....
"Akan kuganti pertanyaanku. Kau itu sebenarnya apa?"
Wonwoo mengatupkan bibirnya. Ia bisa merasakan kedua tangannya mulai mati rasa. Bukan karena posisi tubuh mereka yang jelas membuat salah paham setiap manusia yang melihatnya melainkan ia panik sekaligus takut. Takut akan sesuatu yang bahkan ia tak bisa pahami sendiri.
Setelah 10 menit berlalu dan tak ada tanda kalau Mingyu mulai menyerah untuk mendesaknya dalam diam, Wonwoo pun akhirnya membuka mulut meski terpaksa, "Hei, kau janji kan tidak akan marah kalau..aku berkata yang sebenarnya?"
"Memangnya aku pernah marah padamu?"
"Bukan itu maksudku―"
"Lalu apa? Kau terlalu mengkhawatirkanku, padahal kau sendiri lebih membuat khawatir"
Hening sejenak.
"Baiklah. Tapi pertama-tama, bisa kita hentikan berposisi seperti ini?"
"Ada jaminan kau tidak akan kabur setelah aku lepas?"
Wonwoo mengernyitkan dahinya. "Sial, Kim Mingyu, kakimu lebih panjang dariku. Menurutmu sajalah. Lagipula untuk apa aku kabur"
Mingyu terkekeh sambil beranjak dari posisinya dan duduk di samping ranjangnya diikuti Wonwoo yang segera duduk di hadapannya. "Jadi, bisa jelaskan semuanya?"
Pemuda bermata tajam itu menghela napas dan berkata, "Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi inilah kenyataannya"
"Yah, baiklah. Silahkan lanjutkan"
"Intinya, aku bohong padamu dengan berkata kalau aku punya masalah di rumah dan aku kabur. Sebenarnya...kau tidak sedang berbicara dengan 'Jeon Wonwoo' saat ini dan sebelum-sebelumnya"
"Apa maksudmu? Aku bicara dengan kembaran Jeon Wonwoo sekarang?"
"....lebih rumit"
"Seperti? Ayolah bilang saja―"
"Kau bicara dengan roh. Roh Jeon Wonwoo"
Sejenak yang terdengar di kamar itu hanyalah suara angin yang masih berhembus dan menggetarkan kaca jendela serta bunyi hujan yang menghantam benda mati apapun diluar sana.
"....oh"
Wonwoo melempar ekspresi kesal pada Mingyu, merasa tidak puas akan reaksi yang diberikan oleh pemuda tersebut.
"Apaan, kupikir kau bakal kaget lalu kabur atau apalah" gerutu pemuda bermata tajam tersebut.
"Ani, ani. Hanya saja..bagaimana ya..aku sudah menduganya jauh sebelum kau sadar" ujar Mingyu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eum, tapi aku tetap saja kaget saat kau bilang hehe"
"Kenapa kau tidak bilang saja kalau sudah sadar?"
"Entahlah, aku hanya ingin kau bilang sendiri meski kupikir kau harus kudesak terlebih dahulu"
"..darimana kau bisa sadar?"
"Um, aku mulai curiga setelah kau bilang seminggu tidak pulang tapi kau tidak nampak kelaparan sama sekali padahal kau bilang sendiri kan kau tidak bawa apa-apa bersamamu"
"Lalu?"
"Tatapan orang-orang disekitar saat kita di jalan ataupun di toko buku"
Wonwoo kembali melempar tatapan kesal kearah pemuda tersebut. "Jadi kau sengaja mengumpulkan bukti dengan membawaku keluar, begitu?"
"Mianhae"
"Tak bisa dipercaya". Wonwoo berdiri dan hendak berjalan keluar kamar namun gerakannya terhenti saat Mingyu memegang tangannya. "Tidak adil, tau. Aku hanya membohongimu sesaat tapi kau sebulan, hm?"
"Lagipula, situasimu saja sudah sulit, kan? Yang hanya bisa melihat dan kau sendiri percayai hanya aku seorang. Dan aku ingin menolongmu, Wonwoo-ya" lanjutnya. "Duduklah, dan ceritakan semuanya"
"...kau masih percaya padaku?"
"Biarpun kau berbohong lagi, aku akan tau kok"
Wonwoo pun akhirnya memilih untuk kembali duduk. "Oke, akan kuceritakan". Mingyu menatapnya dalam-dalam, sampai-sampai membuatnya tidak bisa fokus, jadinya ia pun sedikit menundukkan kepalanya.
"Waktu itu, kira-kira sebentar setelah kita bicara dan bertengkar untuk pertama kalinya, aku sampai di apartemen, tempat tinggalku. Karena masih kesal, aku tidak ingin masuk dulu malahan berdiri di balkon untuk mendinginkan wajahku. Entahlah, sepertinya aku melamun, tiba-tiba saja dari belakang, seperti ada yang mendorongku."
"Pagar balkon tidak terlalu tinggi, hanya sedikit dibawah pinggangku. Aku didorong begitu keras sampai aku sendiri kehilangan keseimbangan, lalu aku jatuh sampai ke lantai dasar apartemen."
"Saat aku membuka mata, yang terlihat pertama kali bukanlah wajah orang tuaku, melainkan wajah tidurku yang terbalut perban dan selang oksigen. Aku shock dan aku tidak tahan melihat wajah orang tuaku yang menanti penuh harap disampingku hampir setiap hari, jadi aku memutuskan untuk pergi saja. Tanpa arah dan tujuan tepatnya. Saat aku sudah putus asa, disitulah aku kembali bertemu denganmu"
Mingyu menatapnya dengan pandangan menerawang, seakan mendengar serangkaian kalimat yang bukan berasal dari dunia ini. "Lalu kenapa kau masih bisa menyentuh barang-barang?"
"Mungkin aku masih punya ikatan di dunia ini meski sedikit. Aku belum mati tapi juga tidak hidup" jawabnya.
"Jadi itu alasan kenapa tanganmu begitu dingin". Mingyu menganggukan kepalanya. "Aku selama ini menyentuh roh gentayangan rupanya"
"Tidak sopan menyebutku begitu" gerutu Wonwoo. "Batu nisanku bahkan belum ada. Kalau aku sampai benar-benar mati, kaulah yang pertama kugentayangi"
"Aigoo" tawa Mingyu. "Romantisnya, aku akan bersyukur seumur hidup bila kau mau bersusah payah menggentayangiku"
Wonwoo membalasnya dengan memukul kepala pemuda itu.
"Ah ya, apakah pelakunya sudah ketemu?" ucap Mingyu.
"Sepertinya belum. Yang terakhir kudengar dari pembicaraan ayahku, polisi sudah menanyai tetangga tapi tidak ada yang tau sama sekali"
"Oh begitu, kuharap pelakunya cepat tertangkap"jawab pemuda tersebut. "Dan, mianhae sudah berkata kau aneh. Yah tidak ada orang yang suka dikatai aneh"
"Gwenchana, mendengar cerita dari roh yang lepas dari tubuhnya sendiri jelas aneh" Wonwoo menggeleng singkat sebelum melanjutkan, "Aku juga mau minta maaf karena sudah lama membohongimu, dan rasanya tidak adil hanya kau sendiri yang minta maaf"
"Ne, gwenchana. Omong-omong, kau harus pergi sekolah sesekali sebelum otakmu membatu, Wonwoo-ya" ujar Mingyu sambil tertawa.
"Tidak mau. Aku lebih baik membaca disini. Ada kalanya aku bersyukur keadaanku begini, jadi aku tidak usah ke sekolah"
"Jangan begitu, lagipula kau lebih enak daripadaku, kan? Bisa pergi sesuka hati kalau bosan? Ayolah~ Aku juga ingin ditemani olehmu di kelas"
"Hm? Bukankah temanmu lebih banyak? Bahkan ada Seokmin"
"Kalau aku maunya bersamamu?"
"Haah" Wonwoo menggaruk lehernya. "Yasudah, terserah kau saja"
"Jinjja?!!" teriak Mingyu girang. "Aiishh, rasanya aku ingin memelukmu sekarang"
Tanpa diduga, Wonwoo merentangkan kedua tangannya seraya memalingkan muka. "Sekali saja"
Mingyu pun menghambur kearah pemuda itu dan memeluknya sampai keduanya terjatuh. "Aiishh, anak ini. Jangan himpit aku, Mingyu-ya!". Sementara yang diomeli hanya tertawa.
"Kalau begini, tubuhmu siapa tau jadi hangat, Wonwoo-ya~"
"Berisik"
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
under the roof
Fanfiction❝Biarpun detik ini aku menghilang dari hadapanmu dan kau tidak dapat melihat sosok-ku lagi..ingatlah aku akan selalu disana..didalam hati terdalam-mu, Mingyu❞
