!

"Kanaya," panggil Damar.

"Iya Pak?" saut Kana sambil menggelengkan kepalanya pelan mencoba menyadarkan diri dari lamunan siang harinya yang menyebalkan. Gadis itu mengelap wajan basah di tangannya dan menaruh peralatan masak yang tadi sempat dia gunakan itu kembali ke tempatnya.

"Kamu tau Ayah saya nikahin Ibu saya karena apa?" tanya Damar sambil menyimak siaran berita di tv yang menampilkan kabar mengenai salah satu pejabat ibu kota.

"Karena apa Pak?"

"Dulu Ayah sempet cerita, dia bilang ke saya dia jatuh hati sama masakkan Ibu saya. Kayak kata orang ... dari perut naik ke hati, makanya dia jadiin Ibu saya istrinya karena dia selalu kangen sama masakan Ibu saya."

Kana terdiam sebentar sebelum akhirnya menyauti perkataan Bosnya itu singkat. "Oh gitu, Pak."

"Iya," ucap Damar sambil lanjut memasukkan sesuap nasi lagi ke mulutnya. "Saya rasa nanti saya bakal lakuin apa yang Ayah saya lakuin."

Damar menatap menerawang. "Kalau saya punya istri yang masakkannya saya suka, saya pasti betah di rumah karena kangen sama makanannya dan dia. Saya gak akan ngehabisin uang buat makan di restoran mahal atau warung pinggir jalan. Saya bakal makan masakan buatan tangan istri saya."

Bos gantengnya itu menghela napasnya berat. "Pokoknya nanti kamu harus mau," ucap lelaki itu tegas sambil mengalihkan tatapannya ke arah Kana. Sekilas jantung Kana berdegub dan serasa mau copot dengan Bos Gantengnya yang tiba-tiba menatapnya itu. "Kamu harus mau bantuin saya cari perempuan yang masakkannya saya suka kayak kamu."

Kenapa gak saya aja Pak?

Kana menghela napasnya. Perkataan Bosnya itu selalu saja ambigu, membuat Kana hampir saja berpikir yang iya-iya. Untung saja gadis sedikit belajar dari pengalamannya terdahulu jadi ia tidak terlalu malu. Lagipula sepertinya di balik angan-angan Bosnya tentang keluarga kecilnya, Ibu untuk Flo dan istri idaman masa depannya, Kana tidak pernah masuk daftar kandidat berpotensi milik lelaki itu. Gadis itu bahkan merasa dia sudah di-black list sebelum mendaftarkan namanya.

Ugh, Remah-remah Biskuit Mari mah bisa apa atuh.

Tangisan Flo terdengar dari dalam kamar. Kana langsung gesit meninggalkan pekerjaannya di dapur dan membawa Flo pada dekapannya. Bahkan gadis itu tidak menghiraukan pernyataan Bosnya tadi, yang penting Baby Flo bersamanya dulu sekarang.

"Baby Flo udah bangun?" tanya Kana sambil tersenyum hangat.

Flo mengeliat kecil di dekapan Kana dan gadis itu langsung membawanya ke ruang tengah tempat Bos Gantengnya itu menonton. "Pak ini Baby Flo-nya mau dibawa ke kantor lagi nanti?"

Damar melirik sekilas dan menangguk ke arah Kana. "Hhemm."

"Saya mandiin sama kasih makan Baby Flonya dulu, biar dia anteng. Bapak kan ada meeting jam sebelas jadi kita pergi ke kantornya jam sembilanan aja gimana, Pak?"

"Sesukanya kamu aja, lagian kamu kan yang pengang jadwal saya," ucap Damar sambil mengidikkan bahunya pelan.

Lelaki itu memasukkan suapan nasi terakhir dalam mulutnya dan berdiri untuk meletakkan piring kotornya di washtafel. Tetapi sebelum itu dia berhenti tepat di depan Kana.

Ia berdiri sangat dekat dengan Kana. Tubuh Bos Gantengnya yang tegap dan lebih tinggi darinya membuat Kana yang hanya berjarak beberapa senti mau tak mau menahan nafasnya. Gadis itu merasa terkurung dan jantungnya pun mulai berdegup kencang.

Lalu Damar mulai bergerak perlahan, amat pelan mendekatinya. Lelaki itu terdiam sebentar sebelum berakhir mencium lembut puncak kepala Flo yang berada tepat dalam dekapan Kana yang erat. Ia tersenyum dan mengelus pipi putri kecilnya itu sayang.

"Anak Papa jangan nakal ya," ucap Damar pelan. Perkataan itu cukup singkat, cukup untuk membuat Kana menahan napas dan bersemu merah karena tingkah kebapakan yang terlihat oleh Damar.

Duh Pak ... Puncak kepala saya gak mau dielus dan dicium juga gitu?

TBC

Between UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang