Sudah lama Kanaya tidak merasa sebingung ini. Pikirannya benar-benar buntu. Bisa mati dia kalau sampai Ibu Negara tau Bapak Bosnya sudah punya anak tanpa menikah terlebih dahulu.
Bukan, bukan Pak Damar yang mati tapi Kanaya.
Kanaya sudah seperti tangan kanan Ibu Negara. Kanaya ini, Kanaya itu, Kanaya, dan Kanaya. Ibu Negera jika inspeksi ke kantor seperti hari ini, pasti hanya mau dilayani oleh Kanaya. Sialnya dari berbagai macam agenda hari sepenting ini bisa terlewat dari ingatan Kana. Tak heran kalau nanti Kanaya pulang hanya tinggal nama. Dia benar-benar bisa mati di tangan Ibu Negara.
"Mbak Kana dingin banget ini tangannya." Jeje memengang tangan Kanaya dan mencoba membawa Kana kembali ke kesadarannya. Sejak Kana ingat mengenai kedatangan Ibu Negara, gadis itu langsung memanggil Jeje ke ruangannya, karena di kantor ini hanya Jeje yang paling dekat dengannya. "Mbak mau minum dulu gak?"
Kanaya tidak bergeming. Gadis itu masih mencoba memutar balik otaknya, memikirkan bagaimana caranya agar Ibu Negara tidak melihat Flora, Flo masih tetap dalam pengawasannya, Kanaya tetap hidup dan bernyawa serta Pak Damar Gila yang sialnya ganteng itu bisa segera sampai di kantor tepat waktu sebelum Ibunya datang.
"Ibu Kanaya Bu Negara sudah sampai dan ingin segera bertemu," suara dari telepon yang sekarang terdengar di ruangan itu membuat Kanaya menelan ludahnya susah.
Gadis itu menghela napasnya. Menatap Jeje sekilas. Tangannya menggenggam tangan Jeje seakan meminta kekuatan. "Je, kamu tolong bantuin aku jagain Flo sebentar ya. Bentar aja ... please," ucap Kanaya memelas.
Jantung Kanaya semakin memompa cepat. Wajahnya juga terlihat memucat dan itu membuat Jenar, resepsionis yang biasa dipanggil Jeje oleh orang kantornya itu tidak kuasa untuk menolak permintaan berisiko sekertaris bosnya ini.
"Please, Je. Nanti kalau situasinya gak baik aku akan kabarin kamu. Sebisa mungkin aku akan buat Bu Negara gak sadar dan gak masuk ke ruangan ini."
Jeje menggangguk ragu.
"Ibu Kanaya sekali lagi Ibu Negara sudah datang. Di harapkan segera turun ke lobi untuk menemui beliau, terima kasih."
****
Dalam keluarga Bagaskara tidak ada yang paling disegani selain Ibu Negara. Ibu dari ketiga putra makota keluarga Bagaskara itu terkenal tegas, disiplin, dan sangat teliti. Jika berhadapan dengan Ibu Negara, mungkin setetes keringat yang menetes di pelipismu saat bertemu pun akan dipertanyakannya sampai ke akar-akar karena beliau adalah orang yang sangat peka terhadap ketidakberesan.
Usut punya usut Ibu Negara itu dulu lahir dari keluarga militer, anak semata wayang seorang perwira dan bercita-cita ingin menjadi tentara seperti ayahnya. Namun, karena Ibu Negara memiliki penyakit bawaan lahir yang tidak bisa ditolerir, akhirnya gadis itu tidak bisa lulus walau sudah mencoba mencari celah dengan berbagai kemungkinan yang ada. Itulah mengapa dia menjadi wanita yang amat disegani.
Walaupum tidak jadi masuk ke dunia militer, tapi kehidupan wanita itu sangatlah tegas. Dia mencoba menerapkan kedisiplinan dimanapun dan kapanpun. Tidak ada yang berani membodoh-bodohi atau bahkan membohongi Ibu Negara, lebih tepatnya tidak ada yang berani dengan Ibu Negara. Kecuali, Pak Bagaskara suaminya yang terkenal sebagai lelaki yang teramat sabar.
Ting!
Denting lift seakan menyadarkan Kanaya dari lamunannya. Setiap tarikkan napasnya kini terasa penuh dengan beban. Ia berusaha memasang senyum terbaik yang dia bisa untuk menutupi kegugupannya. Namun, ia tidak bisa menjamin Bu Negara tidak mencium kejanggalan yang ada.
Saat melangkah ke luar lift, pandangan mata Kanaya langsung disambut oleh seorang wanita berumur lima puluh tahunan, berambut hitam yang mulai sedikit memutih disanggul ketat ke belakang. Wanita itu menggunakan kaca mata hitam, dengan lipstick merahnya yang mentereng dipadu dengan syal loreng yang melingkar di leher. Jangan kira jika berumur lima puluh tahunan dalam bayangan kalian akan ada wanita yang terlihat lemah dan sudah tidak kuasa melakukan hal-hal berat lainnya.
Tidak.
Tidak untuk Ibu Negara.
Seorang Negarawati Sukmanigsih Bagaskara, tidak seperti itu. Meski memasuki usia lima puluh, tubuhnya sangat bugar, tegap dan sehat. Ia terlihat hampir seperti wanita binaragawan yang beranjak menua dengan kulit-kulitnya masih melekat kencang dan tubuh yang sehat dan terbebas dari lemak-lemak. Hampir tidak ada bagian dari tubuhnya yang terlihat mengkeriput atau bahkan menggelambir. Tidak seperti Kanaya yang badannya hanya dibawa ke tempat kerja untuk merodi dan pulang ke rumah, Kanaya benar-benar tidak ada apa-apanya.
"Kanaya," panggil wanita itu dengan pelan, tapi mampu membuat bulu kuduk Kanaya merinding ngeri. Senyum simpul muncul dari bibir berpoles lipstick merah itu dan membuat Kanaya menunduk perlahan. "Terlambat 2 menit 31 detik dari kedatangan saya. Ada yang ingin kamu jelaskan?"
Kedisiplinan sialan.
Gadis itu berdeham pelan. Mencoba menetralkan debar jantungnya yang sekarang bergejolak cepat. "Saya harus membereskan beberapa pekerjaan Pak Damar terlebih dahulu, Bu."
Bu Negara tidak langsung menjawab. Wanita itu terdiam, seperti sedang mencoba mengendus kebohongan dalam perkataan Kanaya. Apalagi Kanaya tidak menjawab pertanyaannya dengan mulus. Ada nada gugup di bagian awal yang Kanaya yakin tidak luput dari pendengaran Ibu Negara yang masih berfungsi baik. Wanita itu membuka kacamatanya dan menatap Kanaya dari atas sampai bawah. Tatapannya penuh penilaian, amat lekat dan teliti. Kedua alis wanita itu taut dan muncul serngitan meragukan di wajahnya.
"Kanaya ... bawa saya ke ruangan Damar, sekarang."
TBC
Buat yang kangen Pak Damar harap bersabar yaa 😂
Pak Damarnya diliburkan dulu buat chapter ini 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Us
ChickLitGanteng, mapan, dan lajang. Mungkin kalau Kana gak kenal udah kelepek-kelepek kali dia ngeliat bos gantengnya ini. Siapa juga yang bisa nolak tipe cowok suamiable seperti Damar Bagaskara? Mungkin gak ada. Tapi bagi Kana yang udah kenal lama Bos gant...
