Bagian Sembilan - Ibu Anak Sama Aja!

8.2K 1.1K 28
                                        

Senyum dari sang security yang  bercampur dengan raut kebingungan menyapa Damar. Bagaimana tidak? Seorang Damar Bagaskara yang biasanya membawa mobil kini malah datang dibonceng ojek online. Setelan jas mahalnya terlihat sangat kontras dengan motor matic dan helm hijau ojol yang dia kenakan. Wajah lelaki itu juga kelihatan teramat panik bahkan cenderung memucat hampir seperti mayat.

"Ibu saya dimana?" tanya Damar dengan cepat.

"Ibunya Bapak?"

"Iya, Ibu saya dimana?" ulang Damar sekali lagi dengan tidak sabaran. "Sekertaris saya. Kanaya, seketaris saya dimana?"

"Oh, Mbak Kanaya kayaknya di ruangan Bapak, Pak. Sejak pagi belum ada  keluar kantor."

Damar menghela napasnya. Lelaki itu melangkah setengah berlari memasuki kantor. Entah perasaannya saja atau memang begitu situasinya, ia merasa kantornya sedikit lebih tengang. Senyum dari para staff-nya juga terasa kaku bagi seorang Damar.

Perjalanan lift menuju lantai delapan bahkan terasa sangat lama. Ia benar-benar tidak tahan. Sejak Kanaya menelponnya beberapa waktu yang lalu, seketarisnya itu tidak bisa dihubungi lagi. Ibunya juga tidak mengangkat panggilan Damar walaupun ia sudah menelepon berulang kali. Macet panjang, ditambah dengan keadaan yang benar-benar memusingkan membuat Damar sampai harus mencari alternatif lain yang paling cepat yang bisa dia gunakan. Ia bahkan sampai harus naik ojek dan meninggalkan mobilnya di tempat meeting saking ingin cepatnya.

Saat pintu lift terbuka, fokus Damar langsung tertuju pada satu hal. Tepat di depan pintu ruangannya, Kanaya terduduk lemas, di lantai dengan wajah yang pucat dan tangan yang terpaku mendingin di depan dada. Padangan hampa dari gadis itu membuat jantung Damar berdetak makin tidak karuan.

"Kana?" panggil Damar pelan.

"...."

"Kanaya?"

Lelaki itu mencoba memanggil Kanaya berulang kali, tapi tidak ada sahutan. Kana bagai raga tidak bernyawa. Saat mata Damar menangkap pintu ruangannya yang terbuka lebar, tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam ruangan berharap bisa menemukan sosok putri kecilnya dalam keadaan baik-baik saja.

Tapi nihil.

Flora tidak ada.

"Bapak ... Bapak kemana aja?" tanya Kana dengan teramat pelan. Gadis itu sudah berdiri di ambang pintu dan menatap Damar dengan sendu.

Damar tersentak, belum pernah seumur hidup Damar selama dia  memperkerjakan Kanaya, ia melihat gadis itu seaneh ini. "Kanaya, kamu kenapa?" tanya Damar bingung. "Flora dimana, Kanaya?"

Kanaya menggeleng.

"Kanaya... tolong jelaskan sama saya. Apa ibu saya tau? Flora dimana Kana?" tanya Damar panik.

Kananya menunduk dalam. "Maaf, Pak. Flora... Flora di ambil ibu dan di kata Ibu kirim ke panti asu—"

"BAPAK! BAPAK!"

PLAK!

Damar mengaduh kesakitan saat wajahnya ditepuk keras di bagian pipi. Seperti tidak cukup juga, percikan air kini mengguyur wajah Damar perlahan membuat netra cokelat lelaki itu mau tidak mau terbuka juga. Damar mengerjapkan matanya dan menarik napas dalam, jatungnya berdegup tidak karuan.

"Bapak gak apa-apa?" tanya Kanaya.

Mata gadis itu membulat, memperhatikan bosnya yang sekarang terbaring dengan wajah pucat di sofa. Sejak lelaki tiba di kantor setengah jam yang lalu, Bos Gantengnya itu langsung jatuh pingsan setelah melihat Kanaya. Bangunnya juga teramat lama, sudah segala minyak yang ada di kantor Kanaya coba mulai minyak angin, minyak kapak, minyak tawon, sampai minyak telon sudah Kanaya coba oles di dekat hidung Bos Gantengnya itu, tapi tetap sama. Lelaki itu masih betah tertidur bak snow white dengan sesekali bergerak gelisah.

"Flora! Panti asuhan mana?" Damar bergerak panik. Lelaki itu bangkit dan menarik tangan Kanaya gelisah. "Ibu, bawa Flora kemana Kanaya!"

Kanaya menyerngit.

"Bapak ngomong apa?" tanya gadis itu bingung. "Panti ... Panti apa?"

"Kanaya saya serius!"

"Saya juga serius, kali Bapaknya!"

"Flora?"

"Tuh," tunjuk Kana pada babybox kecil di sudut ruangan.

Damar menyerngit. Lelaki itu melepaskan pengangannya pada tangan Kana dan perlahan berjalan mendekat ke arah box itu. Rasa tenang langsung melingkupi batin Damar saat melihat putri kecilnya tertidur pulas dengan wajah yang sangat Damar.

"Bapak tuh aneh ya," ucap Kanaya kesal. "Kalau diinget-inget harusnya Pak saya yang pingsan, bukan Bapak."

"Pingsan?"

Kanaya mengangguk. Gadis itu bersedikap dan menatap Damar —Si Bos Gantengnya itu dengan raut heran. "Saya yang ngadepin Ibu Bapak. Saya yang rasanya mau mati setiap langkah Ibu Negara inspeksi. Jantungan, Pak. Jantung saya rasanya mau copot ini. Ini gak ibu, gak anak sama aja ngerepotinnya."

"Gimana?" tanya Damar bingung.

"Gimana apanya! Ini! Sebelum banyak nanya, gantiin ini kepala saya, Bapak!" Kanaya mendengus menunjukkan jidatnya yang sekarang berhias plester bening yang cukup kentara. "Main seradak-seruduk aja mau pingsan juga tau tempat dong!"

TBC

Maap agak drama. 😂
Tolong dimaklumkan.

Between UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang