Bagian Satu - Anaknya Bapak?

18.8K 1.8K 28
                                        

Flora Hanggita Bagaskara.

Damar tersenyum sendu menatap putri kecilnya yang tertidur pulas berbalut selimut pink pucatnya. Dalam hati lelaki itu meringis merasa sangat bersalah akan nasib Flo yang harus lahir dari kesalahan kedua orang tuanya

Kalau saja Damar dulu tak khilaf dan mengikuti tingkah gila wanita tak berbelas kasihan seperti Sarah mungkin bayi kecil ini tak akan menjadi korban. Terhitung sudah lebih dari enam kali Flo hampir saja digugurkan oleh Sarah. Beruntung semuanya diketahui oleh Damar dan lelaki itu bisa mencegahnya.

Rasanya sangat melelahkan. Untuk tetap membuat Flo bertahan sampai lahir dengan selamat itu saja sudah penuh perjuangan. Dengan surat perjanjian di atas matrai dan embel-embel mempertemukan Sarah kembali dengan si brengsek Zaldi baru wanita itu mau mempertahankan Flo walau hanya sampai lahir di muka bumi.

Damar mengela nafasnya, lelaki itu mengusap wajahnya gusar. Dia sangat cemas dengan masa depan. Apa yang dia harus lakukan seterusnya semuanya kelabu dan dia benar-benar tak punya bayangan akan hal itu.

Lelaki itu mengeluarkan ponsel miliknya dan mulai menghubungi nomor telepon yang sudah dia hapal di luar kepala. Di dering sambung ketiga suara manis seorang perempuan menyapanya.

"Hal--"

"Kana, tolong kamu belikan semua peralatan bayi lengkap 0-3 bulan dan kirim ke rumah saya ya "

"Ap-apa pak?"

"Ck kamu denger gak sih yang saya omongin?"

"Bapak minta saya beli peralatan ba--"

"Iya saya minta kamu beli peralatan bayi, kalau bisa hari ini sudah di rumah saya semua barangnya."

"B-baik, Pak. Eum ... maaf Pak tapi barangnya apa saj--"

"Kana saya tadi bilang apa? Semuanya kan? Ya itu artinya semuanya pakaian lah, popok, botol susu tempat makan. Ya pokoknya semuanya."

"M-maaf Pak buat buat bayi perempuan atau--"

"Ck, perempuan bayinya. Udah jangan tanya-tanya lagi! Pokoknya jam empat sudah ada di rumah saya ya."

Sambungan telepon itu diputus sepihak oleh Damar. Lelaki itu menengelamkan wajahnya ke bantal. Sebenarnya tak tega juga memperlakukan Kana—sekertarisnya—seperti itu tapi mau bagaimana lagi, ah sudah lah.

***

Kana melongo dan benar-benar tak percaya. Dia kira kabar bosnya minta cuti tadi pagi bisa membuat hidupnya rada tenangan sedikit tapi ternyata ... ck! Sama saja.

Dia juga tak habis pikir kenapa juga bos gantengnya itu minta yang aneh-aneh. Kenapa gak beli sendiri toh diakan sedang cuti dan dalam masa merdeka-merdekanya tidak seperti Kana yang harus meng-handle kerjaan yang menumpuk karena si bosnya ini minta cuti mendadak. Kalau bukan karena digaji juga ugh, rasanya Kana ingin sekali mengacuhkan panggilan telepon tadi.

Wanita itu melirik ke arah jam dinding. Rautnya berubah muram saat ia sadar jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Pak Damar gila! Mana sempat satu setengah jam nyari semuanya, belum lagi macetnya!

"Aih si Pak Bos mah ada-ada aja!" gerutunya.

***

Kana memberhentikan mobil matic-nya di depan rumah megah satu tingkat berhalaman luas milik bosnya. Wanita itu keluar dengan membawa sekantong besar perlengkapan bayi pesanan Damar. Dengan langkah sedikit menyeret dan berjalan susah payah wanita itu membawa kantong berat itu masuk ke dalam rumah.

Sejak setahun yang lalu Kana punya akses bebas setiap saat masuk ke rumah milik bosnya ini. Kalau mau maling juga sebenarnya Kana bisa, toh tak ada pelayan atau penjaga di rumah ini. Hanya saja Kana masih tahu diri, sudah dikasih hati mau minta jantung? Sudah dibaikin masih mau ngelunjak? Gak punya malu bener kalau begitu.

"Assalamualaikum," ucap Kana sambil membuka pintu.

Langkahnya terhenti, sesaat wanita itu mengucek matanya tak yakin melihat ruang tengah bosnya yang terkenal rapi dan bersih itu kini benar-benar berantakkan. Piring kotor bertumpuk, bungkus snack, makanan sisa, bantal bertebaran dan ... popok bayi?

Kana menyerngit saat mendengar lengkingan tangisan bayi dari arah dalam rumah. Meski dia penasaran tapi Kana ingat, Damar paling tidak suka jika Kana memasuki area dalam rumahnya tanpa seizinnya terlebih lagi tanpa si bos ganteng itu di sekitarnya.

"Assalamulaikum, Pak Damar," ucap Kana cukup kencang berharap Bosnya itu menunjukkan batang hidungnya.

Nihil, hanya gema lengkingan tangis bayi saja yang menjawab panggilan Kana. Kana menggaruk tengkuknya bingung. Bosnya bisa murka ini kalau Kana masuk ke area pribadi rumahnya tanpa seizinnya, hanya saja tangisan itu ... Kana sungguh tak tega jika terus mendengarnya.

Dengan langkah pelan nan ragu, Kana berjalan mencari sumber suara. Hatinya benar-benar ngilu mendengar tangis itu. Mata menelisik melihat ke dalam sebuah kamar tidur. Di sana di tengah kasur king size berseprai biru ocean seorang bayi mungil menangis meraung sambil terus mengoyangkan kaki dan tangannya.

Kana tak tega langsung sigap membawa bayi itu ke dekapannya. "Cup cup cup."

Wajah bayi itu sudah memerah akibat menangis, mulutnya juga sudah mulai mencecap-cecap mencari asi. "Cup cup cup. Sabar ya De," ucap Kana sambil mengendong bayi itu sesekali mengoyangkannya mencoba menenangkan.

Ibunya mana lagi? batin Kana.

"Ini! Ini Papa bawa susu ... nya."

Kana hampir tak percaya saat melihat bos gantengnya itu berlari cepat memasuki kamar dengan wajah cemas dan botol susu kecil di tangannya.

"Pak Damar?"

Mata Damar membulat melihat Flo anaknya sudah berada dalam dekapan Kana. "Kana?"

Tangisan Flo memecah membuat Damar tersadar dan langsung mengambil bayi cantik itu dari tangan Kana. "Ini Flo ini Papa udah buatin susunya."

Papa?

"Ini Bapak ... Bapak udah punya anak?"

TBC

Between UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang