Sudah pukul tujuh lebih pagi hari ini. Sepanjang jalanan depan SMA Ye Ran sudah terlihat sepi. Kesibukan beberapa menit lalu sudah usai. Orang-orang sudah memulai kesibukan hariannya. Termasuk para siswa yang sudah berada di kelas masing-masing, kegiatan ajar-mengajar hampir dimulai.
Namun tampak dua lelaki masih berlari terengah-engah di sepanjang jalanan itu. Dari seragamnya terlihat jelas bahwa mereka murid SMA itu. Dan tentu saja menghitung jam masuk sudah di bunyikan beberapa menit lalu, di pastikan mereka terlambat.
Kini dua lelaki itu berada di depan gerbang sekolah yang masih terbuka, namun tampak lelaki paruh baya berbadan besar berwajah galak tengah menunggu mereka.
"Kau terlambat lagi Shinwoo! Sudah berapa kali kukatakan untuk tepat waktu, huh? Apa susahnya untuk tepat waktu? Dan kau Ik-Han, kenapa kau mengikuti kebiasaan jeleknya?" kata lelaki paruh baya itu galak.
"Maaf pak, tadi kami mengalami sedikit kecelakaan," jawab salah satu dari remaja itu yang berambut merah. Jelas sekali dia berbohong, toh mereka masih bisa berlari.
"Alasan, huh? Kaupikir aku akan percaya? Akui saja kau kesiangan Shinwoo! Itu sudah jadi tabiatmu!" Kata lelaki paruh baya itu melipat tangannya.
"Tapi Pak, kami sudah berusaha untuk bangun pagi. Tolong maafkanlah kami!" Lelaki berambut merah yang dipanggil Shinwoo memelas. Teman berkacamata disampingnya yang tak lain bernama Ik-Han menatapnya tak terima. Pasalnya, yang bangun kesiangan itu hanya Shinwoo, ia berkali-kali berteriak membangunkan, tetapi Shinwoo baru bangun lima belas menit setelah ia bangunkan.
"Pak tolong biarkan kami masuk!" Kini Ik-Han ikut memohon. Ia sama sekali tidak suka dihukum.
"Kesiangan tetap kesiangan dan hukuman tetap hukuman!" tegas lelaki paruh baya itu.
"Hukuman kalian kali ini- "
"Permisi."
Sebuah suara sontak membuat Shinwoo dan Ik-han kaget. Tampak seorang gadis dengan rambut dan iris mata coklat tiba-tiba muncul dibelakang dua lelaki yang sibuk memohon itu. Shinwoo dan Ik-han membalik badan mereka, mengamati gadis asing itu dari atas ke bawah. Seragamnya memang Seragam khas SMA mereka, namun mereka belum pernah melihat gadis itu disekolah.
"Apakah benar ini SMA Ye Ran?" Tanya gadis bersurai coklat itu.
"Ya benar," jawab lelaki paruh baya itu. Gadis itu membuka gulungan kertas yang ia bawa dan menunjukannya pada mereka.
"Saya adalah murid pindahan baru disini, bisakah kalian membawaku menemui kepala sekolah?" tanya gadis itu. Memang benar di kertas itu terdapat pernyataan murid pindahan dan tanda tangan kepala sekolah mereka.
Lelaki paruh baya itu berpikir sejenak. Ia melirik dua siswa terlambat tadi, menghela nafas.
"Hei kalian berdua! Antarkan gadis ini ke ruang kepala sekolah!" Perintah lelaki paruh baya. Shinwoo dan Ik-Han tampak senang hukumannya dibatalkan. Belum selesai, lelaki paruh baya itu memegang pundak mereka berdua dengan 'sedikit tekanan'. Tampak aura intimidasi keluar dari lelaki paruh baya itu.
"Hanya kali ini saja, mengerti?" Bisikannya pelan namun menusuk membuat Shinwoo dan Ik-Han menelan ludah, merinding.
"Hei kau, ikuti dua siswa ini," kata lelaki paruh baya itu. Gadis itu hanya mengangguk. Dua siswa itu segera berjalan di buntuti gadis asing itu.
"Ini salahmu Shinwoo! Andai saja kau lebih pagi, kita tak akan dimarahi!" ucap Ik-Han saat berada di koridor.
"Mau bagaimana lagi, mataku tidak ingin di ajak kerja sama," ucap Shinwoo santai.
"Kalau kau tidak bangun lagi, dengan mudah aku akan meng-hack gamemu mengerti? Menurunkan high score bukanlah perkara yang sulit bagiku!" Ancam Ik-Han.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Moon Rose
FanficSMA Ye Ran kedatangan murid baru. Sang kepala sekolah, Frankenstein sama tidak menaruh curiga pada gadis itu. Namun beberapa hari setelah kedatangannya, terjadi penyerangan berantai terhadap murid-murid SMA. Korban semakin banyak berjatuhan, memaksa...
