Bagian Lima - Ada Apa Sih?

16.7K 1.6K 49
                                        

Kana bergerak membuka pintu rumahnya perlahan. Kegelapan menyambut matanya, gadis itu dengan sigap mencari saklar lampu. Maklum, sekarang sudah jam setengah dua belas malam. Orang rumah sudah pada tidur, itu sebabnya setiap ruangan yang tak digunakan jadi gelap dan padam.

Tadi Kana harus mampir dulu ke rumah Andita --Asistennya untuk menjelaskan beberapa proposal, agenda, dan juga hal-hal yang selalu menjadi acuan kerja bagi Pak Damar. Berhubung beberapa bulan ke depan Andita yang akan banyak menemani Bos Gantengnya itu rapat dan kunjungan ke luar, gadis itu harus tau apa mau dan ketidak mauan Pak Damar.

Ritme kerja seorang Damar Bagaskara sedikit rumit untuk dipahami. Lelaki itu menerapkan sistem yang Kana saja baru bisa mengerti benar saat empat bulan kerja di sana.

"Mbak Aya?"

Suara anak kecil yang serak itu membuat Kana menengok, gadis itu sedikit terkejut saat melihat Grey --Adik bungsunya sedang berdiri tegak sambil mengucek matanya pelan.

"Loh, Dek. Kenapa belum tidur?" tanya Kana penasaran. Gadis itu segera meletakkan tasnya di sofa dan mengampiri adiknya itu.

"Mbak baru pulang ya?" tanya Grey bingung.

"Iya, Mbak baru pulang. Kamu kenapa belum tidur? Tidur gih sana."

Grey menggeleng. "Gak bisa tidur."

"Kenapa?" tanya Kana sambil berjongkok berusaha menyamai tinggi adiknya.

Anak itu terdiam sebelum akhirnya mengalungkan lengan kecilnya di leher Kana dan memeluk Kana erat.

"Grey takut ... tidur sama Mbak Aya boleh?" tanya Grey polos.

Kana mengangguk, Grey memang yang paling menempel padanya. Anak itu manja, lebih manja lagi kalau sudah melihat Kana. "Boleh, tapi janji langsung tidur ya?"

***

Kana merengangkan tubuhnya, gadis itu masih menggunakan piyama bugs bunny pink miliknya dan berjalan menuju meja makan. Grey sudah tidak terlihat sejak dia bangun tadi, memang sih jam segini tiga kembar itu harusnya sudah bersiap untuk ke sekolah bukannya baru bangun.

"Pagi ...," sapa Kana ke arah tiga adiknya yang sudah duduk rapi dengan seragam sekolahnya di meja makan.

"Pagi, Mbak!" saut mereka berbarengan.

Kana mengangguk lalu menarik kursi berhadapan dengan ketiganya. "Adeknya Mbak pada semangat semua nih kayaknya."

"Iya dong, kata Ibu guru mesti semangat kalau mau sekolah!" balas Ethan sambil menyengir kuda.

Kana tersenyum geli sementara Grey dan Sky mengangguk setuju berulang kali membuat Kana gemas ingin mencubit pipi mereka yang makin tembam saja sekarang.

"Kana ...," panggil Sarah ibunya.

Wanita empat puluh tahunan itu berjalan ke arah meja makan dan meletakkan sepiring besar nasi goreng dan membaginya ke ketiga anak kembarnya.

"Kamu pulang kemarin jam berapa?"

"Eum ... jam setengah dua belasan Ma, kenapa?" jawab Kana santai. Gadis itu tidak bisa makan nasi kalau pagi hari, tubuhnya akan jadi lemas dan pusing seharian. Jadilah sekarang dia mengambil dua lembar roti dan mengolesi selai cokelat di atasnya.

"Kamu pulang jam setengah dua belas tapi telepon kerja jam dua pagi masih juga masuk ke ponsel kamu? Atasan kamu gak tau waktu atau gimana sih, Ya?"

Kana menyerngit, "Maksud Mama?"

"Kemarin malem, Mama kebangun jam dua karena ponsel kamu gak berhenti bunyi. Kamu taruh tas kamu di ruang tengah kan ya?"

"Iya ...," jawab Kana ragu. Gadis itu teringat semalam sepulang dari kantor Grey langsung menghampirinya hingga dia lupa tentang tasnya karena gadis itu langsung masuk ke kamar dan menidurkan adik bungsunya itu.

"Mama tau, kamu kerja buat kita. Tapi atasan kamu juga mesti tau waktu dong, Ya."

Sarah berjalan kembali ke dapur mengambil nampan berisi gelas-gelas susu putih dan meletakkannya di meja. "Kalau kerja kamu gak bisa istirahat Mama jadi khawatir, Ya."

Kana terdiam sebentar. "Ma ... Aya pulang malem bukan karena Bos Aya kok. Aya ngebantuin temen ngurus kerjaannya. Buat atasan Aya yang nelepon malem-malem itu ... mungkin kepencet kali."

"Kepencet kok berulang kali," saut Sarah.

Kana menghela nafasnya, gadis itu melahap habis roti lapisnya dan menyerngit saat Rama --Ayahnya tidak terlihat di rumah.

"Papa mana, Ma?" tanya Kana bingung.

"Papa kamu nemuin sahabat lamanya, katanya mau ngasih kerjaan."

"Ohh ...." Kana mengangguk mengerti.

***

Mata Kana terbelalak saat melihat berapa banyak panggilan masuk dan pesan dari Bos Gantengnya itu. Pantas saja ibunya kesal, Bosnya pasti membuat kebisingan semalam.

30 misscall dan 67 pesan masuk.

Gadis itu menekan kembali nomor Pak Damar berharap setidaknya lelaki itu tidak begitu kesal padanya. Salah siapa juga menghubungi Kana di luar jam kerja. Ya walaupun Kana sekertarisnya tapi bukan berarti dia bebas gangguin jam istirahatnya.

Lama gadis itu menunggu. Kana kira teleponnya tidak akan diangkat tapi tiba-tiba saja suara berat Pak Damar menyapa pendengarannya.

"Kana ...," panggil Bosnya suara lelaki itu terdengar berat dan lesu.

Kana mengangguk perlahan. "I-iya, Pak?"

"Saya butuh bantuan kamu Kanaya ... secepatnya bisa ... bisa kamu ke rumah saya?"

"Tapi Pak--"

Terlambat, Bos Ganteng menyebalkannya itu sudah menutup teleponnya duluan.

Ada apa sih?

Between UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang