At 16

3.8K 59 4
                                        

Aku tahu ini cukup gila.
Karena, yah, percaya atau tidak, hingga umurku yang nyaris keenambelas ini, ayah tak pernah memberiku izin untuk keluar dari rumah.
Hal itu terjadi, sejak umurku beranjak sepuluh tahun. Tidak masuk akal sama sekali. Setidaknya menurutku.
Dan naasnya sampai sekarang, aku tidak tahu apa alasan yang tersembunyi di balik itu semua.
Jadi saat malam mulai merebak hari, aku mendesah bosan di hadapan meja belajar. Arona, adikku satu-satunya, tampak mengawasi setiap pergerakan yang aku lakukan.
Kuakui dengan senang hati, itu menyebalkan.
“Well, adikku tersayang. Berhenti mengawasiku, dasar cerewet. Aku bukan anak kecil, dan kalau kau belum tahu, aku ini kakakmu. Selamanya akan begitu. Mengerti? Jadi berhentilah. Aku mulai mati kebosanan melihatmu ada di mana-mana.”
Aku mengambil napas panjang. Arona memutar bola matanya, sesuai dengan dugaan. Aku sudah hapal semua reaksinya setiap kali aku mengomel dengan kalimat yang sama.
“Aku tidak cerewet, Deral bodoh. Dan kalau kau mau tahu juga, aku bosan mengawasimu yang selalu berpindah-pindah posisi. Kau terus saja menghindariku. Itu menjengkelkan. Aku lelah harus memasang mata setiap saat hanya untuk sekadar menjalankan pesan Ayah. Cih. Asal kau tahu, ya, aku mulai berhenti menganggapmu sebagai kakak sejak tugas-teramat-menyebalkan ini dimulai.”
Jawaban Arona tak pernah berubah. Aku mendesah malas, bangkit dari tempat duduk di depan meja belajar yang juga sangat-sangat membosankan, lalu mengikutinya yang tengah menempatkan bokong dengan nyaman di sofa.
“Lalu kenapa kau tidak berhenti saja, Arona-ku sayang?” tanyaku dengan nada malas. Jam menunjuk pukul sepuluh malam lebih sekian-sekian. Aku tidak terlalu memerhatikan.
“Deral, kau itu sangat bodoh atau bagaimana, hm? Jelas-jelas aku akan sangat menyesal kalau diriku ini lalai sedikit saja. Ayah akan kembali ke rumah sekitar dua jam lagi. Dan setelahnya, kau dan aku, sama-sama bebas dari kebosanan mega besar ini. Masih perlu kujelaskan?” jawab gadis itu sama malasnya. Aku mengembus napas pendek, berusaha membuang kejengkelan.
“Aku akui, kau itu keras kepala. Sangat. Sialnya, hal itu berlaku hanya pada diriku.” Aku berujar sambil mulai membaringkan tubuh di sofa yang hangat.
“Terima kasih,” balasnya sarkastik.
Setelah itu hening.
Angin malam yang tenang membuatku tergoda untuk melangkahkan kaki ke luar. Malam terdengar sangat mengasyikan, begitu tenang dan tidak terburu-buru. Ini malam yang sempurna, andai saja aku tidak terkurung di sini.
Ck.
Hidup selama enam tahun penuh tanpa kebebasan sungguh membuatku muak. Selama itu, aku hanya belajar, belajar, dan belajar. Yah, tidak seekstrem itu juga. Tetapi intinya, sebagian besar hidupku sejak berumur sepuluh dihabiskan di depan meja belajar. Aku tidak belajar sendirian tentunya. Ayah menyewa guru privat, yang menurutku, tidak berpengalaman dalam belajar-mengajar sejak beberapa bulan yang lalu. Padahal waktu sebelum-sebelumnya, dia guru yang sangat berbakat.
Ugh, lihat betapa anehnya hidupku kemudian.
Ayah memerintahkan Arona memata-mataiku sejak tiga tahun yang lalu. Sejak itu pula, Ayah pergi meninggalkan rumah, dengan janji akan kembali ketika umurku tepat enam belas tahun.
Itu berita gembira, mengingat tanggal lahirku adalah hari ini. Kabar buruknya adalah, ada kata ‘tepat’ yang diselipkan pria itu sebelum kakinya melewati batas pintu rumah.
Yang berarti, aku masih harus menunggu.
Aku lahir pukul sebelas malam lebih empat puluh empat menit. Sedangkan jam masih berkutat pada angka sepuluh meski menitnya bertambah dari waktu ke waktu.
Ya Tuhan, menunggu itu sungguh membuatku tersiksa.
Kulirik Arona yang masih tetap mempertahankan posisi duduknya seperti tadi. Mata birunya yang tajam menatap celah-celah ventilasi yang mempertontonkan langit gelap bertabur bintang. Angin yang berembus beberapa kali membuat rambut pirang miliknya bergoyang mengikuti.
Tampak sadar kuamati, dia menoleh. Matanya menajam dan melempar kegarangan luar biasa. Aku mendecih. Arona adalah contoh dari sekian-sekian kesialan yang kualami. Terdengar kejam, tapi aku menganggapnya seperti itu.
Oke, biar kujelaskan sedikit mengenai saudariku satu-satunya.
Matanya biru gelap, memikat, dan sangat tajam. Tampaknya tadi aku sudah mendeskripsikan beberapa hal tentang itu. Jadi, seperti itu. Matanya terlalu indah, tidak cocok sedikit pun dengan wataknya yang keras—tampaknya ini hanya berlaku untukku saja.
Kulit Arona putih bersih, tentu saja. Tidak ada bintik merah ataupun freckless yang singgah di sana. Sebenarnya dia cantik. Tetapi sayangnya, karakter gadis aneh ini menutup fakta itu.
Well, badannya juga punya postur yang bagus.
Oh cukup, aku jadi geli karena mendeskripsikannya begitu baik. Kalau saja dia tahu, mungkin tawanya akan meledak, menyindirku sambil berkata, “Oh ya ampun, kau akhirnya sadar kalau aku ini memang mendekati sempurna, atau mungkin sudah melewati batas kesempurnaan. Deral idiot nan payah. Ke mana saja matamu selama ini? Ah ya ya, mungkin kau gengsi karena diam-diam naksir padaku? Sungguh idiot. Aku malu pernah tinggal di rahim yang pernah kautempati. Ck.”
Bahkan hanya membayangkannya saja sudah cukup membuatku bergidik.
“Hei, Deral.”
Tiba-tiba saja, Arona mamanggil namaku. Aku menoleh, mendapatinya tengah menatapku lamat-lamat.
“Apa?” balasku dengan tanya. Lalu entah kenapa hening. Arona tidak menjawab—atau mungkin belum.
“Oke, begini. Kautahu, kan, umurku berapa? Oh, mungkin kau tidak tahu karena otakmu itu teramat perlu diencerkan. Umurku lima belas. Dan di luar sana, banyak gadis-gadis sebayaku yang bersenang-senang, berkebalikan dengan diriku.” Arona menghela napas. Tetapi, sebelum melanjutkan kalimatnya, aku menyela lebih dulu.
“Entah, aku tidak tahu, tuh. Kau jahat sekali, Adik Kecil. Jadi menurutmu berdiam diri di rumah untuk menjagaku ttidak menyenangkan begitu, ya? Bisakah kau bayangkan betapa tidak menyenangkannya hidupku sejak umur sepuluh? Satu lagi sifat jelekmu padaku. Kau egois.”
Jari telunjukku mengarah pada hidungnya saat mengucapkan dua kata terakhir.
Kemudian sesuai dugaanku, gadis itu memutar bola mata kesal.
“Jangan potong ucapanku, Deral.”
Aku mengangguk-angguk. “Lanjutkan, aku tidak akan memotong lagi. Tapi kauperlu ingat itu. Kau egosi. Sangat.”
“Whatever. Aku tidak peduli. Ehm, kulanjutkan. Jadi kupikir, mungkin malam ini aku bisa keluar dari sini sebentar dan membuatmu tetap terkurung. Mungkin nanti, pukul sebelas lebih sekian-sekian menit, aku akan pergi. Sebentar. Kauharus tetap di sini sebelum pukul dua belas kurang enam belas menit—waktu kelahiranmu. Oke?” jelasnya panjang lebar. Aku berpikir sekitar dua atau tiga menit lamanya, kemudian mengangguk.
“Yeah, kupikir, tidak buruk juga. Toh sekarang,  hmm… sudah pukul sebelas lewat tujuh. Silakan bersenang-senang. Kuharap, kau dapat teman kencan, temang ngobrol, atau apapun yang sejenis. Aku tidak akan keluar dari rumah. Janji,” ucapku meyakinkan, meski sebenarnya, aku ragu bisa menahan hasrat untuk menghirup udara di bawah langit malam nan gemerlap.
Itu mampu meruntuhkan pertahanan dan kesabaran yang terkumpul dalam kurun enam tahun. Aku merutuk dalam hati.
“Baiklah. Sampai jumpa nanti.”
Arona bangkit dari sofa, membuka pintu, kemudian berucap sebelum tungkainya menyentuh lantai teras.
“Kuberitahu satu hal, Deral. Hidupmu bakal terancam kalau kau keluar dari tempat ini—dan juga memandang ke arah luar dengan pintu yang terbuka lebar—sebelum pukul sebelas empat empat. Mengerti?”
Dan dia meninggalkanku yang mengernyit.
Terancam katanya? Wow, itu konyol sekali.
Jauh lebih konyol dari membayangkan kalau aku naksir pada adikku sendiri.
Menit demi menit berlalu. Kulirik arloji digital di tangan kananku. Sudah lewat dua puluh empat menit dari pukul sebelas.
Dua puluh menit menunggu mungkin akan terasa sebentar.
Atau sebaliknya.
Aku mulai sekarat menanti. Jadi kuputuskan untuk berjalan ke arah pintu, membukanya sedikit, dan melihat pemandangan malam.
Sayangnya, hal itu tak berjalan mulus.
Saat celah pintu melebar, seseorang dari luar membukanya dengan teramat cepat. Tubuhku terdorong ke belakang. Belum sempat mengomel, sosok itu masuk.
Pupilku melebar. Wajahnya busuk. Bola matanya hancur, sedikit menggantung dari tempatnya. Lantas aku berdiri, berniat menjauh dengan berlari ke kamar.
Namun apa daya. Aku kalah cepat. Si wajah busuk itu—entah pria atau wanita—mencekik leherku dengan lengan kirinya yang sama hancurnya. Aku membeku.
Napasku sesak, dan semakin sempit karena dia memperdalam cekikannya. Lalu dengan jemari kirinya yang bebas, entah dari mana teracung pisau berkilat. Aku memejamkan mata. Napasku makin terasa payah saat ujung pisau yang tajam menempel di kulit leherku yang agak terbuka dari cekikan, dan mengoyaknya lambat-lambat.
Aku berteriak, tetapi suaraku tertahan dengan menyakitkan.
Aku berani bersumpah, koyakan pisau itu lebih perih dan panas dari apapun. Kuliku seolah terbakar dan dicincang sedemikian rupa.
Siapapun, tolong aku!
Embusan napasku menipis kala jemari milik sosok itu bergerak mengarahkan pisaunya menelusuri bagian leherku yang lain. Sakitnya makin mendera karena besi tajam itu melukainya dengan brutal. Lukanya melebar, dan darahku menetes teramat deras.
Kulihat makhluk itu menyunggingkan seringainya, memperlihatkan bibir robek dengan bau menguar. Jantungku menolak untuk bertahan, dan mataku terpejam perlahan-lahan.
Sebelum semuanya menggelap, kulirik jam dinding yang jarum detiknya terus bergerak.
Pukul sebelas empat-empat tepat.
Dan saat itu, aku tahu akan segalanya. Semuanya terungkap bersamaan dengan jiwaku yang pergi.
Ketika aku mati, umurku tepat enam belas tahun.
***

Penjelasan:
Si ‘aku’ itu cowok. Keliatan, kan, dari namanya? Deral kan ada kesan cowok-cowoknya gitu hehehe.
Arona nggak bener-bener pergi waktu itu.
Jadi, si sosok misterius itu perempuan. Dan nggak lain, adiknya Deral sendiri.
Alasan di balik dikurungnya Deral di dalem rumah itu karena ayahnya pergi buat menuhin janjinya ke iblis, yaitu jadi ‘pemangsa’ selama tiga tahun, demi anak-anaknya yang jadi inceran iblis itu. Syaratnya, Deral sama Arona nggak boleh keluar dari rumah sejak si ayah ninggalin rumah. Dan ternyata, si Arona pernah keluar dari rumah sejak itu. Buktinya dia tau kalo cewek-cewek seumurannya pada suka ngapain.
Arona keluar dari rumah pas umurnya lima belas, jadi belom lama dari hari lahirnya Deral. Kan selisih umur mereka cuman satu tahun. Nah gara-gara itu, Arona ikut jadi ‘pemangsa’ kayak ayahnya, soalnya yang udah jadi inceran iblis kalo keluar dari rumah bakal jadi kayak gitu.
Tapi dia enggak sadar. Karena kalo di rumah, jiwa ‘pemangsanya’ bakalan ilang. Tapi eh tapi, kan ‘pemangsa’ itu mukanya busuk gitu ya. Nah muka busuk ‘pemangsa’ bisa diliat sama orang yang pernah keluar dari rumah sejak umurnya sepuluh. Daaan, si guru privatnya Deral udah pasti dong lebih tua. Kalo si guru itu ngajar ke rumah mereka, tentunya keluar dari rumah dia sendiri gitu kan? Jadi, si guru ini dibilang Deral nggak bakat ngajar gara-gara nggak fokus ngeliat muka busuknya si Arona.
Karena Deral belom pernah keluar dari rumah, so, Deral nggak bisa liat muka aslinya Arona.
Deral ngeliat keluar rumah juga pas Arona yang udah jadi ‘pemangsa’ ngebuka pintu lebar-lebar.

Written by: @aotsuki_ch

Kumpulan OneshootTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang